RI Hadapi Tekanan Global, Wamenlu: Dunia Bergerak ke 'Hard Power'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta menilai dinamika global pada 2026 dan tahun-tahun mendatang akan semakin berbahaya. Hal ini berkaca dari melemahnya tatanan internasional dan meningkatnya penggunaan kekuatan dalam hubungan antarnegara.
Anis Matta mengatakan dunia saat ini memasuki fase pendalaman konflik global, di mana lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semakin kehilangan daya tawar, sementara hukum internasional kian tidak dihormati.
“Sekarang kita memasuki pendalaman konflik global yang lebih berbahaya di tahun 2026 dan tahun-tahun sesudahnya, kita sudah melihat bahwa lembaga-lembaga multilateral seperti PBB semakin tidak berdaya, juga hukum internasional semakin tidak dihargai,” ujar Wamenlu di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong pergeseran pola hubungan internasional yang semakin bertumpu pada kekuatan atau hard power. Kondisi itu, kata Anis, bahkan sudah masuk dalam relasi bilateral maupun antarnegara secara umum.
“Karena itu ada tendensi untuk berbicara berbasis hard power, dan hubungan bilateral atau hubungan kita antar sesama negara mungkin ditandai oleh semangat penggunaan bahasa hard power,” lanjutnya.
Baca Juga
RI Kecam Pengakuan Israel atas Somaliland, Ancam Stabilitas Kawasan
Politisi Partai Gelora itu menegaskan ancaman perang global saat ini jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya. Oleh karena itu, Indonesia perlu melakukan langkah antisipatif yang lebih serius untuk menjaga stabilitas nasional.
“Ancaman perang sekarang ini meningkat jauh lebih besar daripada tahun-tahun sesudahnya, sehingga kita di Indonesia perlu melakukan antisipasi yang lebih besar, meningkatkan daya tahan kita sebagai bangsa,” katanya.
Ia menilai salah satu pilar utama ketahanan nasional Indonesia berada pada kekuatan kohesi sosial di dalam negeri. “Saya rasa di antara bagian dari pembentuk ketahanan nasional kita itu adalah kohesi sosial kita,” tegas Anis Matta.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono juga menyoroti kondisi global dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026, meski tidak secara spesifik menyebut Amerika Serikat (AS) yang belakangan melakukan intervensi ke sejumlah negara demi kepentingan domestiknya.
“Ketika aturan yang disepakati bersama dilanggar tanpa konsekuensi, maka yang runtuh bukan hanya satu aturan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan tatanan itu sendiri,” ujar Sugiono di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Sugiono menegaskan pernyataan tersebut tidak diarahkan ke AS, melainkan mencerminkan situasi global yang membutuhkan penguatan multilateralisme. “Itu kan situasi yang kita lihat ya bahwa multilateralisme diperkuat, perlu ada re-commitment untuk nilai dan aturan-aturan yang kita sepakati,” ujarnya.
Menurut Sugiono, tatanan dan aturan internasional merupakan jaminan keselamatan seluruh bangsa, mengingat dinamika global akan selalu berdampak lintas negara. “Jadi apapun yang terjadi di satu tempat di dunia ini, satu negara, cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kehidupan kita di sini,” tutupnya.

