Ada Apa dengan Arsenal? Dominan di Awal Musim, Loyo di Momen Penentuan
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Hasil imbang 1-1 di markas Brentford terasa lebih dari sekadar kehilangan dua poin bagi Arsenal. Di fase seperti ini, klasemen tidak lagi berdiri sendiri karena dia ditemani sejarah, pengalaman, dan memori kegagalan yang belum sepenuhnya hilang.
Secara matematika, tim asuhan Mikel Arteta masih berada di posisi terbaik. Mereka memimpin liga dengan hanya tiga kekalahan sepanjang musim.
Namun, di belakang mereka ada Manchester City, tim yang dalam beberapa tahun terakhir berulang kali membuktikan perburuan gelar bukan dimenangkan di puncak klasemen pada Februari, melainkan di garis finish saat Mei berakhir. Era Pep Guardiola telah mengubah selisih poin menjadi sekadar ilusi kenyamanan.
Baca Juga
Arsenal Tertahan Brentford, Declan Rice Minta Skuad Fokus ke Depan
Konteks itu yang membuat laga Arsenal di kandang Brentord, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, terasa mahal. Andaikan menang, Arsenal bisa menciptakan jarak enam poin dan berpotensi menjadi sembilan sebelum Manchester City bermain. Bukannya menciptakan tekanan, mereka justru mengundangnya kembali.
Mikel Arteta memilih tidak larut dalam narasi tersebut. Baginya, musim ditentukan oleh kebiasaan kecil, yaitu memenangi pertandingan berikutnya, bukan menghitung kemungkinan. “Kami harus fokus pada apa yang bisa kami lakukan dan meningkatkan level permainan setiap pekan,” ujarnya, dilansir BBC Sport.
Nada yang sama datang dari Declan Rice. Dia menyebut musim ini seperti rollercoaste, bukan karena performa Arsenal buruk, melainkan karena persaingan menuntut stabilitas emosi. “Kami menghadapi tim terbaik setiap minggu. Kami harus percaya diri dan menutup kebisingan dari luar. Grup ini tenang,” katanya.
Ketegangan itu makin terasa karena Arsenal bermain tanpa William Saliba, pasangan ideal Gabriel Magalhaes di lini belakang yang menjadi fondasi pertahanan terbaik mereka musim ini. Absennya Kai Havertz serta rotasi yang menghadirkan Viktor Gyokeres dan Piero Hincapie sejak awal juga membuat ritme permainan tak sehalus biasanya, dan statistik memang menunjukkan Arsenal jarang nyaman saat terlalu banyak perubahan starter.
Dengan 12 laga tersisa, perburuan gelar kini bergerak dari persoalan taktik menuju persoalan ingatan. Arsenal tidak sedang dikejar angka, melainkan bayangan musim-musim sebelumnya. Bedanya, kali ini mereka masih di depan.
Baca Juga
FA Beberkan Alasan Perpanjang Kontrak Thomas Tuchel Hingga Euro 2028

