Akademisi Nilai Serial Avatar: The Last Airbender Bukti Kekuatan Pasar Nostalgia
JAKARTA, investortrust.id - Akademisi Institut Kesenian Jakarta Satrio Pamungkas menilai nostalgia dan basis penggemar lama menjadi modal penting bagi industri hiburan. Hal itu salah satunya dibuktikan dengan kehadiran serial "Avatar: The Last Airbender" dalam format aksi peran nyata atau live action
“Nostalgia dalam seni hiburan itu pasti, bahkan sangat kuat,” kata Pepo, sapaan Satrio Pamungkas dalam keterangan yang diterima Rabu (22/7/2026).
Baca Juga
Wamen Nezar: Festival Film Keluarga Bisa Menjadi Cara Baru Kenalkan PP Tunas
Menurutnya, karya yang telah memiliki banyak penggemar memberi rasa percaya diri lebih besar kepada produsen untuk menghadirkannya kembali.
“Apalagi kalau sebuah karya memang sudah mempunyai basis penonton yang banyak. Termasuk 'Dragon Ball', 'Doraemon', atau apa pun yang mempunyai basis penggemar luar biasa. Apalagi 'The Last Airbender', sejak awal memang sudah memiliki basis penonton yang besar,” katanya.
Pengamat industri film ini menyatakan, industri akan melihat peluang penonton lama masih dapat ditarik kembali. Adaptasi dalam format baru juga menjadi strategi memperkenalkan cerita tersebut kepada generasi penonton baru.
Namun, Pepo menilai mengandalkanama besar saja tidak cukup. Ia melihat versi baru tetap harus mempunyai daya tarik yang membedakannya dari karya sebelumnya.
"Tetap harus ada unique selling point yang bisa menghadirkan kembali penonton lama sekaligus memperoleh penonton yang lebih banyak,” katanya.
Serial "Avatar: The Last Airbender" yang tayang di Netflix dinilai memiliki ruang lebih besar untuk membangun hubungan antara penonton dan karakter. Pepo menilai, cerita yang lebih panjang membuat perkembangan tokoh dapat diikuti secara bertahap sehingga ini pembeda dengan format film tunggal yang mempunyai durasi lebih terbatas.
“Melalui serial, kita menjadi lebih terikat, lebih dekat, dan lebih pekat dalam mengikuti cerita maupun tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama,” kata Pepo.
Dipaparkan, perbedaan antara versi animasi dan live action merupakan konsekuensi dari proses adaptasi. Penyederhanaan alur dan karakter dibutuhkan agar cerita sesuai dengan durasi serta medium yang digunakan.
“Itulah uniknya adaptasi. Tidak harus sama karena ada pengembangan. Perubahan itu merupakan bagian dari keindahan seni ketika sebuah karya berpindah dari bentuk seni yang satu menjadi bentuk seni yang baru,” ujar Pepo.
Baca Juga
Dibintangi Gal Gadot, Film Bitcoin Berbasis AI Tuai Pro Kontra
Bagi industri, basis penggemar yang sudah terbentuk pada akhirnya mengurangi ketidakpastian pasar. Produsen tidak sepenuhnya memulai dari nol karena nama, karakter, dan dunia ceritanya telah dikenal publik.
“Kepercayaan diri itulah yang kemudian menumbuhkan keyakinan dari sisi finansial dan industri untuk menciptakan sebuah produk baru, yaitu versi live action,” jelasnya.
