Erick Thohir: Juara FIFA ASEAN Cup Menjadi Sejarah Baru, Garuda Bidik Piala Dunia 2030
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Tim Nasional Indonesia menorehkan sejarah baru. Skuad Garuda tampil sebagai juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menundukkan Thailand 4-2 melalui adu penalti dalam final dramatis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (05/10/2026) malam.
Kedua tim bermain imbang 2-2 hingga 120 menit pertandingan. Indonesia kemudian tampil lebih tenang dalam adu penalti. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama berhasil menuntaskan eksekusi mereka, sementara dua penendang Thailand gagal. Kapten Thailand Sarach Yooyen membentur tiang, sedangkan tendangan Nattapong Sayriya digagalkan kiper Indonesia Emil Audero. (FIFA)
Kemenangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang menjuarai FIFA ASEAN Cup, kompetisi yang baru pertama kali digelar FIFA pada 2026. Turnamen perdana itu diikuti 14 tim—11 negara ASEAN dan tiga tim undangan—dalam dua divisi serta diselenggarakan di Indonesia dan Hong Kong, China. FIFA menempatkan turnamen tersebut dalam kalender pertandingan internasional putra September-Oktober.
Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut keberhasilan tersebut sebagai sejarah baru bagi sepak bola Indonesia. Namun, menurut dia, trofi FIFA ASEAN Cup tidak boleh menjadi titik akhir. Gelar itu justru harus menjadi pijakan bagi Timnas Indonesia untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, terutama Piala Asia 2027 dan perjuangan menuju Piala Dunia 2030.
Baca Juga
Prabowo Gembira dan Bangga Indonesia Menang Lawan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup
Erick memberikan apresiasi kepada seluruh pemain yang bertarung hingga detik terakhir dalam pertandingan yang berlangsung ketat dan penuh drama tersebut. “Kita harus akui Thailand tim yang sangat bagus, saya apresiasi perjuangan pemain sampai detik terakhir,” kata Erick seusai pertandingan di SUGBK.
Menurut Erick, perjalanan Indonesia hingga menjadi juara memperlihatkan bahwa tidak ada pertandingan di level internasional yang dapat dianggap mudah. Indonesia sebelumnya harus menentukan nasib pada pertandingan terakhir fase grup dengan kemenangan 9-2 atas Bangladesh sebelum kemudian menghadapi Thailand dalam laga final yang berlangsung hingga adu penalti.
“Dua game yang tidak mudah, (lawan Bangladesh) 9-2 tidak mudah, hari ini juga 2-2, tidak mudah. Ini pelajaran bagus untuk semua pemain dan pelatih bahwa kalau memang kita mau masuk Piala Dunia (2030),” ujar Erick.
Karena itu, Erick mengingatkan euforia kemenangan harus segera diikuti dengan kerja yang lebih serius. Standar permainan, kedalaman skuad, konsistensi, hingga kemampuan menghadapi tekanan pertandingan besar masih harus terus ditingkatkan. “Kita harus serius mempersiapkan dan tantangannya sangat berat, tapi kita bangsa Indonesia, bukan bangsa kalahan, kita harus terus tingkatkan sepak bola kita,” tegas Erick.
Drama 120 Menit di GBK
Final melawan Thailand menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam perjalanan Timnas Indonesia. Babak pertama berakhir tanpa gol meskipun Indonesia tampil lebih agresif dalam penguasaan bola dan menciptakan sejumlah peluang melalui Mitchell Baker dan Calvin Verdonk.
Momentum pertandingan berubah pada penghujung babak kedua. Thailand harus bermain dengan 10 pemain setelah Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua. Dari pelanggaran tersebut, Dean James mengeksekusi tendangan bebas yang mengenai Iklas Sanron sebelum bola masuk ke gawang Thailand pada menit ke-84.
Namun, keunggulan Indonesia hanya bertahan tiga menit. Iklas membayar kesalahannya dengan menyambar umpan Seksan Ratree pada menit ke-87 dan membawa Thailand menyamakan skor 1-1.
