Perang Iran–Israel Hidupkan Kembali Ingatan Bangsa Yahudi akan Peran Ester dan Purim
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perang Iran–Israel yang memanas sejak akhir Februari 2026 bertepatan dengan perayaan Purim —hari raya Yahudi yang memperingati keselamatan dari ancaman Persia kuno— membangkitkan resonansi sejarah dan teologis yang kuat di kalangan Yahudi global. Momentum ini membuat konflik modern terasa seperti pengulangan narasi kuno dalam Kitab Ester.
Sejumlah media internasional mencatat fenomena tersebut. Wall Street Journal melaporkan bahwa warga Israel tetap merayakan Purim di tengah ancaman serangan, bahkan sebagian melakukannya di bunker sambil membaca Megillat Ester. Sementara itu, Associated Press menggambarkan bagaimana tradisi Purim—yang identik dengan sukacita—tahun ini dijalankan dalam suasana perang, menegaskan simbol ketahanan dan keberlangsungan hidup bangsa Yahudi di tengah ancaman.
Secara simbolik, hubungan itu memang sangat kuat. Purim memperingati keselamatan orang Yahudi dari ancaman pemusnahan di Persia abad ke-5 SM, seperti dikisahkan dalam Kitab Ester. Britannica menjelaskan bahwa Purim merayakan keberlangsungan hidup komunitas Yahudi yang terancam dimusnahkan di Persia, dan kisah itu berpusat pada Ester—perempuan Yahudi yang menjadi istri raja Persia Ahasyweros/Xerxes I—serta Mordekhai yang bersama-sama menggagalkan rencana Haman untuk “memusnahkan” orang Yahudi di seluruh imperium.
Akar sejarah kisah itu berhubungan dengan pembuangan bangsa Yahudi. Orang Yahudi mula-mula dibuang ke Babel setelah penaklukan Yehuda oleh kekaisaran Neo-Babilonia pada 598/597 SM dan 587/586 SM. Pembuangan itu secara formal berakhir ketika Koresh Agung (Cyrus the Great) dari Persia menaklukkan Babel dan mengizinkan orang Yahudi kembali pada 538 SM. Tetapi tidak semua pulang. Sebagian tetap tinggal di Babilonia dan wilayah Persia; dari rahim diaspora inilah kisah Ester lahir. Dengan kata lain, Ester bukan kisah Israel di tanah air, melainkan kisah Yahudi sebagai minoritas yang bertahan hidup di jantung kekaisaran asing.
Di sinilah dasar biblis dan teologis kisah Ester menjadi sangat kuat. Kitab Ester menunjukkan bahwa penyelamatan umat tidak selalu datang lewat mukjizat spektakuler seperti Laut Teberau terbelah. Dalam kitab ini, nama Allah bahkan tidak disebut secara eksplisit dalam teks Ibrani, tetapi providensia-Nya terasa bekerja di balik rangkaian “kebetulan” sejarah.
Ester tampil bukan sebagai nabi, bukan pula sebagai jenderal, melainkan sebagai perempuan diaspora yang harus menyembunyikan identitasnya, membaca waktu, memahami istana, dan berani mengambil risiko maut ketika berkata, dalam salah satu bagian paling penting Alkitab: “siapa tahu, mungkin justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (Est. 4:14). Di situlah heroismenya: keberanian moral, kecerdasan politik, dan kesediaan menempatkan nasib pribadi di bawah keselamatan kaumnya.
Dari sudut antropologi sejarah, Ester adalah kisah minoritas yang hidup di bawah imperium besar. Ia berbicara tentang komunitas diaspora yang harus menegosiasikan identitas: sejauh mana berasimilasi, kapan harus diam, kapan harus menyatakan jati diri. Ini pengalaman yang sangat khas dalam sejarah Yahudi dan juga sejarah banyak komunitas minoritas lain di dunia. Ester hidup di istana Persia, tetapi hatinya tidak putus dari kaumnya. Ia mengenakan mahkota kekaisaran, tetapi tidak melupakan luka diaspora. Itu sebabnya kisah Ester tidak pernah hanya menjadi kisah agama; ia adalah kisah identitas, kekuasaan, trauma kolektif, dan seni bertahan hidup.
