Iran Masih Mampu Melakukan Serangan Balik, Israel Klaim Kekuatan Musuh Telah Terdegradasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Memasuki pekan keempat perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran, dinamika kekuatan militer kedua pihak menunjukkan gambaran yang lebih kompleks dari sekadar klaim kemenangan sepihak. Meski Washington dan Tel Aviv menyatakan telah melumpuhkan sebagian besar kemampuan persenjataan dan militer Iran, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa Teheran masih memiliki daya serang yang signifikan, khususnya melalui rudal balistik dan drone.
Berdasarkan laporan Deutsche Welle (DW) yang diperbarui pada pertengahan Maret 2026, Iran masih mampu meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan negara-negara Teluk, bahkan setelah Gedung Putih pada 14 Maret 2026 mengklaim bahwa kapasitas rudal balistik Iran telah “secara fungsional dihancurkan”. Sepuluh hari setelah klaim tersebut, serangan Iran masih terjadi, menandakan bahwa kemampuan militernya belum sepenuhnya lumpuh.
Analis keamanan Timur Tengah dari Royal United Services Institute (RUSI), Burcu Ozcelik, menegaskan bahwa kemampuan peluncuran rudal Iran memang telah melemah, namun belum habis. “Kemampuan peluncuran rudal telah terdegradasi, tetapi belum sepenuhnya habis. Itu sangat signifikan,” ujarnya kepada DW.
Data awal konflik menunjukkan bahwa Iran sempat meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone dalam fase awal perang. Namun, tingkat keberhasilan serangan (hit rate) berada di bawah 5% karena efektivitas sistem pertahanan Israel dan sekutunya. Menariknya, dalam dua pekan berikutnya, intensitas serangan Iran turun lebih dari 90%, tetapi akurasinya justru meningkat, menunjukkan adanya perubahan strategi operasional.
Baca Juga
Israel Klaim Bunuh Komandan Laut Iran, Perang Masuk Fase yang Mengerikan
Secara historis, sebelum perang pecah, Iran disebut memiliki salah satu arsenal rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah. Menurut estimasi militer Israel, stok rudal Iran mencapai sekitar 2.500 unit, sementara sejumlah analis independen memperkirakan bisa mencapai 6.000 unit. Data dari Office of the Director of National Intelligence (AS) juga menempatkan Iran sebagai pemilik arsenal rudal terbesar di kawasan.
Jenis rudal yang dimiliki Iran meliputi Sejjil, Ghadr, dan Khorramshahr dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer, Emad (1.700 km), Shahab-3 (1.300 km), hingga Hoveyzeh (1.350 km), sebagaimana diungkap oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS). Bahkan, serangan yang ditujukan ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia yang berjarak hampir 4.000 km dari Iran mengindikasikan kemungkinan adanya rudal dengan jangkauan lebih jauh dari yang selama ini diketahui.
Selain rudal, kekuatan utama Iran juga terletak pada drone, khususnya seri Shahed. Akademisi dari University of Portsmouth, Matthew Powell, menyebut Iran memiliki sekitar 80.000 drone sebelum konflik, meski angka ini sulit diverifikasi. Drone dinilai menjadi alat strategis karena biaya produksinya jauh lebih murah dibandingkan sistem pertahanan yang digunakan untuk menghancurkannya.
“Drone memungkinkan Iran memproyeksikan kekuatan militer dengan biaya rendah sekaligus menargetkan infrastruktur vital musuh,” kata Powell. Ia juga menambahkan bahwa Iran dalam kondisi damai mampu memproduksi hingga 10.000 drone per bulan, menjadikannya salah satu kekuatan drone paling produktif di dunia.
Di sisi lain, serangan udara intensif dari Amerika Serikat dan Israel telah menargetkan fasilitas produksi senjata Iran, termasuk lokasi manufaktur rudal dan drone. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu menyatakan bahwa kemampuan rudal dan drone Iran telah “terdegradasi secara besar-besaran”. Namun, minimnya data konkret mengenai jumlah fasilitas yang hancur membuat efektivitas serangan tersebut sulit diverifikasi secara independen.
Yang juga menjadi perhatian adalah keberadaan fasilitas bawah tanah Iran yang dikenal sebagai “kota rudal” di berbagai provinsi, seperti Kermanshah dan Semnan. Fasilitas ini diyakini menjadi faktor kunci yang memungkinkan Iran mempertahankan kapasitas militernya meski menghadapi serangan besar-besaran.
Dari sisi keberlanjutan kekuatan, Iran dinilai masih memiliki kemampuan untuk memproduksi ulang persenjataannya. Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa Iran hanya menyumbang 0,05% dari impor senjata global, mengindikasikan ketergantungan rendah terhadap pasokan luar negeri dan kapasitas produksi domestik yang relatif mandiri.
Baca Juga
Namun, kecepatan produksi menjadi faktor krusial. Mantan pejabat Pentagon, Alex Plitsas, memperkirakan Iran mampu memproduksi sekitar 300 rudal per bulan di awal perang, namun kini kemungkinan turun menjadi sekitar 40 unit per bulan akibat tekanan konflik.
Secara keseluruhan, perang ini memperlihatkan bahwa meski kekuatan militer Iran mengalami degradasi akibat serangan intensif AS-Israel, kapasitasnya belum sepenuhnya runtuh. Sebaliknya, Iran justru menunjukkan adaptasi strategi dengan mengurangi volume serangan tetapi meningkatkan akurasi.
Bagi Amerika Serikat dan Israel, tujuan utama saat ini bukan hanya melemahkan kemampuan militer Iran dalam jangka pendek, tetapi juga mencegah kemampuan regenerasi kekuatan tersebut dalam jangka panjang. Namun, selama infrastruktur bawah tanah dan kapasitas produksi domestik Iran tetap bertahan, ancaman militer dari Teheran diperkirakan masih akan menjadi faktor penentu dalam konflik kawasan.

