Bursa Saham China Rontok, Xi Jinping Larang ‘Short Selling’
JAKARTA, Investortrust.id - Xi Jinping mengumumkan akan menindak para pelaku transaksi short selling di bursa saham, sebagai bagian upaya pemerintah untuk menghentikan kejatuhan pasar saham. China Securities Regulatory Commission (Badan Regulator Sekuritas China) menyatakan, kini investor tidak lagi diperkenankan meminjamkan saham untuk tujuan perdagangan dalam periode tertentu.
Pihak berwenang yang dikutip The Telegraph, Senin (29/1/2024) mengatakan, regulasi ini mulai berlaku mulai hari Senin ini (29/1/2024), dengan tujuan "menciptakan tatanan pasar yang lebih fair." Sementara itu aturan tentang pembatasan terhadap peminjaman surat berharga di pasar pembiayaan diproyeksikan bakal diberlakukan menyusul, pada bulan Maret tahun ini.
Baca Juga
Chatib Basri: Potensi Resesi AS Mengecil, Ekonomi China Bisa ‘Slow Down’
Langkah ini merupakan salah satu dari rangkaian intervensi pasar oleh otoritas China, yang oleh khalayak dinilai gagal memperkuat pasar saham China. Indeks utama China, CSI 300, anjlok ke level terendah lima tahun terakhir pada awal pekan lalu. Indeks ini kini telah kehilangan seperlima nilainya dalam sembilan bulan terakhir, karena investor melego sejumlah saham akibat kekhawatiran terkait perekonomian China. Indeks saham utama Hong Kong pun ikut terpengaruh kekacauan ini, dengan penurunan nilai sebesar 44% dalam lima tahun terakhir.
Beijing telah berupaya membalikkan penurunan tersebut melalui kebijakan seperti pemotongan pencadangan perbankan. Cadangan devisa China sebesar US$1,24 triliun juga telah dipergunakan untuk membeli produk-produk yang diperdagangkan di bursa (ETF) dan saham bank, sementara pialang saham terbesar di negara ini menghentikan skema short selling bagi nasabahnya.

