Redam Lonjakan Harga, Trump Pangkas Tarif Produk Kopi, Pisang dan Daging Sapi
Poin Penting
- Trump mengecualikan sejumlah komoditas pertanian—termasuk kopi, kakao, pisang, dan jenis daging sapi tertentu—dari tarif tinggi yang diberlakukan sebelumnya.
- Kebijakan ini diambil akibat tekanan politik atas tingginya harga kebutuhan pokok di AS yang dipicu oleh tarif, inflasi, dan gangguan rantai pasok.
- Industri daging sapi, kopi, dan kakao tercatat mengalami kenaikan harga signifikan karena tarif terhadap pemasok besar seperti Brasil, Australia, dan Vietnam.
- Pemerintah berharap pelonggaran tarif dapat menahan kenaikan harga grosir, meskipun faktor global seperti kekeringan dan gangguan produksi tetap menjadi risiko.
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Donald Trump menghapus tarif tinggi untuk sejumlah impor pertanian utama seperti kopi, kakao, pisang, dan beberapa produk daging sapi tertentu. Trump menghadapi tekanan politik atas tingginya harga di toko bahan makanan AS.
Baca Juga
Ragukan Legalitas Tarif Trump, Mahkamah Agung AS Pertanyakan Kewenangan Presiden dalam Pajak Impor
Dilansir dari CNBC, Minggu (16/11/2025), sebagian distributor daging sapi, kopi, cokelat, dan berbagai kebutuhan pangan umum lainnya menaikkan harga setelah tarif Trump mulai berlaku. Hal ini memperberat anggaran rumah tangga yang sebelumnya sudah tertekan oleh inflasi tertinggi dalam beberapa dekade.
Tindakan Trump juga mencakup pengecualian untuk berbagai buah, termasuk tomat, alpukat, kelapa, jeruk, dan nanas. Selain kopi, penurunan tarif diberikan untuk teh hitam dan hijau, serta rempah seperti kayu manis dan pala.
Kebijakan ini menandai langkah mundur bagi Trump, yang selama ini menegaskan bahwa tarif diperlukan untuk melindungi bisnis dan pekerja AS serta bersikukuh bahwa konsumen AS pada akhirnya tidak akan menanggung beban biaya tambahan tersebut.
Pengecualian tarif diberikan hanya sehari setelah Trump mencapai kerangka perjanjian dagang dengan empat negara Amerika Latin—termasuk tarif 10% untuk sebagian besar barang dari Argentina, Guatemala, dan El Salvador, serta 15% untuk barang dari Ekuador. Kebijakan baru ini juga menghapus tarif untuk komoditas yang tidak diproduksi di AS dalam jumlah memadai, seperti pisang dan kopi.
Harga pangan yang terus meningkat telah membebani rumah tangga AS selama beberapa tahun. Data CPI menunjukkan harga pangan-rumahan naik sekitar 2,7% secara tahunan pada September. (Data terbaru tertunda akibat penutupan pemerintah).
Pengecualian tarif ini bertujuan membantu menahan kenaikan harga bahan pangan, meski para ahli memperingatkan masih banyak faktor lain seperti kekurangan pasokan global yang turut memengaruhi harga, terutama untuk kopi dan daging sapi.
Daging sapi
Pengecualian tarif untuk daging sapi diberlakukan setelah berbulan-bulan kenaikan harga yang sebagian terkait dengan kebijakan tarif Trump sendiri.
Selama setahun terakhir, AS menerapkan tarif tinggi pada pemasok utama seperti Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay. Brasil—produsen daging sapi terbesar kedua di dunia—menghadapi tarif efektif lebih dari 75%, sehingga menekan impor ke AS pada saat populasi sapi di negara tersebut berada pada titik terendah dalam hampir 75 tahun.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Tandatangani Rencana Tarif Resiprokal Besar-Besaran
Peternak kesulitan membangun kembali populasi ternak akibat kekeringan, biaya pakan yang lebih tinggi, serta tarif atas pupuk, baja, dan aluminium yang membuat peralatan dan perbaikan semakin mahal.
Keterbatasan pasokan ini mendorong lonjakan harga di toko ritel: harga produk daging sapi mentah naik 12–18% secara tahunan pada September menurut laporan CPI terbaru dari BLS.
Produsen mengatakan kepada CNBC bahwa perubahan kebijakan tarif yang cepat—termasuk perluasan kuota daging sapi Argentina—telah menghambat investasi jangka panjang, membuat pasokan tetap ketat dan sentimen industri rapuh.
Kopi
Harga kopi bubuk panggang di AS mencapai US$8,41 per pon pada Juli, tertinggi dalam sejarah dan naik 33% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tarif 50% Trump pada kopi Brasil—pemasok sepertiga impor AS—mendorong kenaikan biaya di sepanjang rantai pasok roasting hingga ritel. Vietnam, Kolombia, dan eksportir besar lainnya juga terdampak tarif pangan AS.
Para roaster dan kafe mengatakan mereka tidak memiliki cara untuk menghindari tarif karena AS sama sekali tidak memproduksi biji kopi, membuat importir menanggung biaya tinggi apa pun asal negara pemasok. Laporan CPI September menemukan harga kopi naik hampir 21% pada Agustus dari tahun sebelumnya, kenaikan terbesar sejak 1990-an.
Para peritel memperingatkan dampaknya bisa meluas jika tarif dipertahankan. Tax Foundation memperkirakan pada Agustus bahwa 74% impor pangan AS terkena tarif, termasuk teh, rempah-rempah, dan produk lain yang seperti halnya kopi, tidak memiliki rantai pasok domestik.
Banyak dari produk yang tidak diproduksi di AS tersebut masuk daftar pengecualian tarif yang diumumkan Trump pada Jumat (14/11/2025).
Harga kopi global berada di dekat level tertinggi 50 tahun yang dicapai pada Februari.
Kakao
Kakao menghadapi tekanan harga serupa.
Meski sempat turun tajam musim gugur ini, harga berjangka masih lebih dari dua kali lipat level pra-pandemi, sekitar US$5.300 saat ini, dipicu oleh tarif dan tiga tahun kegagalan panen akibat cuaca di Pantai Gading dan Ghana.
Pada Oktober, eksekutif Hershey mengatakan mereka memperkirakan beban tarif mencapai US$160 juta–US$170 juta tahun ini, di luar biaya biji kakao yang telah mencapai rekor tertinggi dan mendorong harga cokelat ritel naik hampir 30% dibandingkan tahun sebelumnya menjelang Halloween.

