Ekonomi Melambat, Sinyal Stagflasi Bayangi AS
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Sinyal stagflasi membayangi Amerika Serikat (AS) di tengah keterlibatannya dalam perang Iran. Ekonomi melambat, sedangkan inflasi masih relatif tinggi.
Baca Juga
Pertumbuhan AS Melambat, Krisis Energi Global Tingkatkan Tekanan Inflasi
Tekanan inflasi sudah terasa sebelum pecahnya konflik dengan Iran. Hal ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi stagflasi—kombinasi pertumbuhan lemah dan inflasi tinggi.
Data terbaru dari Departemen Perdagangan AS, Kamis (9/4/2026), menunjukkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti—indikator utama inflasi yang digunakan oleh Federal Reserve—naik 3% secara tahunan pada Februari, masih jauh di atas target 2%.
Inflasi utama tercatat sebesar 2,8%, sementara secara bulanan baik inflasi inti maupun headline masing-masing naik 0,4%, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Namun, sinyal perlambatan ekonomi semakin terlihat. Belanja konsumen hanya naik 0,5%, di bawah ekspektasi, sementara pendapatan pribadi justru turun 0,1%.
Lebih mengkhawatirkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 direvisi turun tajam. Produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 0,5% secara tahunan, lebih rendah dari estimasi awal sebesar 1,4%.
Revisi ini sebagian besar disebabkan oleh lemahnya investasi. Indikator permintaan utama—penjualan akhir riil ke pembeli domestik swasta—juga dipangkas menjadi 1,8%.
“Inflasi Februari sesuai ekspektasi, tetapi pendapatan lemah dan PDB kembali direvisi turun. Artinya stagflasi sedikit lebih buruk dari perkiraan bahkan sebelum perang Iran dimulai,” ujar David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, seperti dikutip CNBC.
Kondisi ini mengingatkan pada era 1970-an, ketika inflasi tinggi dan pertumbuhan stagnan menghantam ekonomi global.
Meski demikian, data ini belum mencerminkan lonjakan harga energi akibat perang. Selama konflik, harga minyak sempat melampaui $100 per barel, sementara harga bahan bakar melonjak tajam.
The Fed cenderung mengabaikan lonjakan harga energi yang bersifat sementara, namun tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Risalah rapat The Fed Maret menunjukkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga dan pasar tenaga kerja, meskipun ada kecenderungan untuk memangkas suku bunga pada akhir tahun.
Baca Juga
Risalah FOMC: The Fed Masih Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Tahun Ini
Di sisi lain, klaim pengangguran meningkat menjadi 219.000, menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melambat, meski belum cukup untuk mendorong lonjakan pengangguran.
Kini, perhatian pasar tertuju pada rilis indeks harga konsumen (CPI) terbaru. Inflasi diperkirakan melonjak 0,9% secara bulanan, mendorong tingkat tahunan ke 3,3%.
Jika terealisasi, tekanan inflasi pascaperang bisa menjadi ujian terbesar bagi kebijakan moneter AS dalam beberapa tahun terakhir.
