Raup Cuan Nyaris US$ 1 Miliar, Oppenheimer Kini Rajai Piala Oscar 2024
JAKARTA, investortrust.id - Academy Award ke-96 atau Piala Oscar 2024 baru saja digelar di Dolby Theater, Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Film besutan sutradara Christopher Nolan, Oppenheimer merajai Piala Oscar 2024 dengan memborong tujuh piala dari 13 nominasi.
Oppenheimer meraih Piala Oscar 2024 kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pria Terbaik, Aktor Pria Pendukung Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penyuntingan Film Terbaik, dan Suara Latar Asli Terbaik.
Film yang bercerita mengenai sosok pencipta bom atom di Manhattan Project, Robert Oppenheimer itu melanjutkan kesuksesannya. Berdasarkan catatan Fortune, pembuatan film Oppenheimer diperkirakan menghabiskan biaya sebesar US$ 100 juta atau setara Rp 1,55 triliun. Dengan anggaran itu, Oppenheimer meraup cuan atau keuntungan kotor nyaris US$ 1 miliar, tepatnya US$ 957 juta atau jika dikonversi sekitar Rp 14,87 triliun (US$ 1 = Rp 15.543)
Baca Juga
Keuntungan yang diraup Oppenheimer itu mengalahkan sejumlah film dengan biaya pembuatan yang lebih besar seperti Killers of the Flower Moon (biaya pembuatan US$ 200 juta) dan Barbie (US$ 145 juta).
Sementara itu, dua nominator film terbaik Piala Oscar 2024 lainnya menghabiskan biaya produksi di bawah US$ 15 juta, yaitu Anatomy of Fall (US$ 6,2 juta) dan Past Live (US$ 12 juta).
Dalam paparan Axios, film dengan biaya besar tak selalu meraih Piala Oscar. Pada 2023 misalnya, film besutan rumah produksi A24, Everything Everywhere All at Once, memborong tujuh Piala Oscar 2023 dengan anggaran produksi sebesar US$ 25 juta. Film yang dibintangi Michelle Yeoh dan Ke Huy Quan tersebut mengalahkan film berbiaya besar, Avatar: The Way of Water yang menghabiskan uang sebesar US$ 350 juta.
“Hanya 10% nominasi dengan biaya lebih dari US$ 200 juta yang memenangi Oscar, termasuk Titanic (dibuat 1997)” tulis Axios.
Dalam artikel berjudul Why Movie Cost So Much to Make, Annie Mueller dari Investopedia menyebut biaya film dapat dicacah dalam beberapa kategori. Pengembangan naskah dan cerita memerlukan biaya sekitar 5% dari total anggaran. Selain itu, ada biaya perizinan, gaji para aktor dan aktris, produser, dan sutradara.
Kemudian ada biaya produksi aktual, yang mencakup gaji seluruh orang yang dibutuhkan agar produksi dapat terlaksana. Biaya produksi memakan sebagian besar anggaran, yakni sekitar 25% dari total anggaran.
Baca Juga
Dukung Industri Film Indonesia, Cinema XXI Bakal Tambah 100 Layar
Produksi bukanlah akhir dari cerita. Efek digital, tergantung pada jenis filmnya, bisa memakan biaya yang sangat besar, dan musik juga harus dibuat. Kemudian, ketika keseluruhan film telah dibuat dan siap ditayangkan, perlu juga merogoh kocek untuk pemasaran dan distribusi.
Jika sebuah film menghabiskan biaya produksi sebesar $100 juta dan menghasilkan pendapatan kotor sebesar $130 juta, film tersebut mendapat keuntungan sebesar $30 juta. Kecuali jika terdapat pengeluaran sebesar $50 juta untuk pemasaran dan distribusi, dalam hal ini keuntungan tersebut berubah menjadi negatif $20 juta pada film tersebut.

