Berbagi Ruang dengan Kaum Difabel untuk Karya Mendunia
JAKARTA, investortrust.id – Berkarya tidak mengenal keterbatasan dan setiap orang dilahirkan istimewa. Mengapresiasi hal tersebut, dua binaan UMKM PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Dama Kara dan Puka (Pulas Katumbiri) masuk ke industri kreatif Indonesia dengan mengedepankan konsep bisnis sosial atau social enterprise.
Keduanya hadir menggairahkan semangat inklusivitas dan pemberdayaan, menjadikan kreativitas sebagai jembatan bagi teman-teman berkebutuhan khusus atau difabel untuk berkarya dan mendapatkan penghasilan yang layak. Hebatnya dengan dukungan BRI, keduanya bahkan sudah tembus pasar internasional.
CEO dan Founder Dama Kara Nurdini Prihastiti mengatakan, Dama Kara bukan hanya sekadar merek fesyen. Dengan semangat sosial yang tinggi, merek yang mengusung busana batik modern dengan motif sederhana dan warna-warna earth tone yang unik ini merangkul anak-anak berkebutuhan khusus melalui kelas menggambar dan seni.
Menyasar milenial dan generasi Z, jenama yang dimulai sejak 2020 itu bertekad untuk melestarikan budaya sekaligus membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Apalagi batik merupakan baju yang sederhana tapi sarat makna dan disukai generasi muda.
“Hasil karyanya kemudian dituangkan dalam motif batik yang bernilai jual dan setiap penjualan ada royalti bagi teman-teman disabilitas. Bahkan, beberapa dari mereka bisa mendapatkan penghasilan hingga belasan juta rupiah. Lewat cara ini, kami ingin menunjukkan bahwa berkarya tidak mengenal batas dan setiap individu memiliki potensi luar biasa,” ujar Dini biasa ia disapa ke Investortrust beberapa waktu lalu.
Saat ini, merek yang berarti kebajikan untuk banyak orang ini telah berkolaborasi dengan sembilan anak berkebutuhan khusus yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan motif serta teknik baru. Hasil karya mereka diaplikasikan ke dalam produk batik.
Sumber: Damakara.official
Baca Juga
BRI Gandeng Blue Bird Hadirkan Solusi Keuangan Digital untuk Pengemudi
Teman Istimewa
“Kami percaya setiap hal baik dari diri seseorang merupakan sebuah keistimewaan yang perlu untuk dirawat dan dirayakan. Jadi melalui Dama Kara ini jadi langkah kecil untuk merangkul teman istimewa untuk berkarya tak mengenal keterbatasan karena setiap insan istimewa,” ungkap ibu beranak dua ini.
Soal motif, ia membuatnya sendiri tapi sering mengadaptasi dari corak-corak yang punya arti dari berbagai penjuru Indonesia, seperti Lasem hingga Papua. Selain itu, untuk membuat desain-desain yang otentik, Dama Kara juga bekerja sama dengan komunitas difabel dari sejumlah yayasan.
Bahkan alumnus S1 Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S2 Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mendirikan Dama Kara Foundation yang menyediakan ruang terapi menggambar khusus autis. Hasil karya mereka kemudian akan direalisasikan dalam bentuk koleksi batik Dama Kara, seperti Jalin dan Rona Bian.
Dini mengatakan, selama proses produksinya, merek yang berasal dari Bandung ini juga bekerja sama dengan ibu-ibu di Garut yang mengerjakan teknik jahit tradisional seperti sasiko. Dengan kombinasi antara kearifan lokal dan desain modern, Dama Kara sudah menembus pasar internasional seperti Korea dan tampil dalam fashion show di Paris, Perancis melalui gelaran Indonesia Internasional Modest Fashion Festival (IN2MF).
Sumber: Instagram/Damakara.official
“Ke depan, kami menargetkan bisa ekspansi ke Malaysia dan Singapura agar batik kasual semakin dikenal secara global,” ungkapnya.
Dari sisi bisnis, Dama Kara mendapatkan dukungan dari BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 500 juta untuk investasi alat produksi. Kapasitas produksinya mencapai 8.000-9.000 produk per bulan.
“Manfaatnya banyak sekali dari BRI. Saya mendapat dukungan untuk transaksi pembayaran di offline store, pinjaman KUR, hingga dukungan untuk pameran dan pelatihan,” kata wanita yang pernah bekerja di PT Astra International Tbk tersebut.
Untuk berhasil menembus pasar ekspor, selain mengeksplor desain dan mengutamakan kualitas produk, Dama Kara juga memastikan bahwa produknya bisa dijangkau secara internasional memanfaatkan kecanggihan teknologi. Ia pun berusaha memenuhi kebutuhan anak muda yang menjadi target utama. Koleksinya sendiri dijual mulai dari Rp 70.000 hingga Rp 400.000.
Goresan Pelangi
Sementara itu, CEO dan Founder PUKA Dessy Nur Anisa Rahma mengatakan, sejak tahun 2015, PUKA hadir sebagai bisnis sosial dalam bidang kerajinan tangan yang didedikasikan untuk pemberdayaan anak berkebutuhan khusus. Produknya berbagai aksesoris warna-warni, termasuk gelang, kalung, gantungan kunci, tas, dan sepatu.
