Tim Riset USU Lakukan Penelitian Air Kemasan, Ini Hasilnya
JAKARTA, investortrust.id - Kelompok Studi Kimia Organik Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan penelitian independen untuk meneliti luruhan senyawa kimia bisphenol-A (BPA) pada empat merek air kemasan galon lokal maupun nasional di Medan, Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan BPA tidak terdeteksi pada semua sampel yang diuji, termasuk yang terpapar sinar matahari.
Prof Dr Juliati Tarigan, MSi, Guru Besar Kimia Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) selaku ketua tim peneliti menegaskan bahwa di dalam semua sampel air galon polikarbonat yang diteliti, baik yang terpapar atau tidak terpapar sinar matahari, tidak terdeteksi luruhan atau migrasi BPA.
Baca Juga
Anggota Komite Akreditasi BSN Pastikan Galon Polikarbonat Aman Dipakai
“Meski galon didistribusikan pada siang hari, migrasi BPA ke dalam air minum tidak akan terjadi apabila suhu tidak mencapai 159 derajat celcius. Sementara itu, suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia hanya mencapai 38,5 derajat celcius,ˮ tambah Prof Juliati dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/2/2025).
Prof Juliati menjelaskan bahwa secara sifat kimiawi, BPA memiliki titik leleh pada suhu 159 derajat celcius. Hal ini menunjukkan bahwa BPA dalam kemasan polikarbonat hanya dapat luruh pada suhu sangat tinggi, di atas suhu 159 derajat celcius. Selain itu, BPA memiliki kelarutan sangat rendah dalam air.
Prof Juliati memaparkan bahwa sampel dikumpulkan dari empat merek air minum dalam kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat yang umum dan populer ditemukan di Medan. Keempat sampel tersebut terdiri dari dua merek produk air minum dalam kemasan (AMDK) nasional, yaitu Aqua dan Prima, serta dua sampel merek lokal, yaitu Amoz dan Himudo.
Masing-masing merek diambil tiga sampel dari titik distribusi berbeda. Sampel diambil pada sejumlah kondisi penyimpanan, yaitu kondisi normal atau tidak terpapar matahari langsung, serta kondisi dengan paparan sinar matahari langsung selama 5 dan 10 hari.
Baca Juga
Transformasi, Aqua Elektronik Siap Guyur Pasar High End dengan 73 Produk
“Pengujian kami lakukan secara triplo atau dilakukan dengan menggunakan tiga sampel (pengujian tiga kali). Sangat penting dilakukan pengujian secara triplo pada sampel pangan agar data pertama dapat dibandingkan dengan data kedua atau ketiga, sehingga hasil akhir yang diperoleh menjadi lebih akurat,ˮ kata Prof Juliati.
Sampel diuji menggunakan alat ukur high-performance liquid chromatography (HPLC) atau kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) yang merupakan instrumen canggih untuk mendeteksi kandungan BPA dalam air hingga level mikrogram per liter (µg/L).

