Prof. Lindawati Gani: Keberlanjutan Harus Menjadi Tindakan, Bukan Sekadar Laporan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Guru Besar Akuntansi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Lindawati Gani, menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari pencapaian keuangan dan kelengkapan laporan. Ukuran yang lebih mendasar adalah bagaimana keputusan hari ini mampu menciptakan nilai berkelanjutan bagi organisasi, masyarakat, dan lingkungan pada masa depan.
Karena itu, keberlanjutan harus menjadi bagian dari strategi, model bisnis, kegiatan operasional, hingga pengukuran kinerja. Komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui keputusan dan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan manfaat nyata bagi pemangku kepentingan.
Pandangan itu disampaikan Lindawati dalam peluncuran dan bedah bukunya, Integrated Thinking and Action: Membangun Masa Depan Entitas Berkelanjutan, di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Buku tersebut menawarkan pendekatan berpikir dan bertindak secara terintegrasi untuk menghadapi tantangan organisasi yang semakin kompleks.
Peluncuran buku ini dihadiri Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Isma Yatun; Ignasius Jonan, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang pernah menjabat Menteri Perhubungan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM); Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta; Direktur Utama sekaligus pemegang saham pengendali PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat; Direktur Utama PT Adaro Andalan Indonesia Tbk Julius Aslan; Dr. Mardiasmo, MBA., Ph.D, mantan Wakil Menkeu, serta Prof. Dr. Sidharta Gautama. Hadir pula para pendidik senior di bidang akuntansi, praktisi akuntansi, dan pimpinan perusahaan nasional.
Selain menampilkan testimoni melalui video, acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh untuk menyampaikan apresiasi secara langsung, di antaranya Isma Yatun, Sidharta Gautama, dan Julius Aslan. Mereka menyoroti kontribusi Lindawati dalam menghubungkan pengetahuan akademis dengan kebutuhan praktis organisasi, memperkuat integritas, serta membawa keberlanjutan ke dalam strategi dan pelaksanaan bisnis.
Buku setebal 236 halaman ini memuat testimoni sejumlah tokoh, di antaranya Menteri Keuangan Prof. Dr. Suahasil Nazara, Gubernur BI Dr. Destry Damayanti, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dr. Frederica Widyasari Dewi, serta mantan Menteri Keuangan Dr. Chatib Basri dan Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro. Testimoni juga disampaikan tokoh bisnis Indonesia Garibaldi (Boy) Thohir, Presiden International Federation of Accountants (IFAC) Jean Bouquot, dan CEO IFAC Lee White.
Menurut Lindawati, persoalan keuangan, sumber daya manusia, inovasi, risiko, hubungan dengan pemangku kepentingan, dan lingkungan saling memengaruhi. Keputusan yang terlihat menguntungkan dalam jangka pendek belum tentu menciptakan nilai yang baik dalam jangka panjang. Karena itu, setiap keputusan perlu mempertimbangkan keterkaitan dan konsekuensinya secara menyeluruh.
Pemahaman tersebut menjadi dasar integrated thinking. Pendekatan ini mendorong organisasi melihat gambaran besar, memahami hubungan antarbagian, dan menerjemahkannya menjadi tindakan yang konsisten dengan tujuan jangka panjang.
Lindawati menjelaskan, organisasi perlu bergerak melampaui pengukuran output atau keluaran kegiatan. Perhatian juga harus diberikan pada outcome, yakni hasil atau perubahan yang dicapai, serta impact, yaitu dampaknya terhadap pemangku kepentingan. Dengan demikian, keberhasilan tidak berhenti pada terlaksananya program, tetapi mencakup manfaat yang dihasilkan.
Tantangan berikutnya adalah eksekusi. Strategi yang baik membutuhkan kepemimpinan, kesiapan sumber daya manusia, kebijakan operasional, dan sistem pengendalian yang mendukung. Tujuan strategis harus tercermin dalam indikator kinerja, alokasi sumber daya, keputusan sehari-hari, serta mekanisme evaluasi dan perbaikan.
Ia mengingatkan bahwa organisasi dapat terjebak pada pemenuhan ketentuan apabila integrasi baru dilakukan pada tahap pelaporan. Padahal, cara berpikir terintegrasi harus hadir sejak strategi dirumuskan. Informasi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk memperbaiki keputusan, mendorong inovasi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat model bisnis.
Dalam konteks Indonesia, Lindawati melihat meningkatnya perhatian terhadap tata kelola, transparansi, dan pelaporan keberlanjutan sebagai perkembangan positif. Tantangannya adalah memastikan berbagai inisiatif tersebut benar-benar terhubung dengan keputusan strategis dan operasional. Kesenjangan antara komitmen, penerapan, dan pelaporan perlu dicermati, meskipun persoalan setiap organisasi tidak selalu sama.
