Sejumlah Pernyataan Trump di Davos ‘Asal Njeplak’ Tak Sesuai Fakta, Ini Fakta Sebenarnya
Poin Penting
|
DAVOS, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026), dan menyampaikan sejumlah pernyataan yang dinilai banyak pihak sebagai asal bicara tanpa dukungan fakta yang memadai. Pernyataan-pernyataan menjadi sorotan internasional, terutama di tengah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dengan Greenland dan NATO, seiring ambisi Trump untuk “membeli” wilayah otonom Denmark tersebut.
Trump membuka pidatonya dengan mengkritik Eropa dan mengeklaim berbagai pencapaian selama tahun pertamanya kembali menjabat sebagai presiden. Dalam pidato panjangnya, Trump menyinggung isu Greenland, investasi global, serta menyatakan bahwa dirinya telah “mengakhiri delapan perang”. Ucapan yang dinilai tidak sepenuhnya benar.
Klaim AS kembalikan Greenland pada Denmark
Salah satu klaim Trump yang menuai kritik adalah pernyataannya bahwa Amerika Serikat pernah “mengembalikan” Greenland kepada Denmark pada saat usai Perang Dunia II. Amerika Serikat sejatinya tidak pernah memiliki Greenland maupun memiliki hak kedaulatan atas wilayah tersebut. Greenland pertama kali dikolonisasi oleh Denmark pada abad ke-18 dan sejak 1930-an berada di bawah kedaulatan Denmark.
Trump diduga merujuk pada periode Perang Dunia II ketika Amerika Serikat mengambil alih tanggung jawab pertahanan Greenland dan membangun pangkalan militer di sana. Namun, setelah perang berakhir, tanggung jawab tersebut kembali kepada Denmark dan hal itu diterima oleh Amerika Serikat.
China kembangkan turbin angin, tapi tak miliki windfarm
Trump juga menyampaikan klaim terkait energi terbarukan dengan mengatakan, “China membuat hampir semua turbin angin, tetapi saya tidak bisa menemukan ladang angin di China.” Pernyataan ini bertentangan dengan data global. China justru menempati peringkat pertama dunia dalam kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan memiliki rencana ekspansi yang lebih besar dibanding negara lain.
Baca Juga
Trump di Davos: AS Tak Akan Gunakan Kekuatan untuk Ambil Greenland, Dahulukan Negosiasi
Setidaknya Inner Mongolia di utara China merupakan salah satu pusat terbesar onshore wind farm, dengan kapasitas terpasang terbesar di antara provinsi-provinsi lain. Kawasan lainnya yang menjadi lokasi wind farm adalah Gansu, dengan Gansu Wind Farm yang menjadi salah satu proyek wind farm terbesar dunia yang tersebar di kawasan gurun Gobi dan mencapai kapasitas puluhan ribu megawatt. Tak ketinggalan Xinjiang menjadi provinsi di barat laut yang memiliki banyak proyek wind farm karena bentang alam yang luas. Termasuk pula Provinsi Hebei dan Shandong di sebelah timur China juga memiliki sejumlah wind farm besar, yang memanfaatkan angin pesisir serta lahan daratan.
Klaim AS tak pernah dapatkan apapun dari NATO
Trump dalam pidatonya mengkritik NATO, dengan menyatakan Amerika Serikat “tidak pernah mendapatkan apa pun dari NATO”.
Faktanya, setelah serangan teroris 11 September 2001, negara-negara anggota NATO memberikan dukungan militer kepada Amerika Serikat dan terlibat dalam perang di Afghanistan. Bahkan, NATO untuk pertama dan satu-satunya kalinya mengaktifkan Pasal 5 Traktat Washington, yang menegaskan prinsip pertahanan kolektif bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi.
Trump klaim telah amankan investasi US$ 18 triliun
Dalam bidang ekonomi, Trump mengeklaim telah mengamankan investasi senilai 18 triliun dolar AS sejak kembali menjabat. Data resmi Gedung Putih yang dikutip oleh Metro.co.uk menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, yakni sekitar US% 9,6 triliun yang dialokasikan untuk investasi baru. Klaim Trump dinilai melebih-lebihkan capaian yang ada.
Trump klaim akhiri 8 perang di dunia selama menjabat
Trump juga menyatakan dirinya telah “mengakhiri delapan perang”. Pernyataan ini dinilai sebagian benar. Trump memang terlibat dalam sejumlah kesepakatan damai yang melibatkan negara-negara seperti Armenia, Azerbaijan, Iran, Israel, India, dan Pakistan. Baru-baru ini Trump juga mencoba menjadi mediator perdamaian antara Thailand dan Kamboja yang bersengketa dan terlibat dalam kontak senjata. Namun, konflik dan kekerasan di beberapa kawasan tersebut tetap berlanjut meskipun kesepakatan damai telah ditandatangani.

