PPI Inti AS Januari Melonjak, Tekan Peluang Pemangkasan Suku Bunga Fed
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Harga grosir AS pada Januari melonjak, lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini memupus harapan bahwa inflasi mulai mereda dan menekan peluang pemangkasan suku bunga The Fed.
Baca Juga
Inflasi AS Desember Melandai, Trump Kembali Desak Pemangkasan Suku Bunga
Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS, Jumat (27/2/2026), indeks harga produsen (PPI) inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang volatil, meningkat 0,8% secara musiman, lebih tinggi dari kenaikan 0,6% pada Desember. Angka ini jauh di atas estimasi konsensus Dow Jones sebesar 0,3%.
Secara keseluruhan, PPI utama naik 0,5%, juga di atas perkiraan 0,3% dan 0,1 poin persentase lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
Dalam setahun penuh, seperti dilansir CNBC, harga grosir inti melonjak 3,6%, sementara indeks utama mencatat kenaikan 2,9%. Kedua angka tersebut jauh di atas target inflasi 2% Federal Reserve dan menunjukkan bahwa kenaikan harga masih menjadi faktor dalam ekonomi AS.
Kenaikan terutama didorong oleh harga jasa, yang naik 0,8% secara bulanan — tertinggi sejak Juli 2025. Sebaliknya, harga barang turun 0,3%, meskipun harga barang inti naik 0,7%.
Lebih dari 20% kenaikan sektor jasa berasal dari margin perdagangan grosir peralatan profesional dan komersial. Di sisi barang, harga energi dan pangan turun sementara harga logam naik 4,8%.
Harga jasa perdagangan melonjak 2,5%, turut mendorong tekanan inflasi grosir.
Laporan ini muncul ketika Presiden Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa inflasi telah terkendali. Tekanan di jalur distribusi sebagaimana tercermin dalam data PPI dapat membuat The Fed tetap berhati-hati dalam menentukan langkah suku bunga berikutnya. Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan tetap menahan diri hingga musim panas, meskipun Trump dan pejabat Gedung Putih lainnya mendorong penurunan suku bunga.
Baca Juga
Heboh, Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Resiprokal, Trump Bakal Kenakan Tarif 10% ke Mitra Dagang
Para ekonom khawatir tarif Trump akan mendorong inflasi lebih tinggi, meskipun pejabat The Fed sebagian besar memperkirakan dampaknya bersifat sementara. Terdapat beberapa indikasi dampak tarif dalam data PPI, dengan indeks untuk pakaian dan barang lain seperti komponen antara yang bergerak naik.
Trump kalah dalam putusan penting Mahkamah Agung yang membatalkan langkahnya menggunakan kewenangan darurat untuk menerapkan tarif. Namun, presiden menyebut otoritas lain yang akan memungkinkannya tetap memberlakukan bea masuk tersebut.