Keberlanjutan, menurut dia, harus tertanam dalam model dan proses bisnis di sepanjang rantai nilai, dari hulu hingga hilir, serta memperhatikan ekosistem tempat organisasi beroperasi. Penerapannya membutuhkan keselarasan antara strategi korporasi, unit bisnis, dan fungsi-fungsi organisasi, sekaligus kerja sama antarfungsi agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Berpikir Menyeluruh, Bertindak Selaras
Berpikir integratif dan bertindak integratif berarti berpikir menyeluruh, bertindak selaras. Setiap keputusan perusahaan perlu mempertimbangkan keterkaitan antara keuntungan, kesejahteraan manusia, kelestarian lingkungan, risiko, dan keberlangsungan usaha. Pemahaman tersebut kemudian diwujudkan melalui strategi dan tindakan yang saling mendukung di seluruh bagian organisasi, sehingga pencapaian hari ini sekaligus memperkuat kemampuan perusahaan untuk bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Lindawati menekankan bahwa penciptaan nilai perlu dipahami lebih luas daripada hasil finansial. Organisasi menggunakan dan memengaruhi enam bentuk modal, yakni modal finansial, manufaktur, intelektual, manusia, sosial dan hubungan, serta alam. Seluruhnya perlu dikelola dengan memahami keterkaitan, ketergantungan, dan dampak yang muncul.
Kualitas sumber daya manusia, misalnya, memengaruhi inovasi dan produktivitas. Hubungan yang baik dengan pemangku kepentingan memperkuat kepercayaan, sedangkan kondisi lingkungan dapat menentukan kelangsungan operasi. Pengenalan terhadap keenam modal tersebut harus disertai cara berpikir dan sistem pengelolaan yang memungkinkan semuanya digunakan secara bertanggung jawab.
Pemahaman itulah yang membedakan integrated thinking dari sekadar konektivitas informasi. Pemikiran terintegrasi merupakan proses internal yang membentuk cara organisasi dikelola dan keputusan diambil. Sementara itu, konektivitas membantu memperlihatkan hubungan tersebut dalam informasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan. Kualitas laporan pada akhirnya bergantung pada kualitas proses dan keputusan yang mendasarinya.
Buku Lindawati mengembangkan pembahasan tersebut dari landasan konseptual hingga penerapan praktis. Uraiannya menelusuri pergeseran paradigma bisnis, dari orientasi keuntungan yang dikaitkan dengan pemikiran Milton Friedman menuju pemahaman nilai yang mencakup pelestarian lingkungan, keadilan sosial, dan ketahanan ekonomi.
Berbagai perspektif lembaga internasional, termasuk IFRS Foundation, IFAC, dan International Finance Corporation (IFC), menjadi rujukan dalam menjelaskan hubungan antara strategi, tata kelola, keberlanjutan, dan kualitas informasi.
Buku ini juga mengutip survei IFAC serta AICPA & CIMA 2026 yang menunjukkan peningkatan proporsi perusahaan yang menyusun laporan ESG terintegrasi, dari 16% menjadi 30%. Temuan tersebut digunakan untuk menggambarkan meningkatnya kebutuhan untuk menghubungkan informasi lingkungan, sosial, dan tata kelola dengan kinerja serta arah bisnis.
Pembahasannya turut mencakup inisiatif International Accounting Standards Board (IASB) dan International Sustainability Standards Board (ISSB) dalam memperkuat keterhubungan informasi keuangan dan keberlanjutan. Cakupan penerapan pemikiran terintegrasi juga diperluas ke strategi pemasaran melalui pembahasan entrepreneurial marketing serta model Omnihouse.
Untuk mendukung penerapannya, buku ini menguraikan pentingnya keterlibatan kepemimpinan, kolaborasi lintas fungsi, pengelolaan risiko dan peluang, serta penyelarasan tujuan strategis dengan pelaksanaan operasional. Melalui pendekatan tersebut, keberlanjutan ditempatkan sebagai kebutuhan strategis untuk menciptakan nilai jangka panjang.
Menjaga Integritas
Lindawati menempatkan profesi akuntan sebagai bagian penting dalam menjaga integritas informasi dan memperkuat akuntabilitas. Laporan harus mencerminkan praktik dan kinerja yang sesungguhnya agar tidak melahirkan klaim keberlanjutan yang menyesatkan atau greenwashing. Informasi yang andal juga menjadi dasar untuk membangun kepercayaan investor.
