Setuju atau Tidak? MotoGP Terapkan Konsep Jendela Transfer dan Degradasi ala Sepak Bola
JAKARTA, investortrust.id – Ide penggunaan jendela transfer dan degradasi yang mirip sistem di sepak bola muncul sebagai topik pembicaraan di MotoGP. Tujuannya, mengubah dinamika pasar pembalap dan membuat persaingan jauh lebih menarik. Setuju atau tidak?
Perdebatan jendela transfer dan degradasi muncul pertama kalinya dari kemenangan Fabio di Giannantonio di MotoGP Qatar. Meski menang, dia menghadapi ketidakpastian masa depan. Sebab, motornya akan digunakan Marc Marquez musim depan.
Situasi seperti ini membingungkan banyak pelaku MotoGP. Mereka membayangkan jika sistem di sepak bola diterapkan, musim depan Fabio di Giannantonio pasti akan mendapatkan tim MotoGP kelas kakap. Mereka membayangkan pemain yang baru saja juara dengan klub kecil pasti akan dipinang klub besar pada musim berikutnya.
“Saya sangat mendukungnya. Di olahraga lain, seperti sepak bola, ada degradasi jika anda di bawah dan promosi jika anda berada di puncak,” ujar Crew Chief Fabio di Giannantonio, Frankie Carchedi, kepada TNT Sports.
“Saya ingin melihat sesuatu seperti itu! Misalnya, jika anda berada di tiga besar Moto2 dan kemudian dia berada di posisi ke-12 di klasemen MotoGP, terlihat tidak adil. Ada banyak politik. Melihat perkembangannya sekarang, dia (Fabio di Giannantonio) layak untuk tetap bersaing,” tambah Frankie Carchedi.
Baca Juga
Team Order untuk Bantu Francesco Bagnaia di MotoGP Valencia? Ducati Bilang Begini
Bukan hanya Frankie Carchedi, Sylvain Guintoli juga memberikan tanggapan terhadap ide ini. “Saya berbicara dengan Davide Brivio. Dia membicarakan bursa transfer pembalap, dan mencetuskan ide tentang jendela transfer di akhir musim, mirip dengan sepak bola,” ucap Sylvain Guintoli.
“Ide ini menarik. Terkadang, kontrak sudah ditandatangani satu tahun sebelumnya. Ini bisa menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan di masa depan,” tambah Sylvain Guintoli.
Tapi, bukan berarti ide ini akan mulus dilanksanakan. Sebab, MotoGP memiliki kendala dalam jumlah motor yang terbatas.
Untuk kasus Fabio di Giannantonio, dirinya menjadi korban keinginan Marc Marquez untuk pindah dari Honda ke Ducati pada 2024. Pembalap biasanya memiliki kontrak dua tahun. Tapi, Fabio di Giannantonio berada di penghujung kontraknya dengan Gresini, sehingga mudah untuk ditinggalkan.
“Ada orang-orang yang telah berjuang bertahun-tahun. Fabio baru di tahun kedua! Ini tidak seperti dia sudah berada di sini selama lima atau 10 tahun. Jadi, mengapa dia harus pergi pada akhir musim ini?” pungkas Frankie Carchedi.
Baca Juga
Mungkinkah Terjadi? Skenario Francesco Bagnaia Juara di Sprint Race MotoGP Valencia

