Ekonomi AS Q3-2025 Tumbuh 4,3%, Jauh di Atas Perkiraan
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Ekonomi Amerika Serikat pada kuartal ketiga tumbuh jauh lebih tinggi dari perkiraan, didorong oleh kuatnya belanja konsumen. Hal itu terungkap dari laporan yang dirilis Selasa (23/12/2025).
Baca Juga
Powell: Ekonomi AS Mulai Pulih, tapi Pasar Tenaga Kerja Masih Lemah
Produk domestik bruto (PDB) AS — total nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian — tumbuh 4,3% pada periode Juli hingga September, menurut pembacaan awal Departemen Perdagangan AS. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,2%.
Belanja konsumen tumbuh 3,5% pada kuartal ketiga, meningkat dari kenaikan 2,5% pada kuartal kedua.
Kenaikan ekspor dan belanja pemerintah turut mendorong pertumbuhan, sementara penurunan yang lebih kecil dalam investasi tetap swasta juga memberikan kontribusi positif.
Dilansir CNBC, laporan ini awalnya dijadwalkan rilis pada 30 Oktober, namun tertunda akibat penutupan pemerintahan. Rilis ini juga menggantikan estimasi kedua yang semula dijadwalkan pada 26 November. Biro Analisis Ekonomi di bawah Departemen Perdagangan akan merilis satu estimasi final di kemudian hari.
Indikator pertumbuhan yang dikenal sebagai real final sales to private domestic purchasers naik 3% pada kuartal tersebut, meningkat 0,1 poin persentase dari periode sebelumnya. Data ini diawasi ketat oleh para pembuat kebijakan Federal Reserve sebagai indikator permintaan konsumen.
Perekonomian tetap bergerak maju pada periode tersebut meskipun masih terdapat tekanan inflasi yang persisten.
Baca Juga
Belanja Konsumen AS Melonjak, Inflasi Inti PCE Agustus Bertahan di 2,9% YoY
Indeks harga belanja konsumsi pribadi (PCE/personal consumption expenditures) yang menjadi ukuran inflasi utama The Fed, naik 2,8% selama periode tersebut, sementara PCE inti — yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi — naik 2,9%. Keduanya lebih tinggi dibandingkan sebelumnya masing-masing sebesar 2,1% dan 2,6%, serta masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Selain itu, indeks harga chain-weighted yang memperhitungkan perubahan perilaku konsumen, naik 3,8%, satu poin persentase di atas perkiraan.
Meski laporan ini memberikan gambaran ekonomi yang secara umum positif, reaksi pasar relatif terbatas karena data tersebut bersifat historis. Kontrak berjangka saham sedikit melemah, sementara imbal hasil Treasury bertahan di level yang lebih tinggi.
Di bagian lain laporan, laba korporasi melonjak US$166,1 miliar atau 4,2%, dibandingkan kenaikan hanya US$6,8 miliar pada kuartal kedua.

