Trump: Perang Segera Berakhir!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan perang antara AS dan Israel melawan Iran berpotensi berakhir “dalam waktu sangat dekat.” Menurut Trump, operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari tersebut bahkan berjalan “jauh lebih cepat dari jadwal.” Meski demikian, ia menegaskan konflik tidak akan selesai dalam pekan ini. Pernyataan itu muncul ketika perang memasuki hari ke-10 dengan intensitas serangan yang masih tinggi di berbagai wilayah Timur Tengah.
Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mencoba memblokade Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Jika Iran melakukan langkah tersebut, kata Trump, AS akan menghantam Iran “dua puluh kali lebih keras” dibandingkan serangan yang telah dilakukan sejauh ini. Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan militer AS mengambil alih pengamanan Selat Hormuz serta mengawal kapal tanker untuk memastikan arus energi global tetap berjalan.
Ancaman itu langsung mempengaruhi pasar energi global. Harga minyak yang sebelumnya melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan berbalik turun sekitar 6–10%. Minyak Brent merosot hingga sekitar US$88 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke kisaran US$85 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak di atas US$100 per barel bahkan mendekati US$120 per barel dalam perdagangan yang sangat bergejolak. Penurunan harga minyak ini turut mendorong rebound di pasar saham global, termasuk di NYSE dan berbagai pasar negara berkembang.
Baca Juga
Di tengah optimisme bahwa perang bisa berakhir lebih cepat, situasi di lapangan masih memanas. Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan aset militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi. Setidaknya dua orang dilaporkan tewas di Israel akibat serangan tersebut. Sementara itu, Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon juga terus saling melancarkan serangan, dengan jumlah korban tewas di Lebanon dilaporkan telah melampaui 486 orang.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan mengumumkan telah meluncurkan gelombang ke-33 Operasi Promise 4, dengan menggunakan rudal berat berbobot lebih dari satu ton untuk menyerang target Israel dan sekutunya. Di sisi diplomatik, pejabat Iran mengonfirmasi bahwa China, Prancis, dan Rusia telah menghubungi Teheran untuk membahas kemungkinan gencatan senjata, meski hingga kini belum ada keputusan resmi.
Di dalam negeri Iran, ribuan warga turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan terhadap Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei setelah tewas dalam serangan udara pada awal perang. Sejumlah analis menilai posisi Khamenei muda kini menjadi “jabatan paling berisiko di dunia.”
Baca Juga
Prabowo Minta Rakyat Indonesia Bersiap Hadapi Dampak Perang Timur Tengah
Sementara itu, militer AS juga mengumumkan korban tewas ketujuh dari pihak Amerika dalam konflik tersebut. Wakil Presiden JD Vance menghadiri upacara penghormatan militer bagi Sersan Benjamin N. Pennington, yang meninggal akibat luka-luka setelah serangan terhadap pangkalan militer AS di Arab Saudi pada 1 Maret.
Meski eskalasi militer masih berlangsung, pernyataan Trump tentang kemungkinan berakhirnya perang dalam waktu dekat memberi harapan bagi pasar global. Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik kritis geopolitik energi dunia, karena jalur sempit antara Iran dan Oman itu menghubungkan produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan pasar global. Jika jalur tersebut tetap terbuka, tekanan terhadap pasar energi dan perekonomian global dapat segera mereda.

