Trump Mendarat di Swiss dengan Pesawat Cadangan Setelah Air Force One Alami Gangguan Listrik
Poin Penting
|
ZURICH, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba di Zurich, Swiss, pada Rabu (21/1/2026) setelah penerbangan kepresidenan mengalami gangguan kelistrikan yang memaksanya berbalik arah dan berganti pesawat dalam perjalanan menuju Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss. Insiden tersebut sempat memicu kekhawatiran keterlambatan agenda Trump di forum ekonomi global yang dihadiri para pemimpin dunia dan pelaku bisnis.
Gangguan terjadi ketika pesawat kepresidenan Air Force One lepas landas dari Joint Base Andrews di pinggiran Maryland pada Selasa (20/1/2206) malam. Sekitar 1 jam setelah keberangkatan, awak pesawat mendeteksi adanya masalah teknis dan memutuskan untuk kembali ke pangkalan tersebut demi alasan keselamatan.
Tak lama setelah lepas landas, awak pesawat menyadari adanya “masalah kelistrikan” dan memutuskan untuk kembali ke Joint Base Andrews di wilayah Prince George's County. Kondisi itu sempat dirasakan langsung oleh rombongan pers yang ikut dalam penerbangan.
Dilansir Washington Times, lampu di kabin pers sempat padam, menurut seorang reporter yang bepergian bersama Presiden Trump sebagai bagian dari rombongan media. Situasi tersebut tidak berdampak pada keselamatan penumpang, namun cukup untuk memaksa perubahan rencana penerbangan.
Baca Juga
WEF 2026: Macron Sebut Dunia Bergeser dari Demokrasi ke Otokrasi, 60 Perang Global Jadi Rekor
Presiden, staf Gedung Putih, dan awak media kemudian berpindah ke pesawat yang lebih kecil, yang kerap disebut sebagai “Air Force One mini”. Pesawat pengganti itu kemudian lepas landas kembali dan membawa Trump melanjutkan perjalanan ke Swiss.
Masalah teknis tersebut berpotensi menunda pidato Trump di Forum Ekonomi Dunia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pagi. Dalam forum tahunan di Davos itu, Trump dijadwalkan berbicara di hadapan para pemimpin politik, chief executive officer (CEO), dan tokoh teknologi terkemuka dunia mengenai prospek perekonomian global.
Trump diperkirakan akan mengungkapkan proposal kebijakan terkait keterjangkauan perumahan, sekaligus menekan para pemimpin Eropa agar mempertimbangkan rencana aneksasi Greenland yang ia dorong. Agenda tersebut menjadikan kehadiran Trump di Davos sebagai salah satu sorotan utama forum.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menanggapi insiden penerbangan itu dengan nada ringan. Ia mengatakan pesawat Qatar yang disumbangkan kepada Trump untuk berfungsi sebagai Air Force One berikutnya akan “jauh lebih baik” dibandingkan armada saat ini.
Persiapan modifikasi pesawat jumbo milik Qatar tersebut telah dimulai sejak tahun lalu. Pesawat Boeing dengan nilai sekitar US$ 400 juta itu disumbangkan oleh Qatar sebagai “hadiah tanpa syarat”, sementara biaya modifikasinya ditanggung oleh Pemerintah Amerika Serikat.
Namun, kesepakatan tersebut memicu kritik dari para penentang Trump maupun sebagian sekutunya. Sejumlah pihak memperingatkan bahwa pemberian pesawat dari negara asing berpotensi dipersepsikan sebagai bentuk suap yang dapat menimbulkan persoalan etika dan keamanan nasional.
Baca Juga
WEF di Davos 2026 Dimulai: Dialog Global di Tengah Dunia yang Terbelah, Apa yang Diharapkan?
Saat ini, armada kepresidenan Amerika Serikat terdiri atas dua jet Boeing 747-200 yang telah beroperasi sejak 1990, serta sejumlah pesawat Boeing 757 yang berukuran lebih kecil. Usia armada yang menua menjadi salah satu alasan perlunya pembaruan pesawat kepresidenan.
Pada Februari 2025 lalu, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap produsen pesawat Amerika Serikat, Boeing, terkait pengiriman dua pesawat Air Force One baru yang berulang kali tertunda. Saat itu, ia menyebut pemerintah dapat mempertimbangkan opsi lain.

