Kisah Formasi Aneh 2-7-2 Racikan Pelatih Bologna Thiago Motta
BOLOGNA, investortrust.id – Pelatih Bologna Thiago Motta menjadi pembicaraan banyak analis dan pengamat sepak bola ternama Eropa berkat taktik, strategi, dan formasi anehnya di Serie A. Mantan pemain Inter Milan itu menerapkan skema yang tidak biasa, yaitu 2-7-2.
Sepak bola mengenal Thiago Motta sebagai pemain Brasil berpaspor Italia yang dibesarkan La Masia. Gagal berkarier di tim utama Barcelona, dia kemudian berpetualang ke Italia bersama Inter Milan. Lalu, hijrah ke Prancis dengan Paris Saint-Germain (PSG).
Setelah pensiun, Thiago Motta memulai karier sebagai pelatih dengan menukangi PSG U-19. Lalu, kembali ke Italia melatih beberapa klub papan menengah ke bawah seperti Genoa dan Spezia. Selanjutnya, sejak September 2022, Thiago Motta ditunjuk sebagai pelatih Bologna.
Baca Juga
Tantang Juara Bertahan Liga Champions Manchester City, Real Madrid Tebar Ancaman
Pelan dan pasti, Thiago Motta mengubah peruntungan Bologna. Dari tim papan tengah, Bologna sempat bertarung masuk zona Liga Champions.
Namun, yang menarik perhatian banyak orang adalah formasi, taktik, dan strategi aneh Thiago Motta. Pada 2018, dia pertama kali mengeluarkan istilah formasi 2-7-2. Tanpa penjelasan detail, dia membuat banyak orang bertanya dan penasaran dengan skema tersebut.
Thiago Motta kemudian menjawabnya dengan santai. Dia menyebut ini hanya soal cara pandang posisi pemain. Dia memakai istilah 2-7-2 karena melihat pemain dari kiri ke kanan, bukan dari bawah ke atas. Dia melihat posisi pemain dari bangku Cadangan, bukan dari penjaga gawang, seperti yang selama ini menjadi pakem.
Dengan pengertian seperti itu, formasi 2-7-2 racikan Thiago Motta pada prakteknya mirip skema 4-2-3-1 atau 4-1-4-1. Pada formasi 2-7-2, kiper dianggap sebagai gelandang karena posisinya berada di area tengah lapangan. Sama dengan penyerang.
Ketika masih melatih Spezia, Thiago Motta cenderung bermain pragmatis. Tapi, Thiago Motta melakukan hal berbeda bersama Bologna. Dengan kualitas pemain yang lebih baik, dia ingin timnya mendominasi penguasaan bola.
“Saya tidak suka dengan angka-angka di lapangan karena bisa menipu. Anda bisa menjadi sangat ofensif dengan 5-3-2 dan bertahan dengan 4-3-3. Itu tergantung pada kualitas para pemain,” ujar Thiago Motta, dilansir The Sun.
“Saya pernah bermain dengan bek sayap yang bermain di posisi No.9 dan No.10. Penjaga gawang dihitung sebagai salah satu dari tujuh lini tengah. Bagi saya, penyerang adalah bek pertama dan penjaga gawang adalah penyerang pertama,” ungkap Thiago Motta.
Baca Juga
Bayern Muenchen Beri Kesempatan Thomas Tuchel Bekerja Hingga Akhir Musim

