WEF di Davos 2026 Dimulai: Dialog Global di Tengah Dunia yang Terbelah, Apa yang Diharapkan?
Poin Penting
|
DAVOS, Investortrust.id - Pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) resmi dimulai di Davos, Swiss, pada Senin (19/1/2026), dengan menghadirkan ribuan tokoh global dari kalangan politik, bisnis, akademisi, dan masyarakat sipil selama agenda lima hari yang akan berlangsung hingga Kamis (23/1/2026).
Forum yang kerap menjadi rujukan pembentukan agenda global ini digelar di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia yang meningkat. Isu konflik internasional, fragmentasi perdagangan, hingga perkembangan pesat kecerdasan buatan menjadi latar penting pertemuan tahun ini, yang dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan global dalam beberapa tahun ke depan.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut bersama para pemimpin dunia lainnya. Kehadiran Trump terjadi di tengah hubungan Washington yang menegang dengan sejumlah sekutu Eropa, menyusul pernyataannya terkait Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, serta pendekatan kebijakan luar negeri dan perdagangannya yang agresif.
Baca Juga
Denmark Absen pada WEF Davos di Tengah Perselisihan Greenland dengan AS
Apa itu WEF?
World Economic Forum merupakan lembaga pemikir dan penyelenggara konferensi internasional yang berbasis di Jenewa, Swiss. Forum ini pertama kali menggelar pertemuan di Davos pada 1971 sebagai ajang diskusi para eksekutif bisnis. Seiring waktu, cakupannya meluas ke isu-isu strategis global, mulai dari kesenjangan ekonomi, perubahan iklim, hingga teknologi dan tata kelola global.
Konferensi tingkat tinggi WEF digelar di pusat konferensi Davos, kota pegunungan Alpen Swiss yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter dan dikenal sebagai resor ski. Davos, yang terletak di kanton Graubunden, telah menjadi tuan rumah pertemuan WEF setiap Januari selama lebih dari lima dekade.
Siapa yang Hadir?
Penyelenggara memperkirakan hampir 3.000 peserta tingkat tinggi hadir, termasuk tokoh pemerintahan, pimpinan korporasi global, akademisi, aktivis, jurnalis, serta pengamat internasional. WEF menyebut sekitar 400 pemimpin politik dijadwalkan datang, di antaranya lebih dari 60 kepala negara dan pemerintahan.
Trump menjadi salah satu figur utama dalam agenda tahun ini dan dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu (21/1/2026). Ia juga akan didampingi sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta utusan khusus Steve Witkoff. Bloomberg News melaporkan Trump berencana menggelar pertemuan bertajuk “Dewan Perdamaian” terkait Gaza di sela forum tersebut.
Sejumlah pemimpin dunia lain yang hadir antara lain Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, Presiden Republik Demokratik Kongo Felix Tshisekedi, Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, serta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
WEF juga menyebutkan kehadiran 55 menteri ekonomi dan keuangan, 33 menteri luar negeri, 34 menteri perdagangan dan perindustrian, serta 11 gubernur bank sentral. Dari sektor teknologi, tokoh yang dijadwalkan hadir antara lain Chief Executive Officer Nvidia Jensen Huang, Chief Executive Officer Microsoft Satya Nadella, Chief Executive Officer Google DeepMind Demis Hassabis, serta Chief Executive Officer Mistral AI Arthur Mensch.
Selain itu, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte dan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala termasuk di antara pejabat tinggi organisasi internasional yang menghadiri pertemuan tersebut.
Siapa yang Tak Hadir?
Di sisi lain, tidak semua negara mengirimkan perwakilan. Menteri Luar Negeri Iran dipastikan tidak menghadiri KTT WEF 2026. Penyelenggara menyatakan ketidakhadiran tersebut terkait situasi domestik Iran menyusul penindakan terhadap demonstran dalam beberapa pekan terakhir. “Menteri Luar Negeri Iran tidak akan menghadiri Davos,” kata WEF dalam pernyataan di platform X.
Baca Juga
Menteri Rosan Sebut Partisipasi Indonesia di WEF Davos Perkuat Daya Saing Global
“Meskipun ia diundang pada musim gugur lalu, hilangnya nyawa warga sipil secara tragis di Iran selama beberapa minggu terakhir berarti bahwa tidak pantas bagi pemerintah Iran untuk diwakili di Davos tahun ini,” tambah pernyataan tersebut.
Israel tetap diundang dalam forum ini dan akan diwakili oleh Presiden Isaac Herzog, meskipun negara tersebut menghadapi tuduhan genosida terkait konflik di Gaza. Sementara itu, Presiden Mozambik Daniel Chapo membatalkan kehadirannya akibat banjir besar di negaranya. Ia menyampaikan melalui media sosial pada Minggu (18/1/2026) bahwa prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan nyawa.
Apa yang Dibahas?
Tema WEF 2026 adalah “Semangat Dialog”, dengan lebih 200 sesi diskusi yang membahas isu geopolitik, kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga prospek ekonomi global. Reuters melaporkan Trump juga dijadwalkan bertemu para pemimpin bisnis global pada Rabu, dengan agenda yang sebagian besar masih tertutup.
Tahun ini, dinamika geopolitik menjadi sorotan utama. Kebijakan dan pernyataan Trump terkait Venezuela, Greenland, Iran, serta kebijakan tarifnya dinilai telah mengguncang tatanan global dan memicu pertanyaan tentang peran Amerika Serikat di dunia. Para pemimpin Uni Eropa bahkan menyebut ancaman tarif baru terkait Greenland sebagai bentuk “pemerasan”.
Baca Juga
CEO Microsoft Sebut Keberhasilan AI Ditentukan oleh Difusi dan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi topik sentral. Para eksekutif perusahaan menyoroti potensi teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas, sementara serikat pekerja dan kelompok advokasi mengingatkan risiko terhadap lapangan kerja. Di sisi lain, para pembuat kebijakan berupaya mencari keseimbangan antara regulasi dan ruang inovasi.
Panitia WEF menekankan bahwa “Semangat Dialog” mencerminkan fokus pada kerja sama global, pertumbuhan ekonomi, investasi sumber daya manusia, inovasi, dan pembangunan kemakmuran. Meski demikian, kritik terhadap Davos tetap muncul. Sejumlah pihak menilai forum ini terlalu sarat diskusi dan kurang menghasilkan aksi nyata dalam mengatasi ketimpangan global dan perubahan iklim.

