Anak Pendiri CIA Ini Bikin Band, dan Sukses Besar!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Buat para pecinta kisah-kisah spionase, seharusnya nama Miles Axe Copeland Jr bukan nama asing buat Anda. Miles adalah salah satu tokoh pendiri Central Intellegence Agency (CIA), badan intelijen Amerika Serikat, yang menurut pengakuannya yang dimuat di sejumlah literatur, diklaim berperan besar dalam proses kudeta besar di Iran dan Suriah selama masa tugasnya di Timur Tengah periode tahun 1947 hingga 1957.
Yang menarik, ia melahirkan sejumlah anak yang punya passion di dunia musik, yang saat dewasanya mereka saling membantu untuk mengantar saudara mereka menjejakkan kaki di panggung tertinggi industri musik dunia. Äpakah clue ini mampu mengantarkan Anda pada nama sang musisi? Harusnya sih udah ya..
Oke, kita ulas sedikit dulu soal sang ayah, Miles Axe Copeland Jr yang punya kisah cemerlang di dunia mata-mata.
Mungkin ada yang bertanya-tanya seberapa sahih Miles bisa disebut sebagai pendiri, karena pada dasarnya yang pada awalnya mendorong pembentukan CIA adalah William J Donovan, kepala Office of Strategic Service (OSS), sebuah lembaga ad hoc Amerika Serikat pengumpul data intelijen musuh di era Perang Dunia I. Begitu Perang Dunia I usai, rampung pula tugas OSS, dan dibubarkan.
Begitu pecah Perang Dunia II, Donovan lah yang mendorong sekaligus meminta Presiden Franklin D. Roosevelt mendirikan organisasi baru pengganti OSS yang langsung diawasi Presiden, yang akan mengumpulkan informasi intelijen dengan cara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi dan pada saat yang sama akan memberikan panduan intelijen, menentukan tujuan intelijen nasional, dan menghubungkan material intelijen yang dikumpulkan oleh semua instansi pemerintahan. Donovan founder CIA, jelas benar.
Namun mengacu laman resmi Central Intellegence Agency (CIA), nama Miles Axe Copeland jr dimasukkan sebagai anggota angkatan pertama (founding member) yang ikut menyusun cetak biru (blueprint) operasi dan struktur organisasi ketika CIA resmi dibentuk pada tahun 1947. CIA sendiri mengategorikannya sebagai founding member. Anggota pendiri. Jadi gak salah kan kalo judul tulisan menggunakan kata-kata pendiri CIA.
Masih mengacu laman resmi CIA, Miles ini bukanlah tipikal rekrutan agen rahasia yang berasal dari kampus-kampus Ivy League, alias kampus-kampus unggulan di seantero Amerika Serikat. Miles justru adalah mahasiswa kampus “lokal” The University of Alabama. Kabarnya ia juga tak sampai lulus, karena lebih tertarik untuk mendalami bakat musiknya.
Namun OSS, dan kelak bernama CIA justru kepincut pada Miles karena saat ia mengikuti tes kecerdasan untuk mendaftar di Angkatan Darat AS, semacam tes IQ saat ini, ia mendapat skor sangat tinggi. Begitu kerennya nilai Miles, sampai pihak militer curiga bahwa Miles telah berbuat curang selama tes. Ujian masuk buat Miles pun diulang, dan hasilnya malah lebih tinggi lagi. Donovan yang mendapatkan laporan soal Miles, tanpa ragu mengajaknya bergabung ke OSS, dan berlanjut ke CIA.
Miles juga punya catatan spesial, karena ia menguasai 10 bahasa termasuk Arab dan Prancis. Catatan lainnya yang termasuk khusus, Miles adalah pemain trompet berbakat. Miles Axe Copeland Jr piawai meniupkan nada-nada swing jazz dari trompet miliknya.
Ia juga sukses, bermain dan menggubah musik bersama nama-nama besar seperti Benny Goodman, Glenn Miller, Dave Brubeck, bahkan Buddy Rich. Sebenarnya jadi musisi jazz adalah profesi yang paling Miles impikan, dan ia cintai dibanding pekerjaan lain apa pun. Namun kemudian serangan terhadap Pearl Harbor mendorong hidupnya kembali ke kancah perang.
