Unik! Sejak 2023, Chelsea Keluarkan Rp6,6 Triliun untuk Lulusan Akademi Manchester City
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Chelsea terus menunjukkan arah baru dalam membangun kekuatan tim. Alih-alih mengandalkan lulusan akademi sendiri, The Blues justru semakin banyak merekrut pemain yang ditempa akademi Manchester City untuk memperkuat skuad utama menghadapi musim baru.
Rekrutan terbaru, Morgan Rogers, menjadi contoh paling mencolok. Chelsea rela menggelontorkan dana £117 juta (Rp2,58 triliun) demi memboyong pemain berusia 23 tahun tersebut, sekaligus menjadikannya pembelian termahal sepanjang sejarah klub.
Menariknya, Rogers bukan sosok asing bagi Chelsea. Enam tahun lalu, dia menjadi salah satu pemain Manchester City yang membantu timnya menundukkan Chelsea 3-2 pada final FA Youth Cup 2020. Dalam pertandingan itu, Rogers dan Cole Palmer sama-sama mencatatkan nama di papan skor, sementara Liam Delap memimpin lini depan.
Baca Juga
Inter Milan Inginkan Cristian Romero, Tottenham Hotspur Patok Rp950 Miliar
Kini, ketiga pemain tersebut justru berkumpul di Stamford Bridge. Selain Rogers, Cole Palmer, dan Liam Delap, skuad Chelsea juga dihuni Romeo Lavia, Jamie Gittens, serta Tosin Adarabioyo yang sama-sama mengawali karier dari akademi Manchester City.
Sejak 2023, Chelsea telah menghabiskan dana hampir £300 juta (Rp6,6 triliun) untuk merekrut enam pemain jebolan akademi City tersebut. Sebaliknya, jumlah pemain hasil didikan akademi Cobham yang bertahan di tim utama Chelsea justru semakin sedikit. Saat ini hanya ada kapten Reece James, Levi Colwill, dan Josh Acheampong yang diperkirakan menjadi bagian permanen skuad Xabi Alonso. Sementara Trevoh Chalobah dikabarkan semakin dekat bergabung dengan klub Serie A, Como.
Keputusan Chelsea terus memburu pemain jebolan akademi Manchester City bukan tanpa alasan. Keberhasilan Cole Palmer sejak didatangkan pada 2023 menjadi bukti nyata bahwa lulusan akademi Manchester City mampu berkembang menjadi pemain elite di Liga Premier.
Cole Palmer direkrut dengan nilai £40 juta (Rp880 miliar) ditambah bonus £2,5 juta (Rp55 miliar). Kini, dia menjelma menjadi salah satu pemain paling berpengaruh Chelsea di Liga Premier.
Selain faktor performa pemain, Chelsea juga memiliki keterkaitan erat dengan Manchester City melalui sejumlah staf yang pernah bekerja di Etihad Campus. Salah satunya Joe Shields yang kini berperan dalam perekrutan pemain muda maupun tim utama Chelsea seusai sebelumnya menjadi bagian dari sistem rekrutmen akademi Manchester City.
Perubahan arah tersebut juga terlihat dari banyaknya mantan staf Manchester City yang kini bekerja di Stamford Bridge, termasuk pelatih tim utama Calum McFarlane dan direktur akademi Glenn van der Kraan.
Di sisi lain, aturan keuangan Liga Premier dan UEFA ikut mendorong klub-klub menjual pemain lulusan akademi karena seluruh nilai transfernya dapat dicatat sebagai keuntungan murni dalam laporan keuangan. Chelsea sendiri memanfaatkan skema itu dengan melepas Tyrique George pada bursa transfer musim panas ini.
Meski akademi Cobham pernah menjadi salah satu yang terbaik di Eropa dengan menjuarai lima FA Youth Cup secara beruntun serta dua gelar UEFA Youth League, arah pengembangan pemain muda Chelsea kini mengalami perubahan signifikan.
Persaingan antara akademi Chelsea dan Manchester City selama lebih dari satu dekade bahkan dikenal sangat sengit. Liam Delap mengakui atmosfer tersebut begitu terasa ketika masih bermain di level junior. "Kami saling membenci ketika bertanding," kata Delap, dalam sebuah kesempatan, dilansir BBC Sport.
Namun, hubungan para pemain berubah setelah sama-sama menembus level profesional. "Sekarang kami sudah cukup dewasa sehingga di luar lapangan bisa berteman. Saya menghadapi Levi Colwill hampir setiap tahun. Itu selalu menjadi pertarungan yang hebat. Terlalu banyak pertandingan untuk diingat, tapi kami mengalahkan mereka di final Youth Cup 2020," lanjut Delap.
Mantan pelatih akademi Manchester City, Gareth Taylor, juga mengungkapkan bahwa kesuksesan akademi Manchester City dibangun melalui filosofi permainan yang konsisten di seluruh kelompok umur. "Kami merancang gaya bermain yang sangat jelas. Mulai dari kelompok usia U-11 dan U-12 hingga U-23, semua memiliki identitas dan cara bermain yang sama," ujarnya.
Baca Juga
Asah Mental di Jepang, Singapura Siap Hadapi Indonesia dan Vietnam di Piala AFF 2026
