Saham Berjangka AS Menguat Jelang Laporan Kinerja “Mega-Corp”
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Futures saham AS naik pada Minggu (19/10/2025) malam. Investor mengalihkan perhatian ke laporan keuangan dari sejumlah perusahaan besar dan data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang.
Futures yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average naik 84 poin, atau sekitar 0,2%. S&P 500 futures naik 0,2%, sementara Nasdaq 100 futures menguat 0,3%.
Baca Juga
Trump Melunak terhadap China, Dow Futures Melonjak Hampir 400 Poin
Sentimen positif di awal pekan didorong oleh laporan The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump dalam beberapa minggu terakhir telah mengecualikan puluhan produk dari tarif resiprokalnya dan juga menawarkan untuk mengecualikan ratusan produk lainnya. Langkah ini mencerminkan pandangan yang kini semakin disepakati di antara pejabat pemerintah bahwa AS sebaiknya menurunkan bea masuk atas barang-barang yang tidak diproduksi di dalam negeri.
Saham-saham AS baru saja melewati pekan perdagangan yang bergejolak, namun akhirnya ditutup menguat meskipun ketegangan antara AS dan China meningkat, aksi jual akibat kerugian bank regional, serta penurunan pada beberapa saham teknologi berbasis kecerdasan buatan yang sebelumnya melesat tinggi. Awal yang kuat pada musim laporan keuangan kuartal ketiga tampaknya membantu memperbaiki sentimen pasar, bersamaan dengan ekspektasi investor terhadap kemungkinan penurunan suku bunga sebesar seperempat poin oleh Federal Reserve pada pertemuan akhir Oktober.
Baca Juga
Pernyataan Trump soal China Tenangkan Pasar AS, Dow Melonjak Hampir 250 Poin
Tiga indeks utama AS bergerak lebih tinggi pada Jumat setelah Trump tampak optimistis tentang potensi kesepakatan dagang dengan China menjelang pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping akhir bulan ini di Korea Selatan.
Menteri Keuangan Scott Bessent juga mengatakan pada Jumat bahwa ia merasa “ketegangan dengan China telah mereda” dan kemungkinan besar akan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, dalam pekan mendatang. Komentar tersebut memberi sinyal kepada pelaku pasar bahwa ancaman Trump untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 100% pada impor dari China mulai 1 November mungkin tidak akan terealisasi.
Indeks Volatilitas Cboe S&P 500 sempat melonjak di atas 28 pada Jumat sebelum turun kembali ke bawah 21 seiring penguatan harga saham.
“Terlepas dari rebound moderat saham AS pada Jumat, aset berisiko mencerminkan meningkatnya ketidakpastian geopolitik — terutama terkait hubungan AS dan China,” tulis Katie Nixon, Chief Investment Officer di Northern Trust, dalam catatannya kepada klien, seperti dikutip CNBC. Nixon menambahkan bahwa “perselisihan ini menimbulkan risiko ekonomi yang signifikan bagi kedua pihak, sehingga taruhannya sangat tinggi untuk mencapai kompromi yang dapat diterima bersama.”
Investor pekan lalu juga berupaya mengabaikan kekhawatiran atas risiko kredit yang memicu aksi jual besar pada Kamis. Pasar panik setelah Zions dan Western Alliance melaporkan masalah terkait kredit bermasalah, yang menyebabkan saham beberapa bank besar dan bank regional jatuh sebelum akhirnya pulih pada Jumat.
Secara terpisah, investor terus memantau penutupan sebagian pemerintahan AS, yang telah memasuki minggu keempat karena Demokrat dan Republik masih berselisih mengenai subsidi layanan kesehatan federal.
Pekan ini, beberapa perusahaan besar (mega-corp) dijadwalkan melaporkan hasil kuartalannya, termasuk Netflix, Coca-Cola, Tesla, dan Intel. Indeks harga konsumen (CPI) untuk September juga akan dirilis pada Jumat dan diperkirakan menunjukkan inflasi yang masih tinggi. Para pelaku pasar akan sangat memperhatikan laporan ini, mengingat masih berlangsungnya penghentian aktivitas data pemerintah akibat penutupan tersebut.
“Investor sejauh ini tampak tidak terlalu khawatir, tetapi banyak ekonom mulai mengingatkan bahwa penutupan pemerintahan yang berkepanjangan dapat berdampak pada pertumbuhan PDB kuartalan. Namun, sebagian besar mengakui bahwa perlambatan ini bersifat sementara dan kemungkinan akan diikuti dengan periode pemulihan.” urai Nixon.

