Setara Pidato Churcill di Depan Parlemen Inggris, Pidato Prabowo Melawan Kezaliman, Ketidakadilan dan Perubahan Iklim
Jakarta, investrotrust.id – Pada tahun 1940, Perdana Menteri Inggris, Winston Leonard Spencer Churcill yang baru saja menggantikan Neville Chamberlain, menyampaikan pidatonya yang terkenal dengan judul "We shall fight on the beaches". Pidato itu mengajak seluruh warga Inggris untuk melawan tirani Nazi Jerman dan kekuatan militer Wehrmacht yang telah melumat Prancis, Polandia, Luksemburg, Belgia dan Belanda pada awal Perang Dunia Kedua.
Churcill dengan penuh semangat dan suara yang lantang bergetar seperti digambarkan oleh aktor kawakan Gary Oldman dalam film Darkest Hour menyerukan saudara sebangsa dan setanah airnya untuk mempertahankan Kerajaan Inggris dari potensi invasi Nazi Jerman dengan berbagai cara dan harga yang diperlukan.
Delapan puluh lima tahun kemudian, dengan suara yang lebih lantang, dengan tujuan yang lebih besar, seorang pemimpin dari negara di katulistiwa, Indonesia, Presiden Prabowo Subianto, juga seperti Churcill, –memiliki latar belakang bangsawan, terdidik dan menjalani karir militer yang cukup gemilang, menyuarakan warga dunia untuk melawan ketidakadilan, kezaliman, untuk bersama-sama hidup berdampingan dalam damai dan juga bersama-sama melawan musuh yang mengancam bumi dan manusia, perubahan iklim.
Kita Tidak Boleh Menyerah
Dalam pidatonya di General Assembly, Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa yang ke-80 di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025), Prabowo Subianto menggunakan setidaknya dua kali kalimat "Kita tidak boleh menyerah".
"Ibu Presiden, para Yang Mulia, Dunia kita digerakkan oleh konflik, ketidakadilan, dan ketidakpastian yang semakin dalam. Setiap hari kita menyaksikan penderitaan, genosida, dan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional serta martabat manusia.
Dalam menghadapi tantangan ini, kita tidak boleh menyerah. Seperti dikatakan Sekretaris Jenderal PBB: “kita tidak boleh menyerah.” Kita tidak boleh melepaskan harapan atau cita-cita kita. Kita harus semakin mendekat, bukan menjauh. Bersama-sama kita harus berjuang mewujudkan harapan dan impian kita.
PBB lahir dari abu Perang Dunia II yang merenggut puluhan juta jiwa. PBB didirikan untuk mengamankan perdamaian, keadilan, dan kebebasan bagi semua. Indonesia tetap berkomitmen pada internasionalisme, multilateralisme, dan segala upaya memperkuat lembaga agung ini."
Dalam pidato Churcill yang terkenal itu, satu kata yang menjadi icon keseluruhan pidato adalah "We Shall Never Surrender", penekanan yang sama juga dilakukan Prabowo Subianto pada kalimat "kita tidak boleh menyerah".
Dalam pidatonya tersebut, Prabowo Subianto menyerukan kepada dunia untuk melawan perubahan iklim dan menyajikan apa yang telah dilakukan Indonesia karena sebagai negara kepulauan, Indonesia akan sangat terdampak akibat perubahan iklim dengan kenaikan permukaan air laut yang mengancam wilayah pesisir pulau-pulau di Indonesia.
"Sebagai negara kepulauan terbesar, kami merasakan langsung dampak perubahan iklim, khususnya ancaman naiknya permukaan laut. Di pesisir utara ibu kota, permukaan laut naik 5 cm setiap tahun. Bayangkan sepuluh tahun lagi? Dua puluh tahun lagi? Untuk itu kami membangun tanggul laut raksasa sepanjang 480 km. Mungkin butuh 20 tahun, tetapi kami tidak punya pilihan selain memulai sekarang. Kami memilih melawan perubahan iklim bukan dengan slogan, tetapi dengan langkah nyata."
Serukan Perdamaian Meski Microfon Mati
Ia juga menyinggung dua bangsa yang selama ini terlibat dalam konflik berkepanjangan dan mengakibatkan penderitaan bagi rakyat dari kedua belah pihak, yakni Israel dan Palestina.
Sehari sebelumnya, Prabowo Subianto telah menyerukan dua negara Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan secara damai pada KTT Solusi Dua Negara mengenai Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Senin, (22/9/2025).
Pidato Prabowo pada KTT Solusi Dua Negara tersebut telah melewati batas dan microphone otomatis mati, namun saking bersemangat, Prabowo tetap meneruskan pidatonya dengan suara lantang. Hal ini dibenarkan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dalam media briefing setelah pidato Prabowo di KTT Solusi Dua Negara, PBB di New York.
“Saya kira intinya semua sudah disampaikan,” ujar Sugiono dalam pengarahan media di PTRI New York, Amerika Serikat, pada Senin (22/9), dikutip Antara. Sugiono menjelaskan bahwa setiap kepala negara yang berpidato diberi waktu lima menit, dan mikrofon otomatis akan dimatikan setelah alokasi waktu habis. Tak hanya Prabowo, rekannya dari Turkiye, Presiden Recep Tayyip Erdogan juga mengalami hal yang sama dalam pidatonya.
