Ketum PBSI Bicara Problem Atlet Bulutangkis Wanita: ‘Size does Matter’
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia Komjen Polisi Fadil Imran mengemukakan alasan mengapa dalam beberapa dekade terakhir setelah Susi Suanti merajai olah raga ‘tepok bulu’ global, Indonesia belum lagi mampu mengisi podium tertinggi di kelas atlet wanita.
“Kuncinya menurut saya adalah postur. Selama ini kita sulit sekali mendapatkan atlet-atlet bulu tangkis wanita yang memiliki postur badan yang ideal, yang tinggi. Coba lihat Opatniputh (Pitchamon Opatniputh, asal Thailand, red), tingginya saja 170 cm. Itu menurut saya ideal untuk pebulu tangkis wanita saat ini,” kata Fadil Iman saat media gathering bersama awak media dan Forum Pemred di Istora Senayan, Jakarta, di sela gelaran Daihatsu Indonesia Masters 2026, Sabtu (24/1/2026). Secara tidak langsung Komjen Fadil menyebut size does matter buat pebulu tangkis wanita di Indonesia. Postur sangat menentukan.
Dikatakan pria yang pernah menjabat sebagai mantan Kapolda Metro Jaya ini, sejatinya PBSI tak kurang mendapatkan pasokan atlet wanita dari sejumlah klub bulu tangkis yang ada di Tanah Air. Namun sayangnya para atlet binaan berprestasi tersebut nyaris tidak ada yang memiliki postur tinggi, untuk bisa mengimbangi para pemain dunia lainnya yang sebagian besar berpostur tinggi.
“Bisa bayangin kalau mereka ketemu sama Opatniputh, yang tingginya saja sudah 170 cm. Berpengaruh sekali postur badan atlet yang tinggi (untuk bertanding) sekarang,” ujar Fadil. “Jadi bisa dipahami, mengapa atlet bulu tangkis wanita kita sulit sekali menembus peringkat tinggi dunia,” imbuhnya.
Sekadar informasi mengenai Pitchamon Opatniputh asal Thailand yang disebutkan Fadil Imran, ia adalah atlet kelahiran 4 Januari 2007 juara Girls’ Singles BWF World Junior Championships tahun 2023 di Spokane, Amerika Serikat,yang menjadi penanda dirinya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan dunia saat itu. Opatniputh juga menjadi juara di Malaysia Super 100 di tahun yang sama, sebagai salah satu gelar level senior pertamanya. Terbaru ia menjuarai Baoji China Masters 2025 (Super 100), mengalahkan pemain tuan rumah di final.
Baca Juga
Bulutangkis Indonesia Bertumbangan di Olimpiade Paris 2024, PBSI Beri Evaluasi
Sulitnya regenerasi atlet
Kembali berbicara soal bulu tangkis, Fadil mengemukakan PBSI saat ini tengah fokus menjalankan regenerasi atlet, sehingga atlet yang tak mampu berpretasi dalam kurun waktu tertentu, dipastikan akan didegradasi dan berikutnya memberikan kesempatan pada talenta-talenta lainnya. “Malah kalau bisa periode evaluasinya bisa dipercepat, gak sampai setahun. Bisa 3 bulan, atau 6 bulan gitu. Kalau tak berprestasi ya ‘degra’ (didegradasi),” kata Fadil.
Namun demikian ia sendiri mengakui, regenerasi atlet saat ini bukanlah hal yang gampang dilakukan. “Coba bayangin, anaknya Susi Susanti dan Alan Budikusuma (sesama peraih medali emas olimpiade, red). Kurang apa coba. Tapi anaknya nggak ada yang mau jadi atlet bulu tangkis. Anaknya Taufik Hidayat (wakil menteri pemuda dan olahraga yang juga peraih medali emas bulu tangkis di olimpiade, red) juga begitu, gak mau jadi atlet,” kata Fadil.
Perihal sulitnya regenerasi atlet menurut Fadil salah satunya adalah kecenderungan Gen Z yang cenderung memilih jenis olahraga yang menawarkan aktualisasi diri dengan mudah dan lebih diminati masyarakat. “Gen Z dan Gen Alpha cenderung menyukai aktivitas yang ‘únstructured’ dan informal. Temuan ini menjadi tantangan bagi federasi untuk mempertahankan ‘kegandrungan’ publik pada bulu tangkis,” ujar Fadil.
Ada faktor lain yang membuat sulitnya regenerasi atlet bulu tangkis. Disampaikan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI Eng Hian, banyak orang tua atlet binaan yang tak terlalu mendukung jika anaknya 100% fokus pada olah raga bulu tangkis. “Alasannya masa depan di olah raga bulu tangkis dianggap belum bisa memberikan kepastian. Sehingga para orang tua sulit melepas anaknya 100% di bulu tangkis,” kata Eng Hian.
Dana pembinaan terbatas
Masih dalam kesempatan yang sama sembari menunggu waktu pertandingan atlet Indonesia Alwi Farhan melawan Chi Yu Jen dari Taiwan dalam babak semi final tunggal putra, dan pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu yang akan menghadapi Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark), Fadil sempat ‘curcol’ atau menyampaikan keluhannya mengenai terbatasnya dana pembinaan di PBSI.
Baca Juga
Menpora Dito Ariotedjo Minta PBSI Susun Roadmap Menuju Olimpiade Los Angeles 2028
“Dana yang kita miliki dan kita gunakan untuk pembinaan itu hanya 20% dari total kebutuhan sebesar Rp 250 miliar setahun. Hanya 20% yang diberikan pemerintah. Namun kami tetap berjuang dengan segala keterbatasan yang ada,” tutur Fadil.
Ketika ditanya sejumlah jurnalis dari mana asal dana yang bisa membuat PBSI mampu menggelar acara-acara kompetisi besar seperti Indonesia Masters 2026, Fadil menjawab dengan cara menunjuk sejumlah nama sponsor yang tertera di jersey yang dia kenakan. “Ya dari sini,”ujarnya seraya menunjuk nama-nama brand bank pelat merah, perusahaan manufaktur otomotif dan perusahaan produsen kopi kemasan nasional.
Dengan keterbatasan pendanaan untuk pembinaan, ia berharap korporat-korporat besar berkenan untuk berinisiatif ikut memberikan pembinaan terhadap atlet-atlet muda bulutangkis berbakat, layaknya yang sudah dilakukan Grup Djarum.
Pembinaan atlet yang saat ini lebih dititikberatkan pada pemerintah lewat Pelatnas PBSI, menurut Fadil tak akan mampu menjaring begitu banyak talenta berbakat yang tersebar di Tanah Air. Menurutnya, dominasi pembinaan oleh pemerintah saat ini, yang membedakan gaya pembinaan terhadap atlet di era Orde Baru.
“Dulu pemerintah langsung menunjuk korporat-korporat agar melakukan pembinaan cabang olahraga. Itu sempat membudaya sehingga kita tak kekurangan bakat-bakat lokal,” ujarnya.