Dari sudut psikologi kolektif Yahudi, resonansinya dengan perang Iran–Israel hari ini mudah dipahami. Memori Yahudi dibentuk oleh pengalaman berulang tentang ancaman eksistensial: pengusiran, pogrom, Holocaust, perang-perang Arab–Israel, hingga ancaman modern dari Iran. Ketika musuh kontemporer adalah Iran, yang secara geografis mewarisi wilayah Persia kuno, dan perang pecah tepat saat Purim, maka wajar bila imajinasi sejarah Yahudi segera menarik garis penghubung. Reuters mendokumentasikan Purim 2026 sebagai perayaan keselamatan Yahudi dari genosida di Persia kuno yang berlangsung di tengah perang Iran sekarang, sedangkan NPR dan Wall Street Journal mencatat bagaimana warga Israel membaca Megillat Ester di bunker sambil mengaitkan kisah itu dengan situasi mutakhir.
Dari sudut sosiologi politik, kisah Ester juga relevan karena ia menunjukkan bahwa ancaman terhadap suatu komunitas jarang berdiri sendiri. Dalam Kitab Ester, bahaya tidak datang hanya dari kebencian Haman, tetapi dari struktur kekuasaan yang memungkinkan kebencian itu menjadi dekret negara. Di zaman modern, ancaman terhadap Israel dan Yahudi juga tidak sekadar persoalan kebencian ideologis, tetapi menyangkut jaringan militer, rudal, proksi, teknologi, propaganda, dan legitimasi internasional.
Perang hari ini telah melibatkan serangan Israel dan AS ke Iran, kematian pejabat tinggi Iran seperti Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani, serangan balasan rudal dan drone Iran, gangguan di kawasan Teluk, dan tekanan besar terhadap jalur energi global. Reuters menggambarkan kematian Larijani sebagai pukulan besar bagi inti kekuasaan Iran, sementara berbagai laporan memperlihatkan konflik ini telah berkembang menjadi perang regional yang sangat berbahaya.
Tetapi di sinilah pentingnya kehati-hatian. Persamaan antara kisah Ester dan perang Iran–Israel memang nyata, tetapi perbedaannya sama pentingnya. Persia kuno dalam Kitab Ester adalah imperium multi-etnis tempat orang Yahudi hidup sebagai minoritas tak berdaulat. Israel modern adalah negara-bangsa berdaulat dengan militer, teknologi, dan kapasitas serangan yang sangat besar. Ester berhadapan dengan ancaman genosida yang masih berupa dekret istana; Israel hari ini menghadapi kombinasi ancaman negara, milisi proksi, dan perang teknologi modern. Dulu, penyelamatan datang melalui intrik istana dan pembalikan hukum; kini, perang dijalankan lewat rudal, intelijen, operasi udara, pasar energi, dan diplomasi global. Karena itu, menyamakan Iran hari ini begitu saja dengan Persia dalam Kitab Ester bisa menyesatkan bila dipakai tanpa nuansa.
Sebagian pemikir Yahudi kontemporer sudah mengingatkan hal itu. Jewish Telegraphic Agency dan Hartman Institute menilai bahwa memproyeksikan Purim secara terlalu sederhana ke perang Iran saat ini memang menggoda, tetapi juga bisa berbahaya karena mendorong pembacaan hitam-putih: seolah semua peristiwa modern tinggal mengulang pola Haman versus Ester. Kritik itu penting. Teologi yang sehat tidak memiskinkan sejarah. Ia justru menolong manusia membaca pola tanpa kehilangan kompleksitas.
Namun, meskipun analogi itu tidak boleh dibuat mentah-mentah, relevansi Ester hari ini tetap besar. Pertama, Ester mengajarkan bahwa identitas tidak boleh hilang di tengah tekanan untuk menyesuaikan diri. Kedua, Ester menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu tampil sebagai kekuatan kasar; sering kali ia hadir sebagai kecermatan, kesabaran, dan momentum yang tepat. Ketiga, Ester mengingatkan bahwa keselamatan suatu bangsa sering bergantung pada orang-orang yang bersedia berkata: aku tidak akan netral ketika bangsaku berada di ujung tanduk. Dan keempat, Ester menegaskan bahwa kuasa politik tanpa etika mudah berubah menjadi mesin penindasan.
Bagi dunia Yahudi, Purim tahun ini bukan sekadar hari raya penuh kostum dan sukacita. Ia berubah menjadi cermin sejarah. Ketika Purim dirayakan di bunker dan Kitab Ester dibaca di bawah ancaman rudal, memori kolektif Yahudi menyatu dengan pengalaman aktual. Bukan karena Persia kuno dan Iran modern identik, melainkan karena keduanya menyentuh saraf sejarah yang sama: rasa terancam, kecemasan tentang kelangsungan hidup, dan tekad untuk tidak dibiarkan menjadi korban.
