Merawat Ikatan Sosial Lewat Nobar Piala Dunia 2026 dan Siaran Berkualitas TVRI
Oleh: Andre Dubari*)
INVESTORTRUST - Piala Dunia 2026 memang telah selesai digelar dengan Spanyol keluar sebagai juara. Ruang-ruang publik pun kembali kepada fungsinya seperti semula.
Selama perhelatan Piala Dunia 2026, banyak ruang publik, seperti lapangan, pos ronda, gang sempit, hingga kompleks perumahan yang disulap untuk mengakomodasi hasrat masyarakat menonton sepak bola secara bersama-sama atau karib disebut nonton bareng (nobar).
Pemandangan itu seperti tak pernah menua di Tanah Air setiap kali gelaran Piala Dunia menyapa. Kerumunan warga yang duduk bersila di depan sebuah televisi yang diletakkan di atas meja kayu sederhana. Tak hanya televisi, warga terkadang juga menonton melalui layar lebar yang pada bagian pojok kiri atas terdapat logo TVRI menyiarkan laga pembuka hingga laga pamungkas Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina.
Di era ketika setiap orang bisa menonton apa pun dari genggaman ponsel, kehadiran TVRI yang menyiarkan pesta bola ini justru menghidupkan kembali sebuah tradisi kultural yang luhur, yakni budaya "guyub" atau kebersamaan.
Berdasarkan survei yang dilakukan Lokadata bersama TVRI, tercatat sebanyak 40,8% warga melakukan nobar secara swadaya selama pergelaran Piala Dunia 2026. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding dengan nobar komersial yang digelar oleh beberapa kafe maupun restoran yang tercacat di angka 26,%. Berdasarkan data tersebut TVRI juga mencatat bahwa titik temu penonton berada di ruang komunitas.
Nobar bagi masyarakat Indonesia bukan sekadar aktivitas menonton pertandingan sepak bola. Nobar adalah sebuah ritual sosial. Di sana, ada aroma kopi tubruk yang mengepul, tumpukan kacang rebus, hingga riuh rendah diskusi taktik yang terkadang lebih panas dari apa yang terjadi di lapangan hijau.
TVRI, dengan jangkauannya yang menembus batas-batas geografis—dari gang sempit di Jakarta hingga pelosok desa di pegunungan Papua—telah menjadi fasilitator utama dari ritual budaya ini.
Oleh sebabnya dalam survei yang dilakukan TVRI bersama Lokadata, mereka mencatat nobar menjadi kebiasaan mayoritas, yakni sekitar 78,1% masyarakat pernah melakukannya meski hanya minimal satu kali. Sebanyak 67,6% memiliki akses nobar yang berada di sekitar kediaman masing-masing. Angka tersebut diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 1.176 responden dengan komposisi gender hampir berimbang yakni 51,4% perempuan dan 48,6% laki-laki.
Masih terawatnya budaya nobar ini juga didukung dengan kualitas siaran dari TVRI selama menyiarkan laga Piala Dunia 2026. Dari survei tersebut, performa TVRI dinilai positif oleh 79,9% penonton sementara 73,0% menyatakan bangga atas kualitas siaran dari TVRI.
Secara kultural, nobar Piala Dunia adalah antitesis dari tren individualisme digital. Ketika teknologi cenderung membuat kita asyik dengan "layar pribadi", siaran publik memaksa kita untuk kembali ke "layar bersama". Di depan laya, sekat-sekat sosial luruh seketika. Tidak ada lagi perbedaan jabatan, latar belakang suku, atau pilihan politik. Yang ada hanyalah sekumpulan warga yang serempak menahan napas saat penyerang lawan menusuk jantung pertahanan, dan serempak pula bersorak "Gol!" hingga membangunkan tetangga sebelah.
Inilah esensi dari "Saluran Pemersatu Bangsa". TVRI menjalankan peran budayanya dengan memastikan bahwa hak untuk merasa bahagia melalui sepak bola tidak hanya dimiliki oleh mereka yang mampu membayar biaya langganan bulanan. Dengan menyajikannya secara gratis melalui antena UHF, TVRI menjaga agar budaya nobar tetap inklusif. Di sini, keadilan informasi bertemu dengan kehangatan sosial; sebuah kombinasi yang jarang ditemukan di era komersialisasi siaran seperti sekarang. Lebih jauh lagi, nobar di balai warga atau pos ronda menciptakan ruang aman untuk interaksi antar-generasi.
Anak-anak muda belajar tentang sportivitas dan sejarah bola dari orang tua, sementara yang tua merasa tetap relevan dengan mendiskusikan pemain-pemain bintang masa kini. Interaksi inilah yang memperkuat kohesi sosial kita sebagai sebuah bangsa.
Selain esensi menonton sepak bola, aktivitas nobar yang dilakukan masyarakat di sudut-sudut kota sekaligus sebagai pengingat bahwa hiburan tak semata harus mahal. Hal inilah yang menjadikan nobar menjadi kegiatan heterogen yang bisa diraih oleh semua kalangan. Mengingat aktivitas itu tidak memerlukan banyak hal melainkan hanya butuh sebuah layar besar untuk memikat masyarakat diam di satu tempat dengan tujuan bersama.
Nobar yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat masih mendominasi selama perhelatan Piala Dunia 2026. Sebanyak 67,6% responden memiliki akses nobar di sekitar rumah yang difasilitasi oleh masyarakat itu sendiri.
Atas kesuksesannya ini, TVRI pun memiliki peluang sebagai penyelenggara siaran kelas dunia yang bukan tidak mungkin dapat mengulang torehan emas ini dalam ajang internasional selanjutnya. Meski bukan yang pertama kali menyiarkan siaran olahraga, ajang Piala Dunia 2026 kali ini bisa menjadi peluang bagi TVRI untuk semakin mengikat hati masyarakat Indonesia akan tayangan berkualitas.
Hal ini karena dalam kurun beberapa tahun terakhir, tayangan olahraga khususnya sepak bola lebih didominasi oleh stasiun TV swasta. Namun, dengan suksesnya menjadi host broadcasting pada ajang sekelas Piala Dunia 2026, paling tidak dapat menimbulkan rasa percaya diri TVRI bahwa mereka tidak kalah dalam urusan siaran berkualitas bertaraf internasional.
Selepas Piala Dunia 2026, bukan tidak mungkin TVRI bisa menjadi kompetitor serius soal urusan siaran jernih khususnya dalam dunia si kulit bundar sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa siaran berkualitas itu ada pada diri stasiun televisi milik pemerintah.
*) Andre Dubari, Bendahara Umum ICCN (Indonesia Creative Cities Network)
