Putra atau Putri? Kontroversi Gender Petinju Aljazair Imane Khelif di Olimpiade Paris 2024
PARIS, investortrust.id – Kontroversi gender mengiringi penyelenggaraan Olimpiade Paris 2024, khususnya di cabang olahraga tinju putri. Petinju Aljazair Imane Khelif menuai perdebatan setelah dinyatakan menang lawan petinju Italia Angela Carini dalam waktu 46 detik.
Imane Khelif adalah atlet tinju Aljazair yang secara fisik terlihat seperti laki-laki, meski lahir sebagai perempuan pada 2 Mei 1999 di sebuah wilayah bernama Tiaret. Imane Khelif mengawali karier olahraga dari sepak bola sebelum beralih ke tinju.
Imane Khelif memulai debut ring pada Kejuaraan Tinju Dunia Wanita AIBA 2018. Dia tersingkir di ronde pertama oleh Karina Ibragimova. Lalu, pada Kejuaraan Tinju Dunia Wanita AIBA 2019, dia juga tersingkir di ronde pertama oleh Natalia Shadrina.
Tapi, karier Imane Khelif terus melaju. Dia berhasil meraih medali perak pada Kejuaraan Dunia Tinju 2022. Ada juga medali emas di Kejuaraan Afrika 2022, Mediterranean Games 2022, hingga Arab Games 2023.
Baca Juga
Dikalahan Juara Dunia Panahan, Kejutan Rezza Octavia di Olimpiade Paris 2024 Terhenti
Namun, penampilan Imane Khelif di Olimpiade Paris 2024 menuai kontroversi setelah mengalahkan Angela Carini dalam waktu 46 detik. Sang lawan mengaku dirinya merasa dipukul oleh seorang atlet putra dan bukanya petinju putri.
Rekaman pertarungan Imane Khelif dengan Angele Carini kemudian menyebar luas ke seluruh dunia melalui media sosial. Kemudian, banyak orang berkomentar, termasuk tokoh terkenal dunia seperti J.K. Rowling, Richard Dawkins, hingga Elon Musk. Mereka mengkritik Imane Khelif dan IOC secara keras. Mereka menyebut Imane Khelif sebagai atlet transgender.
Pihak Aljazair kemudian membatah klaim-klaim tersebut. Mereka menyebut Imane Khelif adalah Perempuan seutuhnya. Mereka menyatakan perubahan gender di Aljazair adalah hal ilegal sehingga tidak mungkin Imane Khelif adalah laki-laki.
Lalu, apa komentar IOC? “Kami telah melihat dalam laporan informasi yang menyesatkan tentang dua atlet putri yang berkompetisi di Olimpiade Paris 2024,” tulis bunyi pernyataan resmi IOC di situsnya.
“Kedua atlet tersebut telah berkompetisi dalam kompetisi tinju internasional selama bertahun-tahun dalam kategori putri, termasuk Olimpiade Tokyo 2020, Kejuaraan Dunia Asosiasi Tinju Internasional (IBA), dan turnamen yang disetujui IBA,” lanjut pernyataan tersebut.
IOC kemudian menjelaskan, semua atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade Paris 2024 mematuhi peraturan kelayakan dan pendaftaran kompetisi, serta semua peraturan medis yang berlaku yang ditetapkan oleh Unit Tinju Paris 2024 (PBU).
Aturan-aturan ini juga berlaku selama periode kualifikasi, termasuk turnamen tinju di Euro Games, Asian Games, Pan American Games, Pacific Games, dan pertandingan-pertandingan internasional resmi lainnya.
“Agresi terhadap kedua atlet ini sepenuhnya didasarkan pada keputusan sewenang-wenang ini, yang diambil tanpa prosedur yang tepat, terutama mengingat bahwa para atlet ini telah berkompetisi dalam kompetisi tingkat atas selama bertahun-tahun. Pendekatan seperti itu bertentangan dengan tata kelola yang baik,” kata IOC.
“Aturan kelayakan tidak boleh diubah selama kompetisi berlangsung dan setiap perubahan aturan harus mengikuti proses yang sesuai dan harus didasarkan pada bukti ilmiah,” tutup IOC.
Baca Juga
Terhenti di Olimpiade Paris 2024, Atlet Menembak Fathur Gustafian Petik Pelajaran Berharga