Pada akhirnya, kekuatan kisah Ester justru terletak pada kemampuannya melampaui zamannya. Ia berbicara kepada orang Yahudi, tentu. Tetapi ia juga berbicara kepada siapa saja yang pernah hidup sebagai minoritas, yang pernah merasa terjepit di antara imperium, yang tahu bahwa sejarah dapat berubah hanya karena satu orang memutuskan untuk tidak diam. Karena itu, perang Iran–Israel menjelang Purim memang wajar mengingatkan orang pada Ester. Tetapi pesan terdalamnya bukanlah romantisasi perang. Pesan terdalamnya adalah ini: sebuah bangsa dapat selamat ketika keberanian moral bertemu dengan hikmat, solidaritas, dan keyakinan bahwa sejarah tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada para pemuja kuasa.
Dalam bahasa Investortrust, ini bukan sekadar benturan misil dan geopolitik. Ini adalah benturan memori, identitas, dan narasi peradaban. Purim membuat perang ini terasa lebih dari perang biasa bagi banyak orang Yahudi. Dan kisah Ester mengingatkan bahwa di balik setiap konflik besar, selalu ada pertanyaan yang paling manusiawi: siapa yang berani berdiri ketika yang lain memilih diam?
Kisah Dramatis
Kitab Ester merupakan salah satu kisah paling dramatis dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan bagaimana bangsa Yahudi di perantauan (diaspora) hampir mengalami pemusnahan, namun akhirnya diselamatkan melalui keberanian seorang perempuan bernama Ester. Kisah ini terjadi di bawah kekuasaan Raja Persia Ahasyweros (umumnya diidentifikasi sebagai Xerxes I), yang memerintah wilayah luas dari India hingga Etiopia.
Cerita dimulai dengan peristiwa istana: Ratu Wasti menolak perintah raja untuk tampil di hadapan para pembesar dalam sebuah perjamuan besar. Penolakan ini memicu kemarahan raja dan berujung pada keputusan untuk mencopot Wasti sebagai ratu. Keputusan ini membuka jalan bagi pencarian ratu baru—yang kemudian membawa Ester, seorang perempuan Yahudi yang hidup dalam diaspora, masuk ke dalam lingkar kekuasaan Persia.
Ester, yang dibesarkan oleh sepupunya Mordekhai, akhirnya terpilih menjadi ratu. Namun, identitasnya sebagai orang Yahudi disembunyikan. Di saat yang sama, Mordekhai menemukan rencana pembunuhan terhadap raja dan berhasil menggagalkannya, meski jasanya sempat terlupakan. Situasi berubah ketika Haman, pejabat tinggi kerajaan, tersinggung karena Mordekhai tidak mau sujud kepadanya. Dendam pribadi ini berkembang menjadi rencana besar: memusnahkan seluruh bangsa Yahudi di kerajaan Persia.
Ketika dekret pemusnahan diumumkan, Mordekhai meminta Ester untuk bertindak. Dalam momen krisis tersebut, Ester dihadapkan pada risiko besar: menghadap raja tanpa dipanggil bisa berarti hukuman mati. Namun, ia memilih mengambil risiko demi bangsanya. Dengan strategi cermat, Ester mengundang raja dan Haman ke dalam perjamuan, lalu mengungkapkan identitasnya sekaligus rencana jahat Haman.
Peristiwa berbalik drastis. Haman justru dihukum mati dengan cara yang ia rencanakan untuk Mordekhai. Raja kemudian mengeluarkan dekret baru yang memungkinkan bangsa Yahudi membela diri. Hasilnya, mereka selamat dari ancaman pemusnahan dan bahkan memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya. Mordekhai diangkat menjadi pejabat tinggi kerajaan, menggantikan posisi Haman.
Kisah ini ditutup dengan penetapan perayaan Purim, sebagai peringatan atas keselamatan bangsa Yahudi dari ancaman genosida. Purim menjadi simbol pembalikan nasib dari hampir binasa menjadi bertahan dan menang.
Secara teologis, Kitab Ester unik karena tidak secara eksplisit menyebut nama Tuhan, namun justru menampilkan bagaimana penyertaan ilahi bekerja secara tersembunyi melalui peristiwa sejarah, keputusan manusia, dan keberanian moral. Ester bukan nabi, tetapi menjadi figur sentral yang menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, satu tindakan berani dapat mengubah arah sejarah suatu bangsa.
Dengan demikian, Kitab Ester bukan sekadar kisah istana Persia, melainkan refleksi mendalam tentang identitas, keberanian, dan penyelamatan, tema yang tetap relevan lintas zaman, termasuk dalam konteks konflik modern yang kembali membangkitkan ingatan kolektif bangsa Yahudi terhadap ancaman eksistensial mereka.

