Kisah Sukses Coldplay, Band yang Bakal Konser 15 November di Jakarta
JAKARTA, investortrust.id -- Pada 15 November 2023, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, bakal riuh semarak dengan kehadiran Coldplay. Gelar konser perdananya di Indonesia ini bertajuk Coldplay: Music of the Spheres World Tour, sesuai dengan album yang mereka rilis pada 2021.
Band asal London, Inggris, ini dibentuk pada 1996, dengan menggunakan nama Starfish. Band yang beranggotakan empat personel ini kemudian menggunakan nama Coldplay yang diambil dari sebuah buku koleksi puisi bertajuk Child's Reflections: Cold Play karya Philip Horky.
Chris Martin sebagai vokalis utama yang juga penulis lagu, piawai memainkan gitar dan piano. Selain itu, Jonny Buckland sebagai gitaris utama, Guy Berryman sebagai bassis, dan Will Champion sebagai drummer. Keempat personel ini bertemu ketika masih menginjak bangku kuliah.
Disebut-sebut, mereka mempersembahkan inspirasi tersendiri dengan mengusung genre apik yang mengadopsi pop rock, alternative rock, pop murni, dan post-Britpop. Ada pula yang membandingkannya dengan gaya rock Oasis dan Radiohead. Terlepas dari opini-opini tersebut, pada 2009, Chris Martin mengutarakan Coldplay bergenre "limestone rock".
Baca Juga
Gelar Konser di Indonesia, Ini Profil 4 Personel Band Coldplay
Secara independen, dan bisa dibilang sebagai debut pertama atau extended play mereka, Coldplay merilis Safety pada 1998. Parachutes menyusul sebagai album perdana yang diluncurkan pada 10 Juli 2000. Di album Parachutes ini beberapa lagu meledak dan melambungkan nama Coldplay di blantika musik. Sebutlah saja lagu Shiver, Yellow, Trouble, dan Don't Panic.
Success story terus berlanjut. Pada Agustus 2002, Coldplay meluncurkan album kedua A Rush of Blood to the Head dengan daya tarik lagu In My Place, The Scientist, dan Clocks yang menuai sukses besar dengan meraih 2 kategori dalam Grammy Awards pada 2003, untuk kategori Best Alternative Music Album dan Best Rock Performance by a Duo or Group with Vocal. Sementara itu, Clocks memenangkan pula Record of the Year pada Grammy Awards 2004.
Album ketiga X&Y dirilis pada 6 juni 2005 dan berhasil menjadi Best-Selling Album of 2005 karena sukses mencetak penjualan 8,3 juta secara internasional. Lagu hits di dalamnya adalah Speed of Sound, Fix Youdan Talk.
Pada Februari 2006, Coldplay kembali memenangkan penghargaan Best Album and Best Single pada BRIT Awards, dilanjutkan dengan karya album keempat mereka bertajuk Viva la Vida or Death and All His Friends(2008) yang diproduseri oleh Brian Eno.
Baca Juga
Cek Jadwal Konser dan Festival Musik Sepanjang November 2023
Singkat cerita, album-album secara kontinu mereka telurkan, yakni Mylo Xyloto (2011), di mana pada September 2012, Coldplay sukses membawa pulang piala MTV Video Music Awards untuk kategori Best Rock Video berkat lagu Paradise. Pada ajang tersebut, Coldplay juga masuk dalam dua nominasi lain untuk kategori Best Cinematography dan Best Direction lewat lagu duetnya Princess of China bersama Rihanna.
Album berikutnya mengusung tajuk Ghost Stories (2014), A Head Full of Dreams (2015), Live in Buenos Aires (2018), Everyday Life (2019), dan yang terbaru Music Of The Spheres (2021). Music of the Spheresmenggali tema yang tak lazim bernuansakan luar angkasa, seperti space rock, synth-pop, dan ambient.
Magnet itu terbukti sukses mencetak penjualan 100 juta album seantero dunia serta mencatat Coldplay sebagai salah satu band terlaris abad ini. Lagi-lagi, beberapa nominasi dan perhargaan mereka rebut, di antaranya memenangkan satu kali Song of the Year dan Record of the Year, tiga kali sebagai nominasi kategori Album of the Year, dan yang menakjubkan merebut tujuh Grammy Awards dari 39 nominasi.
Tak sekadar piawai bermusik, Coldplay dikenal pula sebagai band yang peduli pada isu sosial dan politik. Katakan saja, Oxfam's Make Trade Fair Campaign dan Amnesty International yang mereka ikuti, termasuk tampil pula dalam beragam momen kemanusiaan, seperti the Teenage Cancer Trust, Live 8, Band Aid 20, dan Hope for Haiti Now.(C-12)

