Jumlah Penonton “AADC” Gak Ada Apa-apanya Dibanding “Jumbo”
JAKARTA, Investortrust.id – Jika Anda bertanya secara acak pada banyak penikmat film nasional mengenai judul film apa yang paling favorit mereka tonton, tampaknya film “Ada Apa dengan Cinta” (AADC) akan menjadi salah satu judul yang paling banyak disebut.
Film garapan sutradara Rudi Soedjarwo pada tahun 2002 dan makin melambungkan nama tiga pemerannya, yakni Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo dan Titie Kamal ini memang dinilai sebagai sebuah terobosan dalam pengembangan industri film nasional.
Film ini diracik dengan cerita romansa, namun penuh dengan bobot dan pesan tentang kehidupan remaja terkini, hingga sisipan bermutu mengenai seni prosa Tanah Air. Sehingga tak ayal begitu film ini ditayangkan di banyak bioskop nasional dan menjadi Box Office, ikut mendorong publik kembali berburu buku-buku puisi karya penulis di era kemerdekaan, utamanya Chairil Anwar.
Tapi tahukah Anda jumlah penonton AADC di bioskop saat itu hanya mencapai angka 2,7 juta penonton. Dan film ini hanya mampu mencatatkan diri sebagai film terlaris di urutan ke 34.
Jumlah penonton AADC pun ternyata tidak ada apa-apanya dibanding film animasi fantasi karya sutradara Ryan Adriandhy. Film petualangan fantasi animasi Indonesia berjudul “Jumbo” produksi Visinema Studios bersama Springboard dan Anami Films terus mencatatkan peningkatan jumlah penonton, dan bahkan kini menembus angka 4 juta!
Disampaikan Ryan Adriandhy, sang sutradara, jumlah penonton yang awalnya diharapkan bisa mencapai jumlah 3 juta penonton, ternyata mampu menembus proyeksi. Dan pada Selasa (15/4/2025), film yang ditayangkan perdana bertepatan pada Hari Raya Idulfitri 2025 pada 31 Maret lalu, telah mencatatkan jumlah penonton hingga 3.824.527 penonton.
“Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Bismillahirahmaanirahiim. Insyaallah sebentar lagi rajin open mic. Terima kasih semuanya. 3.824.527 penonton. Terima kasih untuk cintanya di hari ke-16!” ujar Ryan lewat akun X @adriandhy pada Rabu (16/4/2025).
Bahkan pada hari berikutnya pada Rabu sore hari Visinema Studios lewat akun X @VisinemaID menyebutkan jumlah penonton “Jumbo” telah melampaui angka 4 juta pada Rabu (16/4/2025).
Baca Juga
Menekraf Dukung Peningkatkan Ekosistem Perfilman dan Periklanan
“Lebih dari 4.000.000 orang telah menjadi bagian perjalanan GENG JUMBO. Masih nggak percaya, dan yang pasti, sangat bersyukur. Terima kasih sejumbo-jumbonya untuk semua penonton di seluruh Indonesia. Dari anak-anak yang tertawa dan bersorak bareng JUMBO, sampai orang dewasa yang diam-diam meneteskan airm mata di kursi bioskop. Kalian semua adalah bagian dari kisah ini,” demikian pernyataan dari Visinema Studios.
Film “Jumbo” memang mendapatkan perhatian khusus oleh publik. Pasalnya kali ini Indonesia mampu menunjukkan kemampuannya membuat film animasi dengan skala yang apik. Sekadar informasi saja, membuat film animasi adalah proses yang kompleks dan memerlukan kolaborasi berbagai tim dengan keahlian khusus. Tingkat kesulitan bisa sangat bervariasi tergantung pada gaya animasi, skala proyek, dan teknologi yang digunakan.
Nah film “Jumbo” ini sejatinya merupakan proyek ambisius yang melibatkan kolaborasi besar dan teknologi canggih dalam proses produksinya. Proses produksinya saja melibatkan lebih dari 200 kreator dari 21 studio animasi lokal, termasuk Afterab, Ayena Studio, Caravan Studio, HawQ Studio, dan Dipadira Studio. Koordinasi lintas studio ini memerlukan sistem manajemen proyek yang solid dan pipeline produksi digital yang terintegrasi untuk memastikan konsistensi kualitas dan efisiensi kerja.
