Pakubuwono Social Club Perluas Ekosistem Olahraga dengan Lapangan Padel Berstandar Adidas Pertama di Jakarta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Olahraga semakin berkembang melampaui aktivitas untuk menjaga kebugaran tubuh hingga menjadi bagian dari gaya hidup, ruang bersosialisasi, hingga membangun jejaring profesional, termasuk menjaga kesehatan mental. Pergeseran tersebut mendorong tumbuhnya industri pendukung, mulai dari fasilitas olahraga, pelatihan, layanan pemulihan fisik, hingga bisnis makanan dan minuman.
Tren padel menjadi salah satu gambaran perkembangan tersebut. Olahraga raket yang semakin populer di Jakarta ini tidak hanya meningkatkan kebutuhan terhadap lapangan, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru di sekitarnya. Aktivitas bermain padel mendorong permintaan terhadap pelatih, penyewaan perlengkapan, akademi, turnamen, komunitas, hingga layanan fisioterapi dan sport recovery.
Menilik Playtomic’s Global Padel Report 2025, Indonesia disebut sebagai negara dengan pertumbuhan padel tercepat di Asia Pasifik dan memiliki produktivitas lapangan tertinggi di dunia. Rata-rata lapangan padel di Indonesia mampu mencatatkan gross merchandise value (GMV) sekitar Rp110 juta per bulan, tumbuh 173% sepanjang periode 2023–2024 Pertumbuhan fasilitas juga terlihat di Jakarta. Data Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta mencatat jumlah lapangan padel di ibukota mencapai 446 lapangan per Maret 2026, meningkat dari 397 lapangan hanya dalam rentang tiga minggu sebelumnya. Sementara itu, laporan Core & Court menempatkan Jakarta sebagai wilayah dengan jumlah lapangan padel terbanyak di Indonesia, menyumbang sekitar sepertiga dari total 947 lapangan nasional pada akhir 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa olahraga mulai membentuk rantai ekonomi yang lebih luas. Dampaknya tidak hanya berasal dari transaksi penyewaan lapangan, tetapi juga aktivitas bisnis yang tumbuh mengikuti kebutuhan para penggunanya. Perkembangan tersebut turut mendorong pelaku usaha menghadirkan konsep fasilitas olahraga yang terintegrasi, salah satunya Pakubuwono Social Club (PSC).
Baca Juga
KAI Properti Hadirkan Lapangan Padel Rp 6 M di Dekat Stasiun Juanda, Intip Fasilitasnya
Manager of Pakubuwono Social Club Zaenal Lachmadi mengatakan, PSC mengusung konsep one stop solution dengan mengintegrasikan berbagai kebutuhan masyarakat urban dalam satu kawasan. Pengunjung tidak hanya dapat bermain padel, tetapi juga mengakses fasilitas kebugaran, seperti pilates, yoga, hyrox, fisioterapi, mahjong, hingga layanan pemulihan melalui fasilitas hot and cold plunge. Ekosistem tersebut dilengkapi pilihan kuliner, ruang bersosialisasi, serta fasilitas pendukung lainnya.
Melalui konsep ini, PSC berupaya memperluas fungsi fasilitas olahraga dari sekadar tempat beraktivitas fisik menjadi destinasi terpadu yang menggabungkan olahraga, kesehatan, rekreasi, dan interaksi sosial alias one stop solution.
“Kami melihat bahwa masyarakat Jakarta hari ini tidak hanya mencari lapangan, tetapi mencari tempat untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu. Karena itu PSC kami bangun sebagai community destination, menjadi ruang bagi masyarakat untuk bisa berolahraga, melakukan recovery, dan bersosialisasi,” ujar Zaenal dalam peluncuran fasilitas premium sports, wellness, and social club di Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026).
Yang menarik adalah PSC menghadirkan lapangan padel resmi berstandar Adidas pertama di Jakarta, yang diimpor langsung dari Spanyol. "Lapangan padel ini didesain pro court jadi bagi pemain padel yang sudah advance, jadi tentunya ini satu-satunya di Indonesia. Waktu kita buat dengan Adidas diharapkan pemain internasional bisa pakai lapangan disini," katanya.
PSC, jelas Zaenal menyediakan enam lapangan padel yang terdiri atas satu Black Pro Court, tiga Terracotta Courts, dan dua Pink Courts. Dua lapangan berwarna merah muda tersebut didedikasikan bagi para penyintas dan pejuang kanker sebagai bagian dari misi sosial klub.
Namun, aktivitas bisnis PSC tidak hanya bertumpu pada padel. Fasilitas tersebut mengintegrasikan berbagai layanan kebugaran melalui kolaborasi dengan Hustle Performance Center untuk olahraga hyrox dan Hunters Pilates untuk pilates. Tersedia pula fasilitas yoga, fisioterapi, hot and cold plunge, serta Executive Lounge. Ekosistem tersebut diperluas dengan layanan makanan dan minuman melalui Second Floor Coffee dan After Patty, fasilitas permainan mahjong bersama Meld, serta layanan penitipan anak melalui Petit Manor.
Model ini memperlihatkan bagaimana satu fasilitas olahraga dapat menghubungkan sejumlah sektor usaha. Pengunjung tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga dapat melakukan pemulihan fisik, menikmati makanan dan minuman, hingga mengikuti aktivitas komunitas.
Baca Juga
Gabriel Rey Luncurkan Rata Kanan Capital, Salah Satunya Investasi ke Lapangan Padel
Gaya Hidup dan Komunitas
Perubahan model bisnis juga terlihat dari pendekatan berbasis keanggotaan atau membership. PSC mengembangkan layanan yang memberikan akses dan manfaat eksklusif kepada anggota, termasuk pilihan fasilitas olahraga dan wellness.
Aktivitas komunitas juga dirancang tidak hanya berpusat pada padel. Turnamen, sesi bermain bersama, kegiatan amal, aktivitas kebugaran, hingga pertemuan sosial menjadi bagian dari kegiatan yang ditawarkan.
Zaenal menilai, pertumbuhan klub olahraga dapat memberikan dampak ekonomi kepada berbagai pihak, termasuk pelatih, fisioterapis, penyedia makanan, mitra merek, pemasok lokal, dan tenaga operasional.
“Ketika sebuah klub tumbuh, yang ikut bergerak bukan hanya member-nya, tetapi juga pelatih, penyedia makanan, mitra brand, hingga usaha-usaha kecil di sekitarnya. Kami ingin PSC menjadi bagian dari ekosistem ekonomi olahraga Jakarta yang sehat dan berkelanjutan,” kata Zaenal.
Dengan demikian, perkembangan industri olahraga tidak hanya dapat dilihat dari bertambahnya jumlah fasilitas atau meningkatnya popularitas cabang olahraga tertentu. Aktivitas tersebut juga berpotensi menciptakan hubungan bisnis antarsektor, membuka lapangan kerja, serta memperluas peluang bagi pelaku usaha lokal.
Tren padel menjadi salah satu contoh bagaimana olahraga, gaya hidup, dan kegiatan ekonomi semakin terhubung. Ke depan, pertumbuhan industri ini tidak hanya bergantung pada popularitas olahraga, tetapi juga kemampuan pelaku usaha membangun fasilitas, layanan, dan komunitas yang mampu menjaga keberlanjutan aktivitas penggunanya.