Menurutnya, aturan pembatasan waktu berlaku untuk semua negara tanpa terkecuali, kecuali untuk Prancis yang mendapatkan waktu lebih lama pada sesi pembukaan. "Tidak ada perlakuan berbeda terhadap Indonesia," kata Sugiono.
Seruan bagi Israel dan Palestina kembali diulang oleh Prabowo dalam pidatonya di depan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa yang ke-80.
"Ibu Presiden, para Yang Mulia, hari ini, di Gaza, tragedi kemanusiaan sedang berlangsung. Saat kita duduk di sini, jutaan orang menghadapi trauma, kelaparan, dan kematian.
Apakah kita bisa diam? Akankah tidak ada jawaban bagi jeritan mereka?
Kita harus bertindak sekarang. Kita harus membangun tatanan multilateral di mana perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bukan hak istimewa segelintir orang, tetapi hak semua.
Untuk itu, saya menegaskan kembali dukungan penuh Indonesia pada Solusi Dua Negara di Palestina: kita harus memiliki Palestina yang merdeka, dan sekaligus menjamin keamanan Israel.
Hanya dengan itu kita bisa mewujudkan perdamaian sejati: perdamaian tanpa kebencian, tanpa kecurigaan.
Kedua bangsa keturunan Abraham harus hidup dalam rekonsiliasi dan harmoni. Arab, Yahudi, Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, semua umat beragama — harus hidup sebagai satu keluarga manusia. Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi ini."
Rekor Terbaik dan Standing Ovation
Urutan pidato yang dialokasikan untuk pidato Presiden Prabowo mencatatkan rekor sejarah tersendiri. Prabowo Subianto menjadi satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang mendapatkan urutan satu digit, yakni berada di urutan nomor tiga setelah pidato Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Posisi nomor tiga adalah posisi paling awal dan paling bergengsi yang pernah diraih Indonesia di forum Sidang Majelis Umum PBB.
Presiden Soekarno pernah berpidato di urutan ke-46, Presiden Soeharto di urutan ke-61, dan Presiden Megawati Soekarnoputri di urutan ke-17. Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat tiga kali berpidato dengan urutan 20, 21, dan 16, dan Presiden Joko Widodo dua kali hadir secara daring di urutan ke-16.
Dalam pidato bersejarahnya itu, Prabowo Subianto mendapatkan delapan kali tepuk tangan, termasuk standing ovation, dari hadirin yang mewakili seluruh negara-negara anggota PBB.
Seperti dikutip dari Antara, Rabu (24/9/2025), pidatonya yang menekankan pesan perdamaian, solidaritas, dan komitmen Indonesia terhadap isu-isu global itu menuai apresiasi dari para pemimpin dunia dan delegasi yang hadir. Aplaus pertama terdengar ketika Prabowo mengutip pemikiran klasik Thucydides dan menegaskan pentingnya keadilan bagi semua bangsa.
"Thucydides pernah memperingatkan 'yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung'. Kita harus berdiri untuk semua, baik yang kuat maupun yang lemah. Kekuatan tidak bisa dijadikan kebenaran. Kebenaranlah yang harus menjadi kebenaran," tutur Prabowo.
Tepuk tangan kedua muncul ketika presiden RI ke-8 ini menyatakan kesiapan dan kesanggupan Indonesia untuk mengirim ribuan pasukan penjaga perdamaian ke berbagai wilayah konflik.
"Jika dan ketika Dewan Keamanan dan Majelis ini memutuskan, Indonesia siap mengerahkan 20 ribu atau bahkan lebih putra-putri bangsa kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, di mana pun perdamaian perlu ditegakkan dan dijaga," tegasnya.
Aplaus ketiga spontan terdengar ketika Prabowo menyerukan pesan optimisme yang berlandaskan tindakan nyata dan pelaksanaan terhadap perubahan iklim. Disusul kemudian, aplaus keempat pada saat Prabowo menyinggung tekanan terhadap bumi akibat populasi yang terus meningkat.
Tidak lama kemudian ketika Prabowo membahas tentang kekuatan solidaritas menghadapi penindasan, Prabowo ia kembali mendapat tepuk tangan yang kelima.
"Kita mungkin lemah secara individu, tetapi rasa tertindas, rasa ketidakadilan, telah terbukti dalam sejarah umat manusia menyatu menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu mengatasi penindasan dan ketidakadilan," jelasnya.
Aplaus keenam lebih meriah saat Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang konsisten mendukung solusi dua negara. Lalu, ketika Prabowo menekankan perdamaian sejati hanya terwujud jika hak semua pihak dijamin, tepuk tangan ketujuh bergemuruh.
Prabowo menutup pidatonya dengan ajakan untuk melanjutkan perjalanan kemanusiaan yang telah dirintis para pendiri bangsa. Pidato penutup ini membuat para delegasi di ruang sidang tepuk tangan berdiri (standing ovation).
"Mari kita bekerja menuju tujuan mulia ini. Mari kita lanjutkan perjalanan harapan umat manusia, sebuah perjalanan yang dimulai oleh para pendahulu kita, sebuah perjalanan yang harus kita selesaikan. Terima kasih," pungkas Prabowo.
Dengan pidatonya ini, Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia, keadilan, kesetaraan bagi seluruh umat manusia serta solusi konkret atas tantangan global mulai dari perubahan iklim hingga krisis kemanusiaan di Palestina.