Karena itu, akuntan dituntut mampu mengolah data dan angka menjadi narasi yang autentik, utuh, serta berguna bagi pengambilan keputusan. Kemampuan komunikasi tersebut membutuhkan pemahaman mendalam mengenai hubungan antara kegiatan bisnis, risiko, kinerja, dan pelaporan.
Komunikasi menjadi keterampilan strategis. Melalui penjelasan yang jelas, berbasis informasi andal, dan persuasif, akuntan dapat membantu manajemen, regulator, serta pemangku kepentingan memahami konsekuensi suatu keputusan.
Lindawati mengatakan, gagasan dalam bukunya berkembang dari pengalaman sebagai akademisi, praktisi, dan bagian dari organisasi profesi. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa di balik angka keuangan terdapat kualitas kepemimpinan, tata kelola, pengelolaan risiko, serta kemampuan manusia yang menentukan kelangsungan organisasi.
Pendekatan tersebut relevan bagi dunia usaha maupun sektor publik. Dalam institusi publik, keterpaduan perlu dibangun sejak perumusan kebijakan, perencanaan, pengalokasian sumber daya, dan pelaksanaan program hingga pertanggungjawaban atas manfaatnya bagi masyarakat.
Buku ini pun ditujukan bagi berbagai kalangan. Akademisi memperoleh bahan pengembangan teori dan pendidikan, praktisi mendapatkan panduan penerapan, sementara regulator dan pembuat standar dapat memperoleh wawasan untuk menyelaraskan kerangka kerja. Investor memperoleh perspektif untuk menilai ketahanan perusahaan dan kemampuannya menciptakan nilai jangka panjang.
Meski demikian, Lindawati mengingatkan bahwa tidak ada satu pola penerapan yang cocok untuk seluruh organisasi. Strategi perlu disesuaikan dengan karakteristik, sumber daya, dan tantangan masing-masing. Prinsip yang harus dijaga adalah pengambilan keputusan yang mempertimbangkan keterkaitan berbagai faktor, konsistensi dengan tujuan jangka panjang, serta komitmen keberlanjutan yang terlihat dalam tindakan nyata.
Turut Menjaga Marwah BPK
Ketua BPK RI Isma Yatun mengapresiasi kontribusi Lindawati dalam memperkuat integritas, etika profesi, dan akuntabilitas. Menurut Isma, Lindawati merupakan akademisi yang menghadirkan keilmuannya langsung dalam praktik menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga pemeriksa keuangan negara.
“Beliau hadir sebagai akademisi yang turut menjaga marwah BPK,” ujar Isma dalam testimoninya.
Isma menuturkan, sejak 2021 Lindawati mengemban amanah sebagai anggota Majelis Kehormatan Kode Etik BPK RI dari unsur akademisi. Selama dua periode pengabdiannya, ia tidak hanya menunjukkan ketegasan dalam menegakkan kode etik, tetapi juga mendorong pencegahan pelanggaran melalui edukasi dan penguatan kesadaran etika.
Sebagai satu-satunya perempuan dalam keanggotaan majelis tersebut, menurut Isma, Lindawati menghadirkan perpaduan ketelitian, kehati-hatian, empati, dan keteguhan prinsip. Ia mampu menjembatani teori dengan praktik serta menunjukkan bahwa ketegasan dapat berjalan beriringan dengan kebijaksanaan.
“Kompetensi dan profesionalisme hanya akan memberikan manfaat yang berkelanjutan apabila berjalan berdampingan dengan integritas dan keteladanan,” kata Isma.
Ia menilai buku Lindawati mencerminkan semangat pengabdian tersebut. Gagasan berpikir terintegrasi mengajak organisasi menghubungkan strategi, risiko, tata kelola, kinerja, dan pelaporan untuk menciptakan manfaat jangka panjang. Dalam pengelolaan keuangan negara, akuntabilitas harus menjangkau hasil pembangunan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Akuntabilitas tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah anggaran ini telah digunakan sesuai ketentuan. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan bertanya, apa yang berubah,” ujarnya.
Bagi Isma, karya tersebut sekaligus menjadi sarana mewariskan pengetahuan dan pengalaman Lindawati kepada generasi muda. Pesan utamanya adalah keberanian mengubah pemikiran menjadi tindakan nyata, tanpa harus menunggu seluruh kondisi sempurna untuk memulai perubahan.
Hadir pada Momentum yang Tepat
Dari perspektif dunia usaha, Julius Aslan menilai buku tersebut hadir pada momentum yang tepat. Ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik menuntut perusahaan mampu menghubungkan pemikiran strategis dengan tindakan nyata untuk menjaga kelangsungan usaha.
