Waspada! Kurangnya Paparan Cahaya Alami dan Minimnya Aktivitas di Luar Ruangan Ancam Kesehatan Mata
JAKARTA, investortrust.id - Dokter Subspesialis Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics Dr. Hasiana Lumban Gaol, SpM menyatakan bahwa gangguan penglihatan pada anak umumnya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti kelahiran prematur, riwayat keluarga, riwayat kehamilan, trauma, dan nutrisi.
"Akan tetapi, dengan kemajuan zaman dan perubahan gaya hidup, anak-anak juga rentan terhadap faktor risiko lain yang dapat mengancam kesehatan mata, seperti penggunaan gawai berlebih serta kurangnya paparan cahaya alami dan minimnya aktivitas di luar ruangan," ujar Hasiana dalam acara Konferensi Pers Children’s Eye & Strabismus Center di RS Mata JEC @ Kedoya, Jakarta, Selasa (15/4/2025).
Indonesia menempati posisi kelima untuk negara dengan persalinan prematur terbanyak di dunia, yaitu sebanyak 657.700 kasus. Di mana, data dari 21 fasilitas kesehatan di Indonesia pada tahun 2010 menemukan 32 dari 216 bayi prematur mengalami retinopati prematuritas (ROP).
Baca Juga
Dukung IPM untuk SDM Menuju Indonesia Emas, JEC Hadirkan One Stop Service Kesehatan Mata Anak
Sementara, untuk kelainan refraksi, data International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) memperkirakan jumlah anak yang menyandang rabun jauh akan terus bertambah, dengan 165 juta pada 2021, dan akan mencapai 275 juta pada 2050. Di Indonesia, anak yang mengalami kelainan refraksi berjumlah 3,6 juta - dengan 35-40% merupakan anak usia sekolah.
Sedangkan untuk mata juling, prevalensi global strabismus diperkirakan sekitar 1,93%. Artinya, setidaknya 148 juta orang (termasuk anak-anak) di seluruh dunia menyandang strabismus.
Sejalan dengan hal itu, Hasiana membeberkan bahwa pemeriksaan dini rutin, termasuk evaluasi berkala per 6-12 bulan sekali pada anak usia sekolah, perlu dilaksanakan secara disiplin guna mengenali gangguan penglihatan sejak awal dan memberikan tata laksana yang sesuai.