Kiprah Miles Axe sebagai Cepu
Soal kiprahnya sebagai “Cepu” alias mata-mata dalam bahasa gaul kita, juga cukup mentereng lho.
Setelah CIA terbentuk, Copeland menjadi salah satu case officer (petugas lapangan) angkatan paling awal. Ia bahkan menjuluki dirinya sendiri sebagai "The CIA's Original Political Operative". Ia dikirim ke Timur Tengah dan menjadi salah satu arsitek utama dalam taktik covert operations (operasi terselubung) awal milik CIA.
Miles disebut-sebut ikut merancang kudeta terhadap Presiden Suriah saat itu, Shukri al-Quwatli. Keterlibatan Miles dengan kegiatan spionase di Suriah dimulai setelah ia ditugaskan mengorganisasi unit pengumpulan informasi di Timur Tengah. Ia ditempatkan di Damaskus sebagai perwira CIA dengan kedok jabatan “atase kebudayaan”, dan memulai karier panjangnya di Timur Tengah. Bersama Stephen Meade, ia menjadi perpanjangan tangan Amerika Serikat untuk mendukung kudeta Suriah pada Maret 1949.
Kiprah berikutnya Miles membantu Kermit Roosevelt Jr. merancang Operasi Ajax yang bertujuan menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh pada tahun 1953. Iran di bawah pemerintahan Mosaddegh saat itu memang amat dibenci barat karena kebijakannya yang mengambil alih kendali minyak Iran dari perusahaan Inggris.
Pada masa tugasnya di Timur Tengah, Miles juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan pemimpin Mesir Gamal Abdel Nasser. Miles Axe Copeland menjadi penasihat dekat Nasser dalam pembentukan polisi rahasia Mukhabarat dan berbagai isu keamanan lainnya. Bersama Richard P. Mitchell, Copeland juga melakukan kegiatan spionase terhadap organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir.
Ketika ia ditempatkan di pos kontra intelijen US Army Counter Intelligence Corps di London era tahun 1940-an, saat itulah ia bertemu dengan Elizabeth Lorraine Adie yang belakangan akrab disebut Lorraine Copeland. Nggak beda jauh dengan Miles, Lorraine juga seorang agen intelijen. Bedanya ia bertugas untuk agen intelijen Inggris, Special Operations Executive yang kerjaannya selain spionase ya sabotase dan pengumpulan informasi kekuatan militer musuh.
Pasangan yang serasi banget ya..
Pada tahun 1970 pasangan ini pindah dan bermukim di Inggris.
Dari pernikahannya dengan Lorraine, Miles mendapatkan empat orang anak. Mereka adalah Miles Copeland III, Ian Copeland, Lorraine (Lennie) Copeland, dan Stewart Copeland.
Okey, udah bisa mengingatkan sesuatu kalau mendengar nama-nama tadi?
Iyass, Miles dan Lorraine adalah orang tua dari Stewart Copeland, pendiri band post punk dan new wave The Police! Dan si Copeland muda ini berhasil menerabas skena musik era tahun 1970-1980 an yang tengah diisi hiruk pikuk hard rock dan rock progresif, dengan lagu-lagunya yang cenderung berirama reggae campuran jazz, plus sentuhan ritmik tribal Timur Tengah.
Tanpa Copeland, tak mungkin ada band besar bernama The Police.
Cerita Stewart Copeland bikin band punk
Jadi, dalam sebuah tanya jawab yang disediakan The Guardian bagi para penggemar The Police serta fans beratnya Stewart Copeland, ia bercerita awal mula dibentuknya The Police, kendati saat itu di tahun 1975 ia sendiri sudah kerja bareng di band bernama Curved Air yang genre-nya cenderung ke progresif.
Copeland saat itu menganggap kreativitas Curved Air terbelenggu oleh keinginan produser dan pasar. Ia ingin kreativitas yang lepas, dengan motto DIY (do it yoursef) seperti yang dilakukan oleh band-band punk besar yang mulai mengisi skena musik di Inggris.
