CEO BlackRock Larry Fink Peringatkan Risiko “Market Timing”, Tekankan Pentingnya Tetap Berinvestasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — CEO BlackRock, Larry Fink, mengingatkan investor global untuk tidak mencoba “menebak waktu pasar” (market timing), karena strategi tersebut berisiko besar menggerus imbal hasil investasi dalam jangka panjang.
Dalam surat tahunan kepada pemegang saham yang dirilis pada Senin, 23 Maret 2026, Fink menegaskan bahwa tetap berinvestasi di tengah volatilitas pasar jauh lebih penting dibanding mencoba keluar-masuk pasar untuk mencari waktu terbaik.
“Dalam jangka panjang, tetap berinvestasi jauh lebih penting daripada menentukan waktu yang tepat,” tulis Fink dalam surat tersebut, sebagaimana dikutip CNBC dalam laporan yang diterbitkan pada 23 Maret 2026 pukul 10.06 EDT.
Ia mencontohkan kinerja pasar saham Amerika Serikat selama dua dekade terakhir. Setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam indeks S&P 500 tumbuh lebih dari delapan kali lipat. Namun, investor yang melewatkan hanya 10 hari terbaik dalam periode tersebut akan memperoleh hasil kurang dari setengahnya.
Menurut Fink, salah satu kesalahan terbesar investor adalah terlalu fokus pada gejolak jangka pendek yang dipicu oleh berita geopolitik, inflasi, maupun disrupsi teknologi. “Bahaya terbesar adalah ketika kita terlalu fokus pada ‘noise’ dan melupakan hal yang benar-benar penting,” ujarnya.
Peringatan ini muncul di tengah volatilitas pasar global yang meningkat akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pada hari yang sama, pasar saham global sempat menguat setelah Presiden Donald Trump menyatakan adanya pembicaraan dengan Iran dan menunda serangan terhadap infrastruktur energi negara tersebut.
Laporan senada dari Reuters dan Bloomberg juga menyoroti bahwa investor saat ini menghadapi pasar yang semakin dipengaruhi oleh sentimen cepat dan ketidakpastian global. Kedua media tersebut mencatat bahwa arus keluar-masuk dana yang terlalu agresif justru sering merugikan investor ritel dibanding strategi jangka panjang yang disiplin.
Baca Juga
Selain soal strategi investasi, Fink juga menyoroti perubahan struktural dalam ekonomi global. Ia menilai model kapitalisme global lama mulai terfragmentasi, seiring meningkatnya belanja negara untuk mencapai kemandirian di sektor energi, pertahanan, dan teknologi.
Lebih jauh, Fink memperingatkan bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi. “Kekayaan besar selama beberapa generasi terakhir sebagian besar mengalir kepada mereka yang sudah memiliki aset. AI berisiko mengulang pola ini dalam skala yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan berbasis AI telah mendorong sebagian besar kenaikan pasar saham dalam beberapa waktu terakhir, sehingga keuntungan terkonsentrasi pada segelintir pelaku dan pemegang saham.
Dengan aset kelolaan mencapai sekitar US$14 triliun hingga akhir 2025, BlackRock menjadi salah satu barometer utama arah investasi global. Pernyataan Fink pun dinilai mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pelaku pasar terhadap volatilitas jangka pendek dan ketimpangan struktural jangka panjang.
Analis menilai, di tengah ketidakpastian geopolitik dan disrupsi teknologi, disiplin investasi jangka panjang tetap menjadi strategi paling relevan bagi investor untuk menjaga pertumbuhan portofolio.

