IMF Umumkan 2 Skenario Efek Perang AS-Iran, Dunia Terancam Resesi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan dua skenario mengenai dampak perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Konselor ekonomi IMF, Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan, dua skenario tersebut menggunakan basis model yang mengasumsikan konflik berlangsung lebih lama atau meluas.
Berdasarkan laporan World Economic Forum edisi April 2026, menggunakan basis harga minyak. Dalam skenario buruk, harga minyak meningkat 80% mulai kuartal II-2026 dibandingkan baseline Januari 2026. Harga minyak tersebut diproyeksikan dengan rata-rata indeks harga spot minyak sekitar US$ 100 per barel pada 2026 dan US$ 75 pada 2027.
Di sisi lain, harga gas meningkat untuk Eropa dan Asia sebesar 160% pada kuartal II-2026 dibandingkan baseline. Sebagian besar harga gas diproyeksikan normal pada 2027. Sementara itu, harga komoditas pangan naik 2,5%.
IMF mengekspektasikan inflasi satu tahun ke depan meningkat hingga 50 basis poin (bps) pada 2027 di negara maju dan 90 bps di negara berkembang, tak termasuk China.
Dengan skenario buruk, pertumbuhan global diperkirakan akan turun 0,8 poin persentase pada 2026 menjadi 2,5%. Pada 2027, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan turun 0,2 poin menjadi 3%.
Sementara itu, inflasi naik 1,5 poin menjadi 5,4% pada 2026 dan 0,4 poin menjadi 3,9% pada 2027. Sebagian besar dampak berasal dari kenaikan harga energi.
Baca Juga
IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% di Tengah Krisis Energi Global
Skenario Terburuk
Yang kedua yang dibuat IMF mengasumsikan skenario terburuk. Guncangan harga komoditas, menurut IMF, akan melonjak 100% mulai kuartal II-2026 dibandingkan baseline Januari 2026. Lonjakan harga minyak mentah akan bertahan pada 2027 dan mereda pada 2028.
Rata-rata harga minyak mentah sekitar US$ 110 per barel pada 2026 dan US$ 125 per barel pada 2027. Sementara itu, harga gas di Eropa dan Asia meningkat 200% dengan harga komoditas pangan naik 5% pada 2026 dan 10% pada 2027.
Ekspektasi inflasi satu tahun ke depan meningkat 100 bps di negara maju dan 130 bps di negara berkembang, tak termasuk China.
Dalam skenario ini, pertumbuhan global turun 1,3 poin persentase pada 2026 mendekati ambang resesi global di bawah 2%. Sejak 1980, kondisi ini hanya terjadi empat kali, termasuk saat krisis keuangan global dan pandemi Covid-19. Pada 2027, pertumbuhan tetap rendah yaitu 2,2%.
Inflasi diproyeksikan naik 190 basis poin pada 2026 menjadi 5,8% dan 260 basis poin pada 2027 menjadi 6,1%.
Dengan skenario tersebut, dunia terancam menghadapi resesi.
Baca Juga
IMF : Perang Iran Pukul Ekonomi G7, Inggris Terdampak Paling Parah

