Kapan Perang Berakhir?
Poin Penting
|
Oleh: Anton Hendranata *)
INVESTORTRUST -- Sebagai ekonom—bukan ahli politik atau militer—saya pernah ditanya: kapan perang Iran versus Israel-AS akan berakhir? Pertanyaan ini menggelitik dan pasti saya tak tahu jawabannya. Saya menghela napas, jangan-jangan Tuhan pun tak tahu, mungkin hanya Trump yang bisa memastikannya.
Banyak orang ingin jawaban yang pasti. Seolah-olah ada satu titik waktu yang bisa ditetapkan, satu keputusan yang bisa menghentikan segalanya. Padahal, dalam kenyataannya, perang jarang tunduk pada rencana. Ia berhenti bukan karena dijadwalkan, melainkan karena biaya yang ditanggung menjadi terlalu mahal untuk dilanjutkan.
Dalam banyak kasus, tidak ada satu aktor pun yang benar-benar bisa menentukan kapan perang selesai. Bukan karena kurang informasi, tetapi karena dinamika konflik bergerak di luar kendali siapa pun. Membayangkan seolah ada pihak yang bisa memastikan akhir perang justru tidak realistis—seolah ia berada di atas semua variabel yang ada.
Yang lebih penting adalah memahami apa yang memaksa perang berhenti. Sejarah menunjukkan, konflik mereda bukan semata karena keputusan politik, tetapi karena biaya ekonomi yang ditanggung menjadi terlalu besar. Lonjakan harga energi, gangguan perdagangan, dan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global pada akhirnya menciptakan batas toleransi. Ketika dunia mulai tidak kuat menanggung dampak negatifnya, dorongan untuk mengakhiri konflik akan muncul dengan sendirinya.
Dengan kata lain, perang sering berakhir bukan karena semua pihak sepakat, tetapi karena semua pihak tidak lagi mampu menanggung akibatnya. Jika konflik berlangsung terlalu lama dan mendorong dunia ke arah perlambatan ekonomi tajam—bahkan resesi—maka tekanan untuk menghentikannya akan semakin kuat. Semakin signifikan dampak negatif ekonominya, semakin pendek toleransi dunia terhadap perang.
Dalam konteks ini, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang akan selesai dalam dua hingga tiga minggu perlu dibaca hati-hati. Pernyataan tersebut terdengar optimistis. Namun dalam praktik geopolitik, durasi perang jarang ditentukan oleh kehendak satu pihak. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor: kapasitas militer, kepentingan strategis, tekanan domestik, hingga respons pasar global.
Banyak konflik yang diperkirakan singkat justru berlangsung lebih lama karena eskalasi tak terduga atau resistensi dari pihak yang diserang. Dalam konflik Iran versus Israel-AS, kompleksitasnya bahkan lebih tinggi. Iran bukan hanya negara, tetapi juga simpul dari jaringan geopolitik kawasan yang melibatkan berbagai aktor dan kepentingan.
Pernyataan bahwa perang dapat diakhiri tanpa negosiasi juga perlu disikapi realistis. Biasanya, perang tanpa negosiasi biasanya berakhir melalui dua jalan: kelelahan ekstrem salah satu pihak atau perubahan keseimbangan kekuatan yang sangat tajam. Keduanya membutuhkan waktu, bukan hitungan minggu. Bahkan jika operasi militer berhenti, konflik tidak otomatis selesai. Ia cenderung berubah bentuk—dari terbuka menjadi asimetris dan berkepanjangan.
Risiko semakin besar ketika muncul narasi perubahan rezim. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan, perubahan rezim yang dipaksakan dari luar justru sering memicu instabilitas jangka panjang. Alih-alih menutup konflik, kondisi ini kerap membuka fase baru ketegangan.
