Presiden Turkiye Erdogan Isyaratkan akan Tinggalkan Jabatan pada Akhir Maret
JAKARTA, Investortrust.id - Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan pada hari Jumat (8/3/2024) mengatakan bahwa pemilihan lokal bulan Maret yang digelar negaranya akan menjadi hari terakhir baginya sebagai pemimpin Turkiye. Dilaporkan Agence France-Presse, pernyataan ini menjadi isyarat verbal bahwa Erdogan akan mengakhiri kiprahnya sebagai pemimpin setelah berkuasa lebih dari dua dekade.
Apa yang disampaikan Erdogan merupakan kali pertama ia berbicara soal melepaskan jabatan sebagai orang nomor satu di negara bekas pusat Kesultanan Utsmani tersebut.
"Dengan wewenang yang diberikan oleh hukum kepada saya, pemilihan ini adalah yang terakhir bagi saya."
Pemimpin berusia 70 tahun itu menyatakan keyakinannya bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) akan tetap berkuasa bahkan setelah dia meninggalkan jabatan. Dia mengatakan hasil pemilihan lokal pada 31 Maret mendatang akan "menjadi berkah bagi saudara-saudara yang datang setelah saya. Akan ada transfer kepercayaan."
Partai AKP sendiri berharap bisa mendapatkan kembali jabatan walikota İstanbul dalam pemilihan bulan ini, setelah sempat direbut oleh oposisi pada tahun 2019. Erdoğan pernah menjabat sebagai walikota İstanbul dari tahun 1994 hingga 1998.
Baca Juga
Menteri KKP Trenggono Bidik Turkiye Investasi Budi Daya Tuna di RI
Dia kemudian terpilih sebagai perdana menteri pada tahun 2003 ketika posisi perdana menteri dikuasai oleh tokoh dominan dalam politik. Situasi berubah ketika Erdoğan terpilih sebagai presiden pada tahun 2014, setelah menghabiskan tiga kali masa jabatan sebagai perdana menteri.
Perubahan konstitusi pada tahun 2017 kemudian mengubah Turki dari sistem parlementer menjadi sistem presidensial, dan menghapuskan jabatan perdana menteri. Kondisi demikian membuatnya tetap memiliki cengkeraman yang kuat pada pemerintahan.
Keberhasilan pemilihan pada tahun 2018 dan tahun lalu pun menegaskan pemerintahan Erdoğan tetap berkuasa hingga ke dekade ketiga.
Namun demikian apa yang disampaikan Erdogan mengundang cibiran sejumlah tokoh hak asasi manusia setempat. "Jangan percaya," cuit aktivis HAM Ercan Özcan di X, sebelumnya Twitter.
"Kami tahu dia berusaha memodifikasi konstitusi untuk memastikan dia terpilih lagi, dan lagi."
Erdoğan telah membangun reputasi sebagai pemimpin yang tidak terkalahkan sejak AKP-nya berkuasa pada tahun 2002. Namun, popularitasnya sedikit merosot dalam beberapa tahun terakhir. Kandidat dari partainya untuk jabatan walikota di İstanbul yang menjadi pusat ekonomi negara tersebut, serta ibu kota Ankara, kalah pada tahun 2019.
Dan pada Mei lalu dalam pemilihan presiden, ia dihadapkan pada putaran kedua untuk pertama kalinya.
