Efek Harga Tiket Mahal, Asosiasi Hotel AS Khawatir Piala Dunia 2026 Sepi Wisatawan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harapan besar Amerika Serikat mendapatkan lonjakan wisata dari Piala Dunia 2026 mulai dipertanyakan. Industri perhotelan justru mengkhawatirkan turnamen sepak bola terbesar dunia itu gagal mendatangkan gelombang turis seperti yang diprediksi sebelumnya.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah laporan terbaru American Hotel and Lodging Association (AHLA) menunjukkan tingkat pemesanan hotel di hampir seluruh kota tuan rumah masih jauh di bawah ekspektasi. Padahal, FIFA sebelumnya mengklaim lebih dari lima juta tiket pertandingan sudah terjual.
AHLA menilai situasi itu berpotensi membuat dampak ekonomi Piala Dunia 2026 tidak sebesar yang diperkirakan. Organisasi perhotelan terbesar di Amerika Serikat tersebut bahkan menyebut ada masalah serius dalam pengelolaan reservasi hotel oleh FIFA.
Baca Juga
Banding Kasus Mata-Mata Ditolak, Southampton Tetap Dicoret dari Final Play-off Championship
Menurut AHLA, FIFA memesan terlalu banyak kamar hotel di berbagai kota tuan rumah untuk kebutuhan internal mereka sendiri. Langkah itu disebut menciptakan “permintaan palsu” yang memicu lonjakan harga hotel secara tidak wajar.
Namun, setelah FIFA membatalkan sebagian besar reservasi tersebut, hotel-hotel justru menghadapi penurunan permintaan mendadak. AHLA mengungkapkan hingga 70% kamar yang sebelumnya dipesan FIFA di kota-kota seperti Boston, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, dan Seattle akhirnya dibatalkan.
FIFA membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataannya, badan sepak bola dunia itu menegaskan seluruh pelepasan kamar hotel dilakukan sesuai kesepakatan kontrak dengan pihak hotel. “Semua pelepasan kamar dilakukan sesuai jadwal kontrak yang telah disepakati bersama mitra hotel, yang merupakan praktik standar untuk acara sebesar ini,” tulis juru bicara FIFA, dilansir BBC Sport.
Industri hotel mengaku mulai merasakan dampak negatifnya. Harga tiket pertandingan yang sangat mahal, biaya transportasi lokal, pajak tinggi, hingga situasi politik Amerika Serikat disebut menjadi faktor yang membuat wisatawan asing berpikir ulang datang ke Piala Dunia 2026.
🐦 Social Media Post
URL: https://twitter.com/BBCMOTD/status/2057054827621020043?ref_src=twsrc%5Etfw
Ini aneh karena sebelumnya studi yang dipesan FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 bisa menciptakan 185 ribu lapangan kerja baru di Amerika Serikat dan menambah produk domestik bruto hingga US$17,2 miliar (Rp279,5 triliun).
Hotel-hotel di AS selama bertahun-tahun sudah melakukan investasi besar demi menyambut turnamen tersebut. Mereka berharap kedatangan wisatawan internasional yang biasanya tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak.
Namun, kenyataan di lapangan berbeda. Banyak suporter kini memilih opsi lebih murah dibanding hotel premium di pusat kota. Seorang suporter Inggris, Chris Hancock, mengaku kelompoknya hanya menyiapkan anggaran akomodasi sekitar US$75 (Rp1,2 juta) per malam per orang selama mengikuti Piala Dunia.
Dia menjelaskan kelompoknya memilih kombinasi hotel murah dan Airbnb yang lokasinya sekitar 45 menit hingga satu jam dari stadion pertandingan. “Kami biasanya menginap agak jauh dari pusat kota supaya biaya lebih murah. Jadi kami tidak tinggal di tengah Dallas, Boston, atau New York,” kata Hancock.
Meski situasi saat ini belum ideal, AHLA masih optimistis pemesanan hotel akan meningkat mendekati turnamen pada Juni dan Juli mendatang. “Kami tahu banyak penggemar masih menunggu tiket dan jadwal pertandingan sebelum memfinalkan rencana perjalanan mereka,” ujar juru bicara AHLA.
Di sisi lain, Airbnb justru melihat peluang besar dari Piala Dunia 2026. Platform penyewaan properti itu menyebut turnamen kali ini berpotensi menjadi “acara hosting terbesar dalam sejarah Airbnb”, bahkan melampaui Olimpiade Paris 2024.
Baca Juga
Tembus Rp560 Ribu, Harga Cemilan di Stadion Piala Dunia 2026 Bikin Kantong Menjerit

