Wall Street Cetak Rekor Berjamaah, Investor Abaikan Kelemahan Ekonomi AS
Poin Penting
- S&P 500 naik 0,27% ke 6.512,61, Nasdaq +0,37% ke 21.879,49, Dow Jones +196 poin
- Lonjakan saham UnitedHealth dorong Dow, sementara Nvidia terus topang Nasdaq
- Investor abaikan revisi data pekerjaan terbesar sejak 2002
- Pasar menanti rilis data PPI Rabu dan CPI Kamis untuk arah kebijakan Fed
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (10/9/2025). Ketiga indeks utama ditutup dengan rekor baru, meski data tenaga kerja kembali memperlihatkan pelemahan signifikan. Indeks S&P 500 menguat 0,27% ke 6.512,61, Nasdaq Composite naik 0,37% ke 21.879,49, dan Dow Jones menambahkan 196 poin ke 45.711,34 berkat lonjakan UnitedHealth.
Baca Juga
BLS Revisi Besar-besaran Data Ketenagakerjaan AS, Tekanan Pemangkasan Suku Bunga Makin Kuat
Kekhawatiran investor bahwa ekonomi mungkin tidak sekuat perkiraan semakin besar pada Selasa setelah BLS memperbarui data pekerjaan 12 bulan hingga Maret, menurunkan total pertumbuhan payroll sebesar 911.000. Revisi itu tidak hanya berada di ujung atas perkiraan Wall Street, tetapi juga terbesar sejak 2002.
“Saya pikir ekonomi sedang melemah. Apakah menuju resesi atau sekadar melemah, saya tidak tahu,” kata CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon kepada CNBC usai laporan tersebut.
Meski data itu berdampak minim pada saham karena terkait angka enam bulan lalu, laporan tersebut bisa memperkuat seruan agar The Fed lebih agresif memangkas suku bunga tahun ini.
“Gambaran pekerjaan terus memburuk dan meskipun itu seharusnya memudahkan The Fed memangkas suku bunga musim gugur ini, hal itu juga bisa menghambat reli terbaru,” ujar Chris Zaccarelli, CIO Northlight Asset Management.
Wall Street sebelumnya mencatat sesi positif, dengan saham raksasa chip Broadcom dan Nvidia membantu Nasdaq menyentuh rekor. Namun pada sesi Selasa, saham Broadcom berbalik arah, turun lebih dari 2% setelah reli dua hari sebelumnya. Kenaikan seminggu terakhirnya mendekati 13%.
Baca Juga
Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Nasdaq Melesat Tembus Rekor Baru
Investor kini bersiap menghadapi dua laporan inflasi kunci yang dapat menentukan langkah The Fed pada pertemuan minggu depan. Pekan lalu, laporan pekerjaan yang lemah meningkatkan harapan jalur suku bunga lebih rendah, tetapi kekuatan inflasi yang mengejutkan bisa menggagalkan ekspektasi tersebut. Data indeks harga produsen Agustus dijadwalkan keluar Rabu pagi, sementara indeks harga konsumen akan dirilis Kamis.
“Jika CPI pada Kamis menunjukkan tren inflasi memburuk, maka pasar akan mulai khawatir tentang stagflasi, Pasar bullish sangat tangguh tahun ini, tetapi kita bisa mendekati titik balik di mana itu akan diuji kembali,” kata Zaccarelli.