Perspektif Ekonomi
Dari perspektif ekonomi, pasar tidak membaca pernyataan politik secara mentah-mentah. Pasar membaca risiko. Selama jalur energi strategis seperti Selat Hormuz masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian, volatilitas akan tetap tinggi. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Artinya, bahkan tanpa gangguan nyata, risiko saja sudah cukup menjaga harga energi tetap tinggi.
Data pasar memperkuat gambaran tersebut. Indeks risiko geopolitik global pada episode konflik Iran versus Israel-AS (Feb-2026) meningkat paling tajam dan melampaui episode perang langsung sebelumnya pada periode pasca-pandemi, seperti Rusia-Ukraina (Feb-2022), Israel-Hamas (Okt-2023), dan Iran-Israel (Apr-2024). Ini menunjukkan bahwa pasar menilai eskalasi saat ini berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan konflik-konflik sebelumnya.
Gambaran yang sama terlihat dari probabilitas implisit pasar. Menurut Bloomberg (22 Maret 2026), peluang gencatan senjata hanya sekitar 35% pada April, meningkat menjadi 47% pada Mei, dan 56% di Jun-2026.
Pada saat yang sama, peluang Presiden Trump mengakhiri operasi militer di Iran diperkirakan sebesar 39% pada April dan meningkat menjadi 71% pada Jun-2026. Sementara itu, probabilitas kejatuhan rezim Iran relatif rendah sekitar 24% pada Juni dan 38% Des-2026.
Dengan demikian, ekspektasi pasar cenderung bergeser ke jangka waktu yang lebih panjang. Probabilitas konflik mereda baru meningkat signifikan pada pertengahan tahun, mengindikasikan bahwa pelaku pasar memperkirakan konflik ini tidak akan selesai dalam waktu dekat.
Baca Juga
Disinilah kita bisa memahami mengapa harga energi tidak langsung turun, meskipun ada sinyal de-eskalasi. Pasar menunggu bukti, bukan sekadar pernyataan. Dalam banyak kasus, harga baru stabil ketika pasokan benar-benar aman, bukan sekadar diasumsikan aman.
Bagi Indonesia, pertanyaan kapan perang berakhir bukan sekadar isu geopolitik, tetapi soal stabilitas ekonomi. Ketergantungan pada impor energi membuat setiap ketidakpastian global langsung tercermin pada tekanan fiskal, nilai tukar, dan inflasi. Dalam situasi seperti ini, yang lebih penting bukan memprediksi kapan perang selesai, tetapi memastikan ekonomi domestik cukup kuat menghadapi ketidakpastian.
Pendekatan ini lebih realistis. Konflik di Timur Tengah jarang benar-benar berakhir secara definitif. Yang terjadi biasanya adalah perubahan intensitas—mereda, lalu meningkat kembali. Dunia tidak bergerak dari perang ke damai, tetapi dari konflik tinggi ke konflik yang lebih rendah.
Karena itu, pernyataan politik pada akhirnya lebih mencerminkan strategi komunikasi daripada proyeksi waktu yang presisi. Bagi pelaku ekonomi, yang menjadi acuan tetaplah data dan perkembangan di lapangan, bukan narasi.
Pada titik ini, pertanyaan kapan perang berakhir memang tidak bisa dijawab dengan pasti. Ia harus dilihat dari indikator yang lebih konkret. Apakah intensitas konflik menurun? Apakah jalur energi kembali normal? Dan apakah volatilitas mulai mereda?
Selama indikator tersebut belum terlihat jelas, asumsi bahwa perang akan segera selesai masih terlalu dini. Dunia saat ini berada dalam fase ketidakpastian tinggi, di mana pernyataan dapat menggerakkan pasar, tetapi belum tentu mengubah realitas.
Pada akhirnya, perang tidak berhenti ketika rudal terakhir ditembakkan. Ia berhenti ketika dunia tidak lagi mampu membayar harganya. Dan di tengah keterbatasan itu, doa menjadi satu-satunya ruang yang tersisa. ***
*) Dr Anton Hendranata, Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, CEO BRI Research Institute. (Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis).

