Kisah Inspiratif Ander Herrera, Rela Tak Digaji Demi Bangkitkan Klub Masa Kecil
Poin Penting
|
ZARAGOZA, investortrust.id – Ander Herrera memilih menutup kariernya dengan cara yang sangat personal. Setelah 15 tahun berkelana dan merasakan atmosfer klub-klub besar Eropa, gelandang berusia 37 tahun itu kembali ke Real Zaragoza, klub masa kecil yang membentuknya sebagai pesepak bola sekaligus manusia.
Herrera meninggalkan Boca Juniors dan kembali ke Zaragoza dengan status bebas transfer pada musim panas ini. Yang membuat kepulangannya semakin istimewa, dia memutuskan menyumbangkan gajinya kepada yayasan klub sebagai bentuk dukungan untuk tim dan kota kelahirannya.
Bagi eks gelandang Manchester United, keputusan tersebut bukan sekadar transfer. Dia menyebut kembali mengenakan seragam Zaragoza sebagai impian yang selama bertahun-tahun ingin diwujudkan.
Baca Juga
Galatasaray Naikkan Tawaran Rafael Leao Jadi Rp855 Miliar Plus Bonus
“Ini mungkin merupakan mimpi terakhir yang ingin saya wujudkan. Kembali ke rumah, ke tempat saya tumbuh, yang memberi saya kesempatan menjadi pemain profesional, bukan hanya dalam sepak bola, tapi juga sebagai manusia,” ujar Herrera, dilansir BBC Sport.
“Dan saya masih memiliki gairah, masih memiliki keinginan. Saya masih memiliki kecintaan terhadap sepak bola dan melakukannya di rumah adalah cara terbaik untuk mengakhiri karier saya. Di Spanyol, kami menyebutnya menutup lingkaran,” lanjut Herrera.
Herrera pertama kali memperkuat tim utama Zaragoza pada 2009. Dua tahun kemudian, dia meninggalkan klub yang sedang mengalami masalah finansial tersebut dan melanjutkan karier bersama Athletic Bilbao.
Setelah itu, perjalanan Herrera membawanya ke berbagai klub besar. Dia kembali memperkuat Athletic Bilbao, kemudian bermain untuk Manchester United, Paris Saint-Germain (PSG), dan terakhir Boca Juniors.
Selama perjalanan tersebut, Herrera mengoleksi sejumlah trofi bergengsi, termasuk Liga Europa dan Piala FA, serta beberapa gelar liga. Dia juga pernah bekerja bersama sejumlah pelatih top seperti Jose Mourinho, Thomas Tuchel, hingga Marcelo Bielsa. Dirinya juga berbagi ruang ganti dengan Lionel Messi, Neymar, hingga Wayne Rooney.
Namun, di tengah kesuksesan pribadi itu, Herrera tidak pernah melupakan Zaragoza. Klub yang pernah menjuarai Piala Winners 1995 tersebut justru mengalami kemunduran panjang hingga terlempar ke kasta ketiga sepak bola Spanyol.
Zaragoza terdegradasi dari La Liga pada musim 2012/2013, setahun setelah Herrera meninggalkan klub. Setelah bertahun-tahun mengalami penurunan prestasi di level kedua, Zaragoza akhirnya terpuruk ke kasta ketiga.
“Sangat menyedihkan, tentu saja, bagi kami semua yang mencintai Zaragoza. Real Zaragoza adalah klub yang seharusnya berada di Eropa, bersaing memperebutkan trofi, serta bertarung dengan klub-klub terbesar di Spanyol dan Eropa,” kata Herrera.
Kini, Herrera ingin membantu klub tersebut kembali ke tempat yang menurutnya layak mereka tempati. Dia membawa pengalaman panjangnya di level tertinggi sepak bola Eropa sebagai modal untuk membangun kembali Zaragoza.
“Saya ingin memberikan kualitas, pengalaman, dan gairah saya untuk mencoba membantu tim saya kembali ke tempat yang menurut saya seharusnya menjadi milik kami. Sejak hari pertama saya datang, saya tidak ingin terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Kami sudah terlalu banyak membicarakan apa yang telah kami lakukan dengan salah,” ujar Herrera.
“Berhentilah menangisi apa yang terjadi di masa lalu. Mari membangun masa depan. Mari datang setiap hari ke latihan dengan senyuman,” tambah Herrera.
Menariknya, kepulangan Herrera juga memiliki sisi yang tidak biasa. Dia tidak membutuhkan kontrak dengan nilai finansial besar setelah menikmati karier panjang dan sukses di luar negeri. Bahkan, Herrera memilih memberikan gajinya kepada yayasan Zaragoza.
“Saya tidak membutuhkan kontrak. Saya sudah menjalani karier yang sangat sukses. Saya sudah mengelola uang saya dengan baik. Saya bisa memberikan hadiah ini kepada diri saya sendiri. Mengenakan seragam ini secara gratis karena saya ingin membantu klub, tim, dan kota saya,” ungkap Herrera.
“Ini adalah sesuatu yang ingin saya lakukan. Ini adalah sesuatu yang bisa saya lakukan dan membuat saya sangat bangga karena bisa berada di sini hanya untuk membantu. Saya tidak memikirkan uang atau kontrak. Saya merasa mendapat keistimewaan karena bisa melakukan itu,” beber Herrera.
Kecintaan Herrera terhadap Zaragoza memang sudah tumbuh sejak kecil. Dia merupakan penggemar klub sebelum akhirnya masuk ke tim utama. Bahkan, ayahnya, Pedro Herrera, pernah menjadi pemain sekaligus direktur umum Zaragoza.
Salah satu kenangan masa kecil yang paling melekat adalah keberhasilan Zaragoza menjuarai Piala Winners 1995. Herrera menyaksikan dari rumah ketika Zaragoza mengalahkan Arsenal di Parc des Princes, stadion yang kemudian menjadi kandang Paris Saint-Germain (PSG), klub yang juga pernah dia bela.
“Sekarang anda bisa melihat perbedaan antara Arsenal dan Real Zaragoza, tapi dulu kami mampu melawan raksasa-raksasa tersebut,” pungkas Herrera.
Baca Juga
Cek Videonya! Momen Matteo Guendouzi Bikin Keributan di Play-off Liga Champions
