Mimpi Raldina Asdyanti Kembangkan Winona Modest Hingga Level Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Raldina Asdyanti berkeyakinan kuat untuk berbisnis. Meski tak punya latar belakang keluarga pengusaha, dia yakin mimpinya jadi pengusaha fesyen yang sukses bisa terwujud.
“Fesyen itu adalah cara kita menunjukkan jati diri tanpa perlu ngomong, jadi seperti menunjukkan karakter dan posisi kita,” kata perempuan yang akrab disapa Dina ini kepada investortrust.id.
Keinginan Dina membangun merek fesyen miliknya diawali pada 2016. Saat gelombang modest fashion menjadi tren di Tanah Air, dia mengembangkan fesyen untuk pekerja perempuan (office wear). Dia mencoba memadupadankan baju kantor dengan motif kain etnik.
“Tapi brand-nya kurang dapat apresiasi karena waktu itu pasar yang lagi hot ya si pasar modest,” ujar dia.
Melihat peluang tren modest fashion wear, Dina pun memanfaatkan momentum. Dia mulai membangun merek yang bertahan hingga kini: Winona Modest.
Winona Modest fokus pada pasar perempuan. Dina mengatakan, konsumennya rata-rata berusia 25 ke atas. Karakter konsumen ini rata-rata suka berkegiatan aktif dan ingin tampil cantik sesuai jati dirinya.
Baca Juga
“Kita memang membuat desain-desain baju dan aksesoris perempuan yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dan Asia. Konsep modest atau pakaian yang sopan,” kata dia.
Dina mengatakan Winona Modest menyediakan beragam aksesoris mulai dari kacamata, anting, celana, baju, dan outer. Tapi, produk yang menjadi unggulan Winona Modest yaitu turban instan.
Turban merupakan penutup rambut perempuan yang hanya menutupi sebagian rambut kepala dan sebagian telinga. “Untuk range harga Rp75 ribu hingga Rp300 ribu per piece,” ucap dia.
Bermodal Nol Rupiah
Dina membangun Winona Modest dengan modal nol rupiah! Dia bisa membuat bisnis tanpa modal karena mengandalkan sistem pre-order. Untuk cadangan modal, dia menyiapkan dana Rp5 juta.
“Tapi karena sistemnya pre-order uang (cadangan) itu langsung ketutup lagi. Jadi bisa dikatakan awalnya beneran nggak pakai modal,” kata dia.
Selain tanpa modal, saat merintis usaha ini penuh dengan kenekatan. Bayangkan saja, saat memulai usaha dia tidak mengetahui konveksi dan desain. “Kita learning by doing,” ujar dia.
Dina menceritakan, ada suatu masa harus memangku kain bahan yang dia beli dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat di atas sepeda motor. Dia juga harus menyewa angkot atau taksi online untuk mengikuti bazar.
“Kalau kita flash back agak gila memang, karena saya dan suami memang bukan berasal dari keluarga yang punya usaha,” kata dia.
Baca Juga
Sleeping Beauties: Reawakening Fashion jadi Tema Met Gala 2024, Ini Detailnya
Dari pengalaman inilah, Dina belajar mengembangkan merek fesyen miliknya. Dia memahami bagaimana cara menyesuaikan modal yang dimiliki, sistem produksi, hingga bagaimana membuat pendekatan ke konsumen. Dia juga memahami ketika tawaran investasi datang kepadanya.
“Kita jadi lebih adaptif. Tapi, kita mempertimbangkan dulu segala aspek sebelum mengambil keputusan,” ujar dia.
Media sosial jadi kunci
Sebagai generasi milenial, Dina mengakui bahwa pemanfaatan media sosial begitu penting untuk mengembangkan usaha. Bahkan, kata dia, ide untuk memulai bisnis fesyen ini juga muncul dari Instagram.
Kehadiran influencer dan selebgram Muslim pada 2016an menjadi mulanya. Dina mengatakan segerombolan influencer itu mengggunakan kerudung yang mereka beli di luar negeri. “Padahal di Indonesia banyak banget. Di situlah, saya berpikir untuk memproduksi,” kata dia.
Dina mengatakan, Winona Modest mulai dikenal luas melalui Instagram. Setelah itu, dia mulai mengembangkan basis penjualan melalui e-commerce.
Perempuan lulusan Bisnis Administrasi Universitas Indonesia ini mengaku menggunakan media sosial untuk membuat konten. Tak hanya itu, dia juga mempelajari layanan iklan digital, Instagram Ads untuk memperluas penontonnya.
“Sosmed itu harus dan wajib bagi pengusaha. Termasuk pengusaha offline. Tanpa ada sosmed, jualan yang langsung di e-commerce, orang nggak akan kenal kita siapa dan akan berpindah,” ujar dia.
Baca Juga
Modest Fashion Baru Berkontribusi 3,5% di Total Ekpsor Non Migas
Saat ini, media sosial Winona Modest memiliki 111 ribu pengikut. Sementara itu, Dina memiliki 1.218 pengikut. “Peran medsos sangat penting sebagai brand awareness dan brand positioning itu wajib, terutama yang baru mulai,” kata dia.
Sementara itu, bagi penjual, media sosial juga perlu untuk menunjukkan ciri khas dan karakter produk yang dijual.
Mimpi punya toko di Singapura dan Malaysia
Selama lebih dari tujuh tahun mengembangkan bisnis fesyen ini, Dina memiliki pandangan yang berbeda mengenai usaha. Meski usahanya memiliki omzet Rp200-an juta, dia lebih suka berbicara mengenai dampak bisnisnya bagi pengusaha.
“Aku lebih senang berbicara mengenai bagaimana membangun usaha ini,” ujar dia.
Melalui Winona Modest, dia ingin mendorong perempuan untuk menggunakan gaya fesyen yang dia sukai. Bisnis yang telah menghidupi keluarga dan orang terdekatnya ini ingin didorong lebih jauh berguna untuk lingkungannya.
“Tim kita berasal dari tetangga dan keluarga sekitar. Tapi kita juga lihat visi dan valuenya mereka. Apakah mau belajar bareng atau enggak,” kata dia.
Dina mengatakan selain ingin membantu finansial, dia juga ingin meningkatkan kemampuan tim yang direkrut. Salah satunya, dia pernah mengajak penjahit vermak jeans untuk bergabung. “Kita ajak gabung untuk belajar jahit bermacam-macam produk, pashmina, turban instan, yang itu jarang banget orang bisa,” ujar dia.
Ke depan, Dina ingin menjadi merek fesyen modest yang lebih besar dengan memiliki toko di Singapura dan Malaysia. Dua negara itu dipilih karena memiliki basis konsumen bagi Winona Modest. “Mudahan-mudahan bisa worldwide,” harap dia. (CR-7/Maulana Kautsar)
Baca Juga
8 Brand Modest Fashion RI Cetak Transaksi Potensial US$ 2 Juta

