Menlu Sugiono Fokuskan Diplomasi Ekonomi RI ke Diversifikasi Pasar, Investasi Berkualitas, dan Penguatan Industri Domestik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono mengingatkan, dalam dunia yang terfragmentasi saat ini, perdagangan, investasi, dan teknologi bukan lagi kekuatan netral. Itu sebabnya, diplomasi ekonomi Indonesia kini difokuskan pada diversifikasi pasar, menarik investasi berkualitas, dan memperkuat industri dalam negeri.
Menurut Sugiono, dunia saat ini tidak hanya lebih sulit dipahami tetapi juga lebih sulit diandalkan. “Dalam beberapa bulan terakhir, kita telah melihat hukum internasional didorong dengan cara yang tampaknya tidak terpikirkan beberapa waktu lalu,” kata Sugiono dalam keterangan resmi, Kamis (15/1/2026).
Menlu menjelaskan, aturan yang dimaksudkan untuk membatasi penggunaan kekerasan sedang dilonggarkan, bahkan terkadang diabaikan. Pada saat yang sama, hubungan ekonomi yang dulunya menjanjikan stabilitas kian digunakan sebagai alat tekanan.
Baca Juga
Dunia Makin Kabur, Menlu: Kekuatan Ekonomi Bukan Hanya Angka Pertumbuhan
“Konflik yang dimulai di satu tempat kini menyebar ke luar, menaikkan harga pangan, mengganggu pasar energi, dan mengguncang stabilitas keuangan jauh melampaui batas negara,” ujar dia.
Lingkungan dunia seperti inilah, menurut Sugiono, yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang, di mana ketidakpastian menyebar dengan cepat dan negara-negara yang tidak siap dapat dipaksa untuk membuat pilihan yang tidak mereka buat.
“Bagi Indonesia, ini telah mengarah pada kesimpulan yang jelas bahwa kebijakan luar negeri kita harus dibangun untuk memperkuat ketahanan yang dinamis,” tegas dia.
Ketahanan dinamis, kata Menlu, tidak berarti penarikan diri dari sistem internasional, melainkan bagaimana menjaga ruang kebijakan, melindungi rakyat, dan tetap terlibat dari posisi yang kuat, bahkan ketika lingkungan global kian bergejolak.
Baca Juga
“Ini adalah kemampuan untuk menyerap guncangan, beradaptasi dengan tekanan, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan arah,” tandas dia.
Menlu Sugiono mengungkapkan, ketika harga pangan naik di pasar Indonesia karena gangguan rantai pasok di tempat lain, itu merupakan bagian dari kebijakan luar negeri. Ketika kesenjangan teknologi memperlebar ketidaksetaraan, itu juga kebijakan luar negeri. Demikian pula tatkala warga negara Indonesia (WNI) harus dievakuasi dari zona konflik.
Menlu mengemukakan, kebijakan luar negeri bukan lagi sesuatu yang jauh. Kebijakan luar negeri dimulai dengan keamanan dan kemakmuran sehari-hari rakyat, dan dimulai dari dalam negeri. “Itulah mengapa Indonesia telah fokus pada penguatan fondasinya,” tutur dia.
Sugino mencontohkan, mengamankan tapal batas negara, memastikan sumber daya alam Indonesia menghasilkan nilai di dalam negeri, dan memodernisasi sistem pelindungan WNI di luar negeri tidak terpisahkan dari diplomasi. Itulah yang membuat diplomasi kredibel. Negara yang rapuh di dalam negeri akan memiliki pengaruh terbatas di luar negeri. Begitu pun sebaliknya.
“Logika yang sama berlaku bagi ekonomi kita. Perdagangan, investasi, dan teknologi bukan lagi kekuatan netral. Kekuatan ekonomi semakin dipersenjatai, digunakan untuk memberikan pengaruh dan terkadang, untuk pemaksaan. Dalam lingkungan seperti ini, ketahanan ekonomi bukan lagi pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan strategis,” papar dia.
Baca Juga
Menlu Sugiono Soroti Rapuhnya Tatanan Dunia, Negara Masuk ke Survival Mode
Karena itu, menurut Menlu, diplomasi ekonomi Indonesia difokuskan pada diversifikasi pasar, menarik investasi berkualitas, dan memperkuat industri dalam negeri. Ini bukan hanya tentang mengejar pertumbuhan. “Ini juga tentang mengurangi kerentanan, mengelola risiko, dan memastikan bahwa guncangan eksternal tidak merusak stabilitas nasional,” tandas dia.
Menlu Sugiono mengakui, ketahanan tidak dibangun secara terisolasi. Bangsa Indonesia hidup di kawasan di mana stabilitas harus dipertahankan secara aktif. “Indo-Pasifik telah menjadi arena utama persaingan global. Tanpa kerja sama regional yang kuat, bahkan kesalahpahaman kecil dapat meningkat menjadi risiko yang lebih besar,” ujar dia.
Berkaca pada hal tersebut, kata Sugiono, pemerintah tetap menjadikan ASEAN sebagai pusat strategi Indonesia. Bukan karena ASEAN sempurna, tetapi karena menyediakan mekanisme kolektif untuk mengelola perbedaan secara damai dan dapat diprediksi.
Baca Juga
Sering Tabrak Aturan Internasional, Menlu Sugiono Tak Sebut Intervensi AS di Dunia Internasional
“ASEAN yang lebih bersatu memungkinkan negara-negara anggotanya membentuk masa depan mereka sendiri daripada dibentuk oleh agenda orang lain. Menyambut Timor-Leste ke dalam keluarga ASEAN kian memperkuat ketahanan kolektif tersebut,” ucap dia.
Menurut Menlu, kesepakatan regional seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), bersama kerja sama rantai pasok dan digital yang lebih kuat sesungguhnya memiliki tujuan yang sama.
“Tujuannya yaitu melindungi Asia Tenggara dari guncangan global dan dari ketergantungan berlebihan pada satu pasar Tunggal,” kata dia.