“Band old school kayak Curved Air tinggal di "menara", jauh dari kendali nasib sendiri. Kami seperti sumur minyak kecil bagi perusahaan rekaman yang kliennya adalah radio Top 40. Kami adalah produk (yang dikendalikan) mereka, terkunci di dalam kaleng mewah,” kata Copeland mengingat keputusannya saat itu untuk hengkang dari Curved Air.
Dalam bayangannya, ia menggambarkan band baru yang akan ia bentuk adalah band trio, dengan dirinya sebagai penggebuk drum yang beringas. Ia pun memutuskan harus mencari dua orang personil pencabik bas, dan gitaris andal. Uniknya, sejak awal ia tak terlalu membutuhkan seorang vokalis dengan teknik vokal sempurna, ia hanya butuh seorang vokalis yang memiliki kharisma tinggi.
“Saat itu, saya sudah tahu seluk-beluk cara kerja band dan ke mana setiap sen uang itu dihabiskan. Band ini harus trio, karena begitulah cara Jimi Hendrix dan Cream melakukannya. Menggebuk drum dengan beringas akan membuat saya kehabisan napas (dan sulit) untuk menyanyi. Jadi antara gitaris atau bassis yang harus jadi vokalis. Pandangan saya soal menyanyi cukup praktis; saya lebih menghargai karisma daripada teknik vokal yang sempurna,” kata Stewart kepada Guardian, mengenang keputusannya mencari vokalis dan gitaris.
Ia mencatat nama rekannya Henry Padovani sebagai gitaris. Jadi tahu kan, gitaris pertama the Police itu bukan Andy Summers, tapi si Padovani.
Lalu siapa bassisnya? Sosok yang ia ingat adalah personel band “Last Exit” asal Newcastle, yang aksi panggungnya pernah ia tonton. Adalah Gordon Sumner yang memiliki nama panggung Sting, yang dianggap Stewart sebagai sosok yang layak ia ajak bergabung. Ternyata Sting menyambut baik ajakan Stewart, sehingga Sting segera mengajak anak dan isterinya pindah dari Newcastle ke London. Tampaknya Sting menilai ajakan Stewart sangat strategis. Ketimbang terus berkutat di Newcastle, London kelihatan sebagai tempat yang amat memberikan keleluasaan untuk berkarya dan dikenal publik lebih luas.
Berdasarkan catatan harian Stewart, pada hari Selasa, 14 Desember 1976, Sting tiba di London bersama istrinya Frances Tomelty, bayi mereka Joe, dan seekor anjing bernama Turdy, serta tak lupa membawa bass miliknya. “Hari itu, secara tiba-tiba dia menelepon saya dari bilik telepon umum di jalan depan apartemen, dan tiga menit kemudian dia sudah berdiri di dalam apartemen kami di Mayfair..” cerita Stewart.
Kisah berikutnya adalah kesuksesan band punk dan new wave bentukan mereka yang bernama The Police.
Setelah Padovani hengkang dan digantikan Andy Summers, maka trio idaman yang terbentuk adalah Sting sebagai vokalis dan bassis, Stewart Copeland sebagai drummer, dan Andy Summers sebagai gitaris. Resmi dibentuk di London pada 1977, setelah sempat masuk menjadi bagian dari gelombang punk di Inggris, The Police berkembang menjadi salah satu band terbesar di dunia.
Album-album terkenalnya antara lain, Outlandos d'Amour (1978), Reggatta de Blanc (1979) dan Synchronicity (1983). Dari ketiga album tersebut, sejumlah lagu mencatatkan hits dunia, dan bahkan masih terus dimainkan hingga saat ini. Sejumlah musisi miskin ide juga mencomot sejumlah bar dari lagu-lagu The Police, untuk disematkan dalam lagu baru mereka.
Sudah tau dong, lagu-lagu hits mereka seperti Roxanne, Message in a Bottle, Every Breath You Take dan Every Little Thing She Does Is Magic.
Belakangan nama The Police selain dianggap sebagai band avantgarde di skena new wave saat itu, para personelnya juga masing-masing dinilai memiliki ego yang sangat besar. Tak heran band ini selama kariernya isinya selalu adu cocot sesama personel, alias bengkelei melulu. Gak heran juga umur band ini gak terlalu lama. Selesai melansir album Synchronicity, The Police hiatus begitu lama sehingga dinyatakan bubar oleh publik.

