Gagal Serang Pangkalan Militer AS-Inggris di Samudra Hindia, Iran Dinilai Ceroboh
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel semakin meluas secara geografis setelah Iran dilaporkan meluncurkan dua rudal ke pangkalan militer gabungan Inggris–AS di Diego Garcia, Samudra Hindia. Namun, serangan tersebut gagal mencapai target. Informasi ini dikonfirmasi oleh pemerintah Inggris pada Minggu (22/3/2026), sebagaimana dilaporkan CNBC yang terbit pada 22 Maret 2026 pukul 07:11 EDT dan diperbarui beberapa jam kemudian.
Menteri Perumahan Inggris Steve Reed menyatakan bahwa kedua rudal yang ditembakkan Iran tidak mengenai sasaran. “Satu rudal jatuh sebelum mencapai target, sementara yang lainnya berhasil dicegat,” ujarnya kepada BBC pada hari yang sama (22/3/2026). Ia menambahkan bahwa tidak ada indikasi langsung Iran menargetkan Inggris secara spesifik, meskipun serangan tersebut jelas mengarah ke fasilitas militer strategis yang digunakan bersama oleh Inggris dan Amerika Serikat.
Pangkalan Diego Garcia, yang terletak di Kepulauan Chagos —wilayah seberang laut Inggris di Samudra Hindia— merupakan salah satu aset militer paling penting bagi operasi AS dan sekutunya di kawasan Indo-Pasifik dan Timur Tengah. Menurut laporan sebelumnya dari The Wall Street Journal yang terbit pada Jumat (20/3/2026), serangan ini menjadi indikasi pertama penggunaan operasional rudal balistik jarak menengah oleh Iran di luar kawasan Timur Tengah, menandai eskalasi signifikan dalam jangkauan konflik.
Baca Juga
Iran Ancam Hancurkan Secara Permanen Infrastruktur Energi Regional
Militer Israel, dalam pernyataannya pada Sabtu (21/3/2026), menyebut Iran menggunakan rudal balistik dua tahap dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letjen Eyal Zamir, menegaskan bahwa jangkauan rudal tersebut bahkan dapat mencapai ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma, memperluas dimensi ancaman dari konflik ini.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataan resmi yang dikutip Reuters pada Sabtu (21/3/2026) menilai serangan Iran sebagai tindakan yang “ceroboh” dan mengancam kepentingan Inggris serta sekutunya. London juga telah memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militernya, termasuk RAF Fairford dan Diego Garcia, untuk operasi pertahanan terbatas, khususnya dalam merespons ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu malam (22/3/2026 waktu setempat) mengancam akan “menghancurkan” fasilitas listrik Iran jika Teheran tidak membuka penuh selat tersebut dalam waktu 48 jam, sebagaimana disampaikan melalui platform Truth Social.
Ancaman tersebut langsung dibalas oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu (22/3/2026), yang menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan memicu penghancuran infrastruktur energi regional secara permanen atau “irreversibel”, termasuk fasilitas minyak di negara-negara Teluk. Pernyataan ini mempertegas bahwa konflik kini telah memasuki fase perang energi yang berisiko mengguncang stabilitas pasokan global.
Di sisi lain, laporan Al Jazeera dan Associated Press pada periode 21–22 Maret 2026 mencatat bahwa konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah meluas ke berbagai front, termasuk Iran, Israel, Lebanon, dan kawasan Teluk, dengan korban jiwa mencapai ribuan orang. Serangan lintas wilayah, termasuk upaya menjangkau pangkalan di Samudra Hindia, menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi terbatas secara regional, melainkan mulai memasuki dimensi global.
Dengan meningkatnya jangkauan serangan dan keterlibatan banyak negara, dunia kini menghadapi risiko eskalasi konflik yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga berdampak langsung pada stabilitas energi dan keamanan ekonomi global.

