Di Atas Perkiraan, Inflasi Inti Singapura Oktober Melonjak 1,2% YoY
Poin Penting
- Inflasi utama Oktober naik 1,2% YoY—tertinggi sejak Agustus 2024 dan melampaui ekspektasi 0,9%.
- Inflasi inti melonjak ke 1,2% dari 0,4%, jauh di atas perkiraan 0,7%.
- Transportasi naik 3,4% dan biaya kesehatan melonjak 4%, menjadi pendorong utama kenaikan harga.
- Singapura menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 menjadi 4%, namun memperingatkan perlambatan pada 2026 akibat tarif AS.
SINGAPURA, investortrust.id - Inflasi Singapura naik untuk bulan kedua berturut-turut secara tahunan (yoy/year on year). Pertumbuhan harga pada Oktober mencapai level tertinggi dalam hampir satu tahun dan melampaui perkiraan para analis.
Baca Juga
Singapura Waspadai Perlambatan Ekonomi 2026 meski PDB Q3 Melampaui Ekspektasi
Setelah mencapai posisi terendah dalam empat tahun pada Agustus, harga konsumen naik 1,2% — tertinggi sejak Agustus 2024 — dibandingkan dengan perkiraan rata-rata 0,9% dari ekonom yang disurvei Reuters serta kenaikan 0,7% pada September.
Inflasi inti — yang tidak memasukkan biaya akomodasi dan transportasi pribadi — juga naik menjadi 1,2%, dari 0,4%, dan jauh di atas ekspektasi 0,7% dalam survei Reuters.
Secara bulanan, indeks harga konsumen tercatat stabil, sementara inflasi inti naik 0,5% dibandingkan bulan sebelumnya.
Inflasi utama didorong oleh kenaikan harga transportasi sebesar 3,4% serta peningkatan inflasi inti. Biaya kesehatan juga melonjak 4%.
Kenaikan inflasi inti dipicu oleh meningkatnya harga pada sektor jasa, makanan, dan ritel, serta penurunan yang lebih moderat pada harga listrik dan gas, menurut Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI).
Data inflasi ini dirilis setelah Singapura pada Jumat meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk 2025 menjadi 4%, dari sebelumnya 1,5%–2,5%, seiring pertumbuhan PDB kuartal ketiga yang solid.
Ekonomi tumbuh 4,2% pada kuartal ketiga dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui perkiraan dan melanjutkan ekspansi 4,7% pada kuartal kedua. MTI mengatakan kondisi ekonomi global lebih tangguh dari perkiraan, namun memperingatkan bahwa pertumbuhan kemungkinan akan melambat pada 2026 karena tarif AS menekan permintaan global.
Baca Juga
Ekspor Singapura ke Amerika Serikat dikenakan tarif dasar 10%, meskipun Singapura mengalami defisit perdagangan dengan AS dan telah memiliki perjanjian perdagangan bebas sejak 2004.
Ekonomi negara ini sangat bergantung pada perdagangan, dengan data Bank Dunia menunjukkan rasio perdagangan terhadap PDB lebih dari 320% pada 2024.
Pada kuartal ketiga, Singapura mencatat penurunan 3,3% dalam ekspor domestik non-migas (NODX) secara tahunan, tertekan oleh lemahnya ekspor farmasi dan petrokimia.
Namun pada Oktober, NODX melonjak 22,2% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh ekspor emas non-moneter dan produk elektronik.
Monetary Authority of Singapore (MAS) memperkirakan inflasi pada kisaran 0,5% hingga 1% pada 2025.
MAS mempertahankan kebijakan moneternya pada pertemuan Oktober, dengan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Singapura lebih kuat dari perkiraan.