LEBIH DARI 4.000.000 ORANG TELAH MENJADI BAGIAN PERJALANAN GENG JUMBO 🎉
— Film JUMBO sedang tayang di bioskop (@VisinemaID) April 16, 2025
Masih nggak percaya, dan yang pasti, sangat bersyukur.
Terima kasih sejumbo-jumbonya untuk semua penonton di seluruh Indonesia. Dari anak-anak yang tertawa dan bersorak bareng JUMBO, sampai orang dewasa… pic.twitter.com/U1AZWA9clB
Dalam proses produksinya, tim menghadapi tantangan terkait penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Meskipun detail spesifik mengenai implementasi AI tidak dijelaskan secara rinci, disebutkan bahwa proyek ini menghadapi tantangan teknologi AI.
Berikutnya proyek film “Jumbo” ini juga memerlukan waktu produksi selama lima tahun, dimulai pada April 2020. Durasi ini mencerminkan kompleksitas dan dedikasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan film animasi berkualitas tinggi.
Namun hasil kerja Ryan Adriandhy yang didukung oleh Visinema Studios bersama Springboard dan Anami Films ini mendapatkan apresiasi tingkat tinggi dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Dalam pernyataan resminya, Kemenparekraf lewat akun Instagramnya menyebut film Jumbo mencetak rekor baru menjadi film animasi Indonesia terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia.
“Pencapaian ini sekaligus bukti kebangkitan industri film animasi Indonesia yang berdaya saing global. Jerih payah kreasi 420+ kreator Indonesia pun terbayar dengan dukungan dari kalian, para pecinta film animasi,” demikian Kemenparekraf di akun instagramnya.
Sementara itu pada saat peluncurannya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Teuku Riefky Harsya, menyatakan dukungannya terhadap peluncuran film animasi karya anak bangsa ini.
Dalam sambutannya, Menteri Teuku Riefky memberikan apresiasi kepada seluruh tim kreatif di balik film tersebut atas keberhasilan mereka dalam menciptakan animasi berkualitas tinggi. "Saya merasa sangat bangga terhadap hasil karya para kreator film animasi Indonesia," ujar Riefky saat konferensi pers yang berlangsung di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Hebat, Jumlah Penonton Film Animasi Fantasi Karya Anak Bangsa “Jumbo” Tembus 4 Juta Orang
Ia juga mengungkapkan keyakinannya bahwa industri film animasi tanah air memiliki peluang besar untuk menjadi produk unggulan ekspor Indonesia. "Kami yakin film animasi buatan Indonesia mampu menjadi komoditas ekspor andalan yang turut mengharumkan nama bangsa di tingkat global," ujarnya.
Kendati masih belum bisa disandingkan oleh sejumlah film-film lainnya yang mencapai jumlah penonton di atas 5 juta orang di bioskop, hadirnya “Jumbo” dianggap sebagai angin segar industri film animasi domestik yang selama ini lebih banyak diisi oleh produk-produk non domestik, khususnya asal Korea, Jepang, dan bahkan Malaysia. Tentu saja “Jumbo” masih harus dikembangkan lebih lanjut jika ingin mengalahkan pamor “Upin dan Ipin”, sebuah serial animasi asal Malaysia yang berkembang dalam bentuk film yang ditayangkan di bioskop.
Ada kabar gembira tentunya, bahwa “Jumbo” juga akan segera go global, karena bakal di tayangkan di sejumlah negara. Ryan Adriandhy sendiri menghapus postingannya di X, terkait sejumlah negara yang akan menjadi tempat penayangan film Jumbo.
Namun sempat beredar kabar di dunia maya, bahwa “Jumbo” bakal hadir di 17 negara termasuk Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Rusia, Ukraina, negara-negara Baltik, dan Asia Tengah.
“Film Jumbo direncanakan akan tayang di 17 negara, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Rusia, Ukraina, negara-negara Baltik, dan Asia Tengah. Langkah ini menunjukkan ambisi besar untuk memperkenalkan karya animasi Indonesia ke kancah global,” demikian cuitan dari akun @dumdum di X, yang tampaknya merupakan pesan yang sama yang pernah dicuitkan Ryan di X.
Sejumlah harapan mengemuka, agar anak-anak Indonesia bisa mendapatkan asupan lebih banyak film animasi yang ‘sehat’ dan sarat dengan pesan-pesan moral seperti yang telah disampaikan lewat “Jumbo”. Semoga.

