Candaan Kepala BGN Soal ‘Dalang’ Sulit Menangnya Timnas Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana buka suara tentang permasalahan gizi di Indonesia, khususnya keluarga miskin dan rentan miskin. Dia sempat menyinggung juga ‘dalang’ dibalik kekalahan Timnas Indonesia dalam beberapa kali pertandingan.
Mulanya, Dadan menyampaikan, penduduk Indonesia akan terus bertumbuh hingga 320 juta jiwa di 2045. Di mana, kelas masyarakat miskin dan rentan miskin cenderung memiliki rasio kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan kelas menengah ke atas.
“Pak Presiden gelisah, kalau kita tidak intervensi, kelompok ini (masyarakat miskin dan rentan miskin) 60% tidak pernah melihat menu dengan gizi seimbang. Kalau makan itu ada nasi, bala-bala (gorengan), mie atau bihun, kerupuk, kecap, semuanya karbohidrat. Itu sudah cukup bagi mereka bahagia, yang penting anaknya bisa hidup,” kata Dadan di acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Kementerian PU dengan Badan Gizi Nasional dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Sabtu (22/3/2025).
Dikatakan Kepala BGN, asupan gizi seimbang bagi anak di masa depan bisa mempengaruhi produktivitas anak tersebut. Apabila tidak diintervensi, dikhawatirkan akan menciptakan tenaga kerja berkualitas rendah. Ia pun berkelakar, mengaitkannya dengan kekalahan timnas Indonesia beberapa waktu lalu.
“Kita khawatir tenaga kerja produktif ini berkualitas rendah. Jadi, jangan heran kalau PSSI itu sulit menang karena main 90 menit berat. Kenapa? Karena gizinya tidak bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” canda Dadan.
Baca Juga
Sinergi PU-BGN Gandeng BUMN Karya Bangun Dapur MBG di 3 Wilayah Ini
Namun demikian, Dadan menuturkan, saat ini Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah lebih bagus performance-nya dengan adanya pemain naturalisasi dari beberapa negara, yang menurutnya punya gizi yang lebih baik.
“Sekarang PSSI sudah agak baik (gizinya), karena 17 pemainnya merupakan produk makan bergizi di Belanda, meskipun belum mampu mengalahkan Australia dan Jepang. Apalagi Jepang yang makan bergizinya sudah 100 tahun, IQ rata-rata tertinggi di dunia kan di Jepang,” kelakar Dadan diiringi gelak tawa audiens.
“Jadi untuk olahraga sekalipun kita butuh kecerdasan. Karena untuk bisa mengoper bola dengan cermat tanpa melihat. Selain melihat, butuh kecerdasan, bisa membaca permainan lawan, dan lain-lain,” sambungnya.
Ihwal itu, Dadan berharap kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia bisa menjadi solusi untuk masa mendatang. Adapun hingga akhir tahun ini, targetnya penyaluran MBG dibidik tembus 82,9 juta penerima manfaat.
“Kita berharap dengan program makan bergizi yang akan mencakup 82,9 juta (orang) ini, mulai dari ibu hamil, anak balita, sampai anak SMA itu memiliki hal strategis. Karena kita harapkan dengan investasi besar-besaran pemerintah RI akan dihasilkan SDM berkualitas 2045,” pungkasnya.