Menurut Julius, salah satu kekuatan buku Lindawati adalah mempertemukan pembahasan mengenai pemikiran dan pelaksanaan yang kerap disajikan secara terpisah. Pendekatan itu membantu pelaku usaha memahami keterkaitan antara kinerja keuangan, keberlanjutan, tata kelola, manajemen risiko, dan hubungan dengan pemangku kepentingan.
Ia mengakui bahwa sebagian pelaku usaha masih melihat keberlanjutan sebagai tambahan beban. Padahal, keberlanjutan perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi sejak awal dan dijalankan bersama dengan upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Transparansi dan akuntabilitas pun harus menyatu dengan pengelolaan bisnis.
Julius menilai keterpaduan tersebut dapat memperkuat kemampuan organisasi mencapai tujuan sekaligus memberikan kontribusi yang lebih baik kepada masyarakat. Keberlanjutan, dalam pandangannya, semakin menjadi kebutuhan bagi kelangsungan usaha.
Selain mengapresiasi gagasan dalam buku, Julius menyampaikan kesan personal terhadap Lindawati yang dikenalnya sekitar 15 tahun lalu. Ia menggambarkan Lindawati sebagai sosok ramah, rendah hati, berintegritas, dan terbuka untuk berbagi pengetahuan. Keluasan ilmunya disertai sikap yang membuat orang lain nyaman berdiskusi.
Sementara itu, Sidharta Gautama menilai buku Lindawati menjawab kebutuhan penting akan panduan untuk menjembatani konsep keberlanjutan dengan penerapannya. Berbagai ketentuan, prinsip tata kelola, dan standar pelaporan telah mendorong organisasi memperhatikan keberlanjutan, tetapi penerapannya membutuhkan pemahaman yang memadai.
Menurut Sidharta, organisasi perlu mengetahui bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam pengelolaan bisnis sehari-hari. Buku Lindawati membantu menjawab kebutuhan itu dengan menghubungkan gagasan akademis dan persoalan praktis yang dihadapi organisasi.
Ia menegaskan bahwa perubahan menuju bisnis berkelanjutan membutuhkan pergeseran cara pandang yang mendasar. Perhatian organisasi perlu diperluas dari hasil keuangan menuju penciptaan nilai dalam berbagai dimensi, dengan orientasi yang menjangkau masa depan dan melampaui penilaian atas kinerja historis.
Sidharta juga menyoroti luasnya peran profesi akuntan. Selama ini, masyarakat kerap mengaitkan akuntansi terutama dengan penyusunan laporan keuangan. Padahal, keilmuan tersebut dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam pengelolaan organisasi, pengukuran kinerja, dan pengambilan keputusan strategis. Ia melihat perjalanan keilmuan Lindawati sebagai contoh kontribusi tersebut.
Kiprah Akademik dan Profesional
Prof. Dr. Lindawati Gani, Ak., CA, FCMA, CGMA, FCPA, ASEAN CPA, merupakan akademisi dan profesional akuntansi yang memadukan pengabdian di dunia pendidikan dengan kiprah dalam organisasi profesi, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Lahir di Surabaya, 4 Mei 1962, ia menekuni bidang akuntansi hingga menjadi Guru Besar Ilmu Akuntansi Manajemen FEB UI sejak 2011.
Ia meraih gelar Sarjana Akuntansi dari Universitas Airlangga pada 1985, kemudian MBA dari Institut Pengembangan Manajemen Indonesia pada 1986. Ia memperdalam keahliannya di Universitas Indonesia dengan menyelesaikan Magister Manajemen bidang Akuntansi Manajemen pada 1994 dan meraih gelar doktor dalam bidang yang sama pada 2002.
Lindawati memulai pengabdiannya sebagai pendidik di Universitas Airlangga pada 1987, kemudian mengajar di Universitas Indonesia sejak 1995. Di FEB UI, ia pernah memimpin Program Magister Akuntansi dan Pendidikan Profesi Akuntansi pada 2003–2013, turut menyiapkan generasi akuntan yang mampu menghubungkan pengetahuan akademis dengan kebutuhan dunia profesional.
Di luar kampus, Lindawati aktif sebagai anggota Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia sejak 2014. Sejak 2021, ia juga dipercaya menjadi anggota Majelis Kehormatan Kode Etik BPK RI, membawa keahlian dan pengalamannya untuk mendukung penguatan etika serta integritas lembaga pemeriksa keuangan negara.
Kiprahnya di tingkat internasional mencakup peran sebagai anggota Professional Accountants in Business Advisory Group IFAC, Council Member ASEAN Federation of Accountants, serta Board Member Chartered Accountants Worldwide. Melalui berbagai peran tersebut, Lindawati terus berkontribusi dalam pengembangan kompetensi akuntan, penguatan tata kelola, serta peningkatan kualitas pelaporan korporat dan standar keberlanjutan.