Didorong oleh motto “passion is a profession,” ia begitu mencintai kerajinan tangan hingga memperjuangkan inklusivitas dengan memberdayakan para penyandang disabilitas. Nama “PUKA” diambil dari Pulas Katumbiri, sebuah frasa dalam bahasa Sunda yang berarti “goresan pelangi,” yang mencerminkan kerajinan tangan penuh warna yang dibuat oleh para pengrajin PUKA.
PUKA menjadi media kreasi yang bernilai seni dan ramah disabilitas bagi anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bandung dan Garut untuk memproduksi tas dan aksesoris yang unik.
Dengan semangat inklusif, PUKA kini telah melatih dan memberdayakan sekitar 20 orang dengan berbagai tipe kebutuhan khusus, seperti down syndrome, autism, cerebral palsy, serta tuli. Tidak hanya di Garut, PUKA juga memberdayakan anak-anak kebutuhan khusus di berbagai kota lain seperti Bandung, Banyuwangi, Surabaya, hingga Kuala Tungkal.
“Untuk teman-teman berkebutuhan khusus yang berada di luar kota, PUKA mengirimkan bahan baku agar mereka dapat membuat produk dari rumah masing-masing,” ujar wanita kelahiran Jakarta, 24 Desember 1992 tersebut.
Foto: Investortrust/Defrizal
Ramah Disabilitas
Teknik kerajinan tangan dalam pembuatan tas dan aksesoris, dikatakan Dessy sangat ramah disabilitas karena di sekolah orang-orang berkebutuhan khusus terbiasa membuatnya.
PUKA mengadopsi strategi penjualan online dan offline. Produk-produknya tersedia di berbagai marketplace, serta dititipkan di berbagai toko di Jakarta, Yogyakarta, dan Jambi. Berkat strategi ini, PUKA mampu meraih omzet hingga Rp 480 juta per tahun. Harga jual produk berada di rentang Rp 3.000 hingga Rp 1,5 juta.
“Ke depannya, saya mau merekrut pengrajin dari kota-kota lain dan berpartisipasi dalam acara-acara internasional untuk memamerkan produk secara global. PUKA juga berencana untuk mendorong pertumbuhan pendapatan di berbagai saluran penjualan dan mengejar inisiatif ekonomi berkelanjutan dengan menciptakan produk-produk dari bahan daur ulang,” ujar ia.
Dalam upaya memperluas pasar, PUKA telah menjual produknya melalui platform global seperti Etsy dan Amazon, serta menjajal sistem titip jual di Malaysia dan Singapura. “Respons pasar luar negeri cukup positif, terutama untuk aksesoris khas Indonesia seperti manik-manik dari Jombang yang memiliki nilai seni tinggi,” kata Dessy.
Foto: Investortrust/Defrizal
Baca Juga
Di Tengah Dinamika Pasar, BRI Fokus ke Pengelolaan Risiko Jangka Panjang
Ke depan, PUKA sambung jebolan S1 Universitas Padjajaran dan S2 ITB itu berencana membangun rumah produksi baru dan membuka toko offline di Jakarta dan Yogyakarta. Jakarta Selatan dipilih sebagai salah satu target utama karena potensinya yang besar sebagai pusat bisnis dan gaya hidup. Untuk mewujudkan rencana ini, PUKA membutuhkan dana sekitar Rp 400-500 juta, yang akan diperoleh melalui skema KUR BRI.
“Manfaat yang dirasakan menjadi mitra binaan BRI, usaha menjadi lebih level up berkat pelatihan bisnis dan pemberian akses pameran. Karena bunganya relatif lebih rendah dari bank lainnya. Terlebih lagi BRI ini sangat mendukung UMKM,” ungkapnya.
BRI merealisasikan penyaluran KUR sepanjang 2024 sebesar Rp 177,56 triliun. Mayoritas kredit diserap oleh sektor perdagangan, pertanian, serta industri kecil dan rumah tangga.
Foto: Dok. BRI
Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, penyaluran KUR yang masif tidak hanya membantu UMKM dalam mendapatkan modal usaha, tetapi juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli masyarakat.
“BRI menilai bahwa UMKM memiliki kontribusi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung,” ujarnya dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan 2024, Rabu (12/2/2025).
BRI memiliki program dukungan untuk UMKM yang juga mencakup pelaku usaha difabel, melalui program seperti Klasterkuhidupku dan bantuan KUR, serta program BRI Peduli yang mendukung pendidikan dan sarana prasarana untuk anak difabel. Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.
Dengan pemberdayaan dan pendampingan tersebut, pelaku UMKM menurut Sunarso dapat mengembangkan produknya dan memperluas usaha, hingga nantinya UMKM yang tumbuh dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di daerah lain.
"Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya dengan memberikan modal usaha, tetapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya, sehingga UMKM dapat tumbuh dan berkembang," ungkap ia.