Baca Juga
Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Erick Thohir: Tuhan Bersama Kita
Drama belum berakhir. Meski bermain dengan 10 pemain, Thailand justru berbalik unggul pada menit ke-111 melalui Peeradol Chamrasamee. Publik SUGBK sempat terdiam sebelum Elkan Baggott muncul sebagai penyelamat. Lima menit kemudian, bek jangkung Indonesia itu melepaskan tembakan yang membentur bagian bawah mistar dan masuk ke gawang untuk membuat skor kembali imbang 2-2.
Tidak ada gol tambahan hingga perpanjangan waktu selesai. Dalam adu penalti, ketenangan para pemain Indonesia dan penampilan Emil Audero akhirnya menentukan. Garuda menang 4-2 dan mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup untuk pertama kalinya.
Kemenangan tersebut juga mengakhiri catatan panjang tanpa kemenangan Indonesia atas Thailand. FIFA mencatat, sebelum final ini Indonesia telah melewati delapan pertandingan dan rentang sekitar 10 tahun tanpa mampu mengalahkan Thailand. Garuda memutus catatan tersebut justru pada pertandingan terpenting: final edisi pertama FIFA ASEAN Cup.
Melanjutkan Momentum Emas SEA Games
Gelar FIFA ASEAN Cup 2026 melanjutkan momentum kebangkitan prestasi sepak bola Indonesia setelah keberhasilan Garuda Muda merebut medali emas SEA Games 2023 di Kamboja.
Saat itu, Indonesia U-22 juga menghadapi Thailand pada pertandingan final. Dalam duel yang berlangsung sengit di Olympic Stadium, Phnom Penh, Indonesia menang 5-2 setelah perpanjangan waktu. Keberhasilan tersebut mengakhiri penantian 32 tahun Indonesia untuk kembali meraih medali emas sepak bola putra SEA Games setelah terakhir kali menjadi juara pada 1991.
Bedanya, keberhasilan di FIFA ASEAN Cup 2026 diraih oleh Timnas senior dalam turnamen FIFA. Indonesia sekaligus tercatat sebagai juara pertama sepanjang sejarah kompetisi tersebut. FIFA sendiri menyebut Indonesia sebagai maiden FIFA ASEAN Cup champions.
Sejak sebelum turnamen dimulai, Erick memang telah memasang target agar Indonesia tidak sekadar sukses sebagai tuan rumah. Ia menginginkan momentum penyelenggaraan edisi perdana FIFA ASEAN Cup menjadi kesempatan bagi Garuda untuk mencatatkan sejarah.
Ambisi tersebut sejalan dengan target jangka panjang yang dibangun PSSI bersama pelatih John Herdman. Sebelum turnamen, Herdman mengungkapkan bahwa salah satu alasan Erick membawanya menangani Timnas Indonesia adalah visi untuk membawa Garuda menuju Piala Dunia 2030, sekaligus meningkatkan posisi Indonesia di level Asia dan meraih trofi internasional.
Kini, satu target berupa trofi telah diwujudkan. Namun Erick menegaskan pekerjaan belum selesai. Ia mengatakan evaluasi tetap akan dilakukan bersama tim pelatih karena masih terdapat sejumlah kelemahan yang harus diperbaiki menjelang PialaAsia 2027.
Baca Juga
Ukir Sejarah! Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Menang Adu Penalti atas Thailand
Bagi sepak bola Indonesia, trofi di GBK itu karena itu memiliki arti lebih luas daripada sekadar kemenangan atas Thailand. Gelar tersebut menjadi bukti bahwa Garuda mulai mampu mengubah peningkatan kualitas skuad menjadi prestasi konkret.
Dari emas SEA Games 2023 menuju trofi FIFA ASEAN Cup 2026, tantangan berikutnya jauh lebih berat: meningkatkan daya saing di tingkat Asia dan membangun tim yang mampu bersaing memperebutkan tiket Piala Dunia 2030.
FIFA ASEAN Cup telah memberikan Indonesia sebuah trofi. Namun bagi Erick, nilai terpenting dari kemenangan tersebut adalah keyakinan bahwa target yang lebih tinggi hanya dapat dicapai melalui persiapan yang lebih serius, konsistensi, dan keberanian menaikkan standar sepak bola nasional. Seperti disampaikan Erick dalam perayaan kemenangan tersebut: “Ketika Indonesia bersatu, tidak ada yang tidak mungkin.”
