Hati-hati, AI Berisiko Timbulkan 'Shortcut Thinking'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di lingkungan kerja terus meningkat, dari penyusunan laporan, analisis data, hingga percepatan produksi konten. Di balik itu, penggunaan AI ternyata berisiko menimbulkan kebiasaan berpikir secara instan atau pola pikir jalan pintas (shortcut thinking).
Head of Corporate Communications Allianz Indonesia, Wahyuni Murtiani mengungkapkan, AI membawa efisiensi yang nyata. Hal itu tecermin pada hasil survei penggunaan AI di tempat kerja yang menunjukkan bahwa 27% pekerja mampu menghemat lebih dari sembilan jam kerja per minggu karena memanfaatkan AI.
Meski begitu, menurut Wahyuni, penggunaan AI tetap menyimpan risiko. Ketika AI semakin mudah diakses, ada kecenderungan teknologi itu digunakan sebagai jalan pintas tanpa benar-benar memikirkan arah. Hal itu akan membentuk shortcut thinking alias pola pikir jalan pintas.
Baca Juga
Bos LPPI Ingatkan AI Bak 'Pedang Bermata Dua' bagi Industri Keuangan
“Ini menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa cepat pekerjaan selesai, melainkan dari seberapa tepat keputusan diambil dan seberapa kuat fondasi berpikir di baliknya,” ujar Wahyuni Murtiani dalam keterangan pers, Jumat (30/1/2026).
Jika dibiarkan, kata Wahyuni, budaya shortcut thinking justru akan berisiko menurunkan kualitas analisis dan pengambilan keputusan.
Setali tiga uang, AI Implementation Consultant, Abi Mangku Nagari menilai bahwa tantangan utama dalam adopsi AI di dunia kerja saat ini bukan terletak pada teknologinya.
Baca Juga
OJK Ingatkan Perbankan: Gagal Adopsi Tren AI, Laba Berisiko Ambles 9%
”Tetapi pada mindset penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa tanggung jawab justru bisa menurun,” kata dia.
Menurut Abi, AI dalam praktiknya akan memberikan dampak paling optimal ketika diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai auto pilot yang mengambil alih kendali.
“AI sering dianggap pintar karena jawabannya cepat. Padahal, nilai sebenarnya muncul ketika pekerja memberi cara membingkai masalah, menguji output, dan mengambil keputusan secara sadar,” ucap dia.

