Iran Ancam Balas Serang Fasilitas Militer AS dan Israel Jika Teheran Diserang
Poin Penting
|
TEHERAN, Investortrust.id - Teheran pada Minggu (11/1/2026) mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan milik Amerika Serikat apabila Washington melancarkan serangan militer ke Iran.
Ancaman tersebut disampaikan langsung kepada Amerika Serikat di tengah meningkatnya kewaspadaan Israel terhadap kemungkinan intervensi AS, sebagaimana diungkapkan sejumlah sumber keamanan Israel.
Peringatan keras itu muncul ketika pemerintahan ulama Iran menghadapi gelombang protes anti-pemerintah terbesar sejak 2022. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa hari terakhir berulang kali mengeluarkan peringatan keras kepada para pemimpin Iran, khususnya agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran. Pada Sabtu, Trump menegaskan Amerika Serikat “siap membantu”.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, yang juga mantan komandan Garda Revolusi Iran, memperingatkan Washington agar tidak melakukan kesalahan perhitungan.
“Perlu kami tegaskan, jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target sah kami,” ujar Qalibaf dalam pidatonya di parlemen Iran, Minggu (11/1/2026) seperti dikutip Nikkei Asia.
Di pihak lain, tiga sumber Israel yang mengikuti konsultasi keamanan selama akhir pekan menyebutkan bahwa Israel berada dalam kondisi siaga tinggi, meski mereka tidak merinci langkah-langkah yang diambil. Juru bicara pemerintah Israel menolak memberikan komentar, sementara militer Israel belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.
Ketegangan antara Israel dan Iran kembali menguat setelah kedua negara terlibat perang selama 12 hari pada Juni 2025 lalu, saat Amerika Serikat turut mendukung Israel melancarkan serangan udara. Iran membalas serangan AS tersebut dengan menembakkan rudal ke sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar.
Aksi protes di Iran sendiri telah meluas sejak 28 Desember, bermula dari kemarahan publik atas melonjaknya inflasi dan krisis ekonomi, lalu berkembang menjadi tuntutan politik yang menyerukan diakhirinya kekuasaan ulama. Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut.
Baca Juga
Trump Pertimbangkan Opsi Militer ke Iran di Tengah Aksi Protes yang Makin Meluas
Arus informasi dari dalam Iran semakin terbatas setelah pemerintah memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis lalu. Meski demikian, organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan jumlah korban tewas telah mencapai 116 orang. Mayoritas korban adalah demonstran, namun termasuk pula 37 anggota aparat keamanan.
Televisi pemerintah Iran menayangkan prosesi pemakaman anggota pasukan keamanan yang tewas dalam kerusuhan di sejumlah kota di wilayah barat Iran, seperti Gachsaran dan Yasuj. Sementara itu, sebuah video yang beredar di media sosial pada Sabtu memperlihatkan kerumunan besar warga berkumpul di kawasan Punak, Teheran, pada malam hari sambil memukul-mukul jembatan dan benda logam lain sebagai bentuk protes. Lokasi video tersebut telah diverifikasi oleh Reuters.
Penguasa Iran sebelumnya telah berulang kali berhasil meredam gelombang protes, termasuk pada 2022 setelah kematian seorang perempuan dalam tahanan polisi terkait dugaan pelanggaran aturan berpakaian.
Trump kembali menegaskan sikapnya melalui media sosial Truth Social pada Sabtu (10/1/2026). “Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!!” tulisnya.
Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio melakukan percakapan telepon. Seorang sumber Israel yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebutkan bahwa keduanya membahas kemungkinan intervensi Amerika Serikat di Iran. Seorang pejabat AS membenarkan adanya pembicaraan tersebut, namun tidak mengungkapkan topik yang dibahas.
Baca Juga
Iran Terus Diguncang Aksi Massa, Dipicu Mahalnya Harga Barang hingga Peran Donald Trump
Seorang pejabat intelijen senior Amerika Serikat menggambarkan situasi di Iran sebagai sebuah “permainan ketahanan”. Menurutnya, kelompok oposisi berupaya mempertahankan tekanan hingga tokoh-tokoh kunci pemerintahan melarikan diri atau berpihak, sementara otoritas Iran berusaha menebar ketakutan untuk mengosongkan jalanan tanpa memberi pembenaran bagi Amerika Serikat untuk turun tangan.
Israel sendiri belum secara terbuka menyatakan keinginan untuk melakukan intervensi langsung, meski ketegangan dengan Iran tetap tinggi, terutama terkait kekhawatiran Israel terhadap program nuklir dan rudal balistik Iran. Dalam wawancara dengan majalah The Economist yang diterbitkan Jumat, Netanyahu memperingatkan bahwa akan ada konsekuensi mengerikan bagi Iran jika menyerang Israel. Menyinggung situasi protes, ia mengatakan, “Untuk hal-hal lainnya, saya pikir kita perlu melihat apa yang sedang terjadi di dalam Iran.”
