Siapa Berminat? Eks Juara Liga Premier Leicester City Siap Dilepas Rp5,34 Triliun
Poin Penting
|
LEICESTER, investortrust.id – Leicester City berada di titik terendah setelah keluarga Srivaddhanaprabha membuka peluang menjual klub yang pernah mengejutkan dunia dengan menjuarai Liga Premier. The Foxes kini ditawarkan kepada calon investor dengan harga mencapai £222 juta (Rp5,34 triliun).
Situasi Leicester City saat ini kontras dengan pencapaian satu dekade lalu. Pada musim 2015/2016, The Foxes menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris dengan menjuarai Liga Premier.
Saat itu, Leicester yang bukan unggulan mampu mengungguli klub-klub elite dan merebut gelar Liga Premier secara sensasional. Tapi, skuad juara tersebut perlahan terpecah. Sejumlah pemain penting kemudian pindah ke klub-klub besar. Riyad Mahrez bergabung dengan Manchester City, sedangkan N'Golo Kante pindah ke Chelsea.
Baca Juga
Jumat Deadline Chelsea untuk Enzo Fernandez: Bayar Rp2,89 Triliun atau Lupakan!
Setelah era keemasan tersebut berakhir, performa Leicester City terus menurun. Klub sempat terdegradasi dari Liga Premier, kembali promosi, lalu kembali mengalami kemerosotan hingga akhirnya terjun ke League One.
Meski merosot, keluarga Srivaddhanaprabha sebelumnya tidak menunjukkan keinginan untuk melepas Leicester City. Tapi, tekanan finansial yang semakin besar membuat penjualan klub kini menjadi opsi yang serius.
Dengan harga awal £222 juta (Rp5,34 triliun), keluarga pemilik Leicester City asal Thailand itu berharap menemukan investor yang bersedia mengambil alih klub sekaligus aset-asetnya. Kabar penjualan Leicester City diungkap melalui proposal bertajuk Project Lineup. Paket yang ditawarkan tidak hanya mencakup klub sepak bola, melainkan juga sejumlah aset utama seperti King Power Stadium, pusat latihan Seagrave, serta Belvoir Drive.
Menurut laporan yang dikutip dari media Inggris, Dailymail, total aset Leicester City diperkirakan mencapai £204 juta (Rp4,90 triliun). Namun, harga yang diminta keluarga Srivaddhanaprabha berada di atas valuasi klub secara keseluruhan.
Nilai Leicester diperkirakan lebih realistis berada di kisaran £148 juta (Rp3,56 triliun). Penurunan tersebut tidak lepas dari kondisi klub yang terpuruk ke League One atau kompetisi kasta ketiga sepak bola Inggris, serta masalah keuangan yang terus membebani dalam beberapa tahun terakhir.
Leicester City juga mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir. Klub dilaporkan boncos masing-masing sebesar £92,5 juta (Rp2,22 triliun), £89,7 juta (Rp2,16 triliun), £19,4 juta (Rp466,4 miliar), dan terbaru £71,1 juta (Rp1,71 triliun).
Akumulasi kerugian tersebut mencapai lebih dari £270 juta (Rp6,49 triliun) sejak 2021. Kondisi finansial tersebut membuat masa depan Leicester City semakin sulit, terutama setelah klub kembali terdegradasi dari Championship ke League One untuk musim 2026/2027.
Masalah Leicester City semakin pelik setelah klub dinyatakan melanggar aturan Profit and Sustainability Rules. Pada Februari 2026, The Foxes dijatuhi hukuman pengurangan enam poin setelah dinyatakan melanggar aturan keuangan untuk periode yang berakhir pada musim 2023/2024. Hukuman tersebut kemudian dipertahankan setelah proses banding pada April 2026.
Baca Juga
Kisah Brian Madjo, Remaja 17 Tahun Cetak Gol Aston Villa di Piala Super Eropa

