Iran Blokade Hormuz, Pipa Minyak Teluk Ini Jadi ‘Katup Darurat’ Pasar Energi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketika konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin memanas, jalur energi paling strategis di dunia berubah menjadi titik rawan. Selat Hormuz—arteri yang selama puluhan tahun menjadi jalur utama perdagangan minyak global—kini praktis lumpuh setelah Iran menargetkan kapal-kapal yang mencoba melintasi perairan sempit tersebut.
Baca Juga
Pemimpin Tertinggi Baru Iran: Selat Hormuz Harus Tetap Ditutup untuk Menekan Musuh
Blokade di selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu segera mengguncang pasar energi global. Hampir 20 juta barel minyak per hari—sekitar seperlima pasokan dunia—biasanya melewati jalur ini. Ketika aliran itu terancam terhenti, perhatian pasar kini tertuju pada dua jalur alternatif yang dimiliki Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Dua pipa minyak ini, yang sebelumnya jarang menjadi sorotan publik, tiba-tiba berubah menjadi “penyelamat” pasar energi global.
Arab Saudi mengandalkan jaringan pipa East-West atau Petroline, sistem raksasa sepanjang sekitar 750 mil yang mengangkut minyak mentah dari fasilitas Abqaiq di pantai timur Teluk menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Jalur ini memungkinkan minyak Saudi langsung diekspor ke pasar global.
Setelah serangkaian ekspansi dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas desain Petroline diperkirakan mencapai sekitar 7 juta barel per hari. Raksasa energi Saudi Aramco mengatakan jaringan ini diperkirakan akan beroperasi mendekati kapasitas penuh dalam beberapa hari ke depan untuk membantu meredakan tekanan pasokan global.
Sementara itu, Uni Emirat Arab memiliki jalur alternatif yang lebih kecil namun strategis: Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP), atau pipa Habshan–Fujairah.
Pipa sepanjang sekitar 248 mil ini menghubungkan fasilitas minyak darat di Habshan dengan pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, yang berada di luar Selat Hormuz. Infrastruktur ini diperkirakan mampu mengangkut sekitar 1,5 juta barel minyak per hari, dengan kapasitas maksimum mendekati 1,8 juta barel.
Sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran membalas dengan menargetkan kapal-kapal tanker yang mencoba melintasi koridor maritim tersebut. Sejumlah insiden terhadap kapal dagang dan tanker energi dilaporkan dalam beberapa hari terakhir, meningkatkan risiko bagi perusahaan pelayaran dan perdagangan energi.
Dalam kondisi itu, pipa Petroline dan ADCOP menjadi jalur ekspor vital bagi produsen Teluk untuk menjaga aliran minyak tetap bergerak.
“Arab Saudi dan UEA sudah meningkatkan pemanfaatan pipa yang melewati selat tersebut,” kata Naveen Das, analis minyak senior di perusahaan intelijen perdagangan global Kpler, dikutip CNBC.
Menurut perkiraan Kpler, pipa ADCOP saat ini beroperasi sekitar 71% dari kapasitasnya. Artinya, masih ada sekitar 440.000 barel per hari kapasitas cadangan yang dapat dimanfaatkan jika diperlukan. Operator energi UEA bahkan dapat meningkatkan aliran hingga 1,8 juta barel per hari dalam kondisi darurat.
Namun risiko tetap tinggi. Ketegangan militer di kawasan Teluk juga meningkatkan ancaman terhadap infrastruktur energi. Beberapa laporan media menyebutkan raksasa minyak negara Abu Dhabi menutup sementara kilang Ruwais setelah terjadi kebakaran di salah satu fasilitas di kompleks tersebut.
Kilang Ruwais sendiri merupakan salah satu fasilitas pengolahan terbesar di Timur Tengah, dengan kapasitas sekitar 922.000 barel per hari.
Menurut analis energi, gangguan di sektor hilir seperti ini dapat memperburuk ketidakseimbangan pasar jika konflik terus berlanjut.
“Dengan pasokan minyak mentah yang semakin terjebak di Teluk, kilang mungkin akan dipaksa menyesuaikan operasi,” kata Pankaj Srivastava, wakil presiden senior di perusahaan riset energi Rystad Energy.
Ia menjelaskan bahwa meskipun pipa ADCOP memungkinkan ekspor minyak mentah melewati Hormuz melalui Fujairah, produk olahan dari kompleks Ruwais masih sangat bergantung pada rute tanker yang melintasi selat tersebut.
Jika jalur laut tetap terganggu, kilang di UEA kemungkinan harus mengurangi ekspor produk atau menumpuk persediaan di pasar domestik.
Pasar Energi Global
Sejak pecahnya perang Iran bulan lalu, harga minyak bergerak liar. Patokan global Brent sempat melonjak mendekati 120 dolar per barel pada awal pekan sebelum terkoreksi, namun tetap bertahan di sekitar level 100 dolar.
Volatilitas ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa krisis Timur Tengah dapat berkembang menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga
Lonjakan Harga Minyak Seret Wall Street ke Level Terendah 2026, Dow Ambles Lebih 700 Poin
Analis pasar energi Marex, Sasha Foss, memperingatkan bahwa dampaknya bisa jauh lebih besar jika konflik terus berlarut-larut.
Ia memperkirakan produksi minyak Irak telah turun hingga 70% akibat ketegangan regional. Jika produsen besar lain seperti Arab Saudi dan UEA mulai memangkas produksi atau menghadapi gangguan ekspor, pasar global bisa menghadapi tekanan pasokan yang jauh lebih serius.
“Ketika kita melihat negara seperti Arab Saudi dan UEA mulai memangkas produksi, saat itulah pasar minyak global benar-benar akan terpukul keras,” kata Foss.
Dalam situasi seperti ini, pipa Petroline dan ADCOP mungkin tidak mampu sepenuhnya menggantikan aliran minyak yang biasanya melewati Hormuz. Namun keduanya kini menjadi katup darurat yang sangat penting bagi stabilitas pasar energi dunia.

