Yield Obligasi AS Melonjak Jelang Rilis Data Tenaga Kerja
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury) bergerak naik pada Kamis (8/1/2026). Investor menantikan data ketenagakerjaan AS dan terus memantau perkembangan geopolitik.
Baca Juga
Yield USTreasury 10-Tahun Bergerak Naik Setelah Rilis Risalah The Fed
Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,183%. Surat utang tenor 2 tahun naik lebih dari 2 basis poin ke 3,492%. Sementara itu, imbal hasil obligasi 30 tahun naik lebih dari 4 basis poin ke 4,856%.
Klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 3 Januari tercatat 208.000, sebagaimana dilaporkan Departemen Tenaga Kerja pada Kamis. Angka tersebut naik 8.000 dari pekan sebelumnya, namun masih di bawah estimasi 210.000 dari ekonom yang disurvei Dow Jones.
Investor menantikan lebih banyak data ekonomi pada Jumat, ketika laporan nonfarm payrolls dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) dijadwalkan rilis pada pagi waktu setempat.
Terkait data pengangguran, Kepala Strategi Suku Bunga AS BMO Capital Markets, Ian Lyngen, mengaku berhati-hati terhadap potensi distorsi musiman akibat libur panjang. “Namun dengan semakin dekatnya keputusan FOMC The Fed pada Januari, tambahan konteks mengenai kondisi pasar tenaga kerja akan sangat berguna saat 2026 dimulai,” tulisnya dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC.
Pengumpulan data oleh BLS sempat terganggu oleh penutupan pemerintah AS selama 43 hari tahun lalu. Ini akan menjadi laporan payrolls pertama yang dirilis tepat waktu sejak penutupan tersebut.
Baca Juga
Pengangguran AS Melonjak ke Level Tertinggi dalam 4 Tahun, Payroll Naik Tipis
Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan ekonomi AS menambah 73.000 lapangan kerja baru bulan ini, naik dari 64.000 pada November, sementara tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 4,5%.
Di sisi lain, investor juga mencermati perkembangan geopolitik, termasuk situasi Venezuela yang masih berlangsung, serta keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland.

