Google Gemini AI 2.0 Flash Picu Kontroversi Hak Cipta
CALIFORNIA, investortrust.id - Google kembali menjadi sorotan setelah model kecerdasan buatan terbarunya, Gemini 2.0 Flash, diketahui mampu menghapus watermark atau penanda hak cipta dari gambar, termasuk milik Getty Images dan platform stok foto lainnya. Fitur ini menuai kontroversi karena dapat mengancam hak cipta dan kredibilitas konten digital.
Gemini 2.0 Flash diperkenalkan sebagai alat generasi gambar yang bisa membuat dan mengedit konten secara langsung. Namun, beberapa pengguna di media sosial menemukan bahwa model AI ini tidak hanya menghapus watermark, tetapi juga mengisi bagian yang kosong akibat penghapusan tersebut dengan sangat baik.
Banyak alat berbasis AI yang memiliki fitur serupa, tetapi Gemini 2.0 Flash dinilai lebih canggih dan dapat digubakan secara gratis. Dilansir dari TechCruch, Senin (17/3/2025), beberapa pengguna di X dan Reddit membuktikan bahwa AI ini bahkan dapat menghilangkan watermark tanpa meninggalkan bekas.
Meski begitu, fitur ini masih berlabel “eksperimental” dan “tidak untuk penggunaan produksi” serta hanya tersedia dalam alat pengembang Google seperti AI Studio. Selain itu, Gemini 2.0 Flash masih kesulitan menghapus watermark semi-transparan atau yang menutupi sebagian besar gambar.
Namun, banyak pihak khawatir akan dampak etis dan hukum dari fitur ini. Model AI dari perusahaan lain, seperti Anthropic dan OpenAI, secara eksplisit menolak menghapus watermark karena dianggap tidak etis dan berpotensi melanggar hukum.
Baca Juga
Ini Alasan Meta AI Akan Jadi Aplikasi Terpisah seperti ChatGPT dan Gemini
Dalam hukum hak cipta AS, penghapusan watermark tanpa izin pemilik aslinya dianggap ilegal, kecuali dalam kondisi tertentu. Hingga kini, Google belum memberikan komentar resmi terkait temuan ini.
Sebelumnya, Google juga memperkenalkan AI Mode sebagai upaya meningkatkan pengalaman pencarian dengan merangkum berbagai informasi dari internet. Namun, hilangnya tautan sumber berpotensi mengurangi kredibilitas informasi serta mengurangi lalu lintas ke situs web yang menjadi referensi.
Inovasi Google dalam AI juga menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, sempat menyoroti fitur baru Google yang memungkinkan hasil pencarian menampilkan ringkasan informasi tanpa tautan sumber.
“Transparansi berarti dia harus merujuk pada sumber-sumber yang dipakai untuk pengelolaan atau pelatihan machine learning,” ujar Nezar beberapa waktu lalu.
Menurutnya, transparansi dalam pengembangan AI sangat penting, terutama dalam hal akuntabilitas dan pencantuman sumber. Nezar juga menyoroti pentingnya pelabelan pada konten yang dihasilkan AI untuk melindungi hak cipta.
“Secara prinsip ya (harus ada label AI), karena untuk menghormati hak cipta. Tapi bagaimana implementasinya, nah ini lagi didiskusikan,” tutupnya. (C-13)

